
Gadis muda dengan hati yang di penuhi amarah memasukan sesuatu ke dalam tasnya dengan sangat kasar.
"Jangan nak" seorang wanita paruh baya berusaha menghentikan anaknya.
Gadis muda itu menatap sang ibu dengan tatapan mata penuh amarah di dalamnya.
Dia tak mendengarkan apa yang ibunya perintahkan, gadis muda itu melangkahkan kakinya.
"Berhenti Gladis" teriak sang ayah.
"Sadar Gladis, dia itu tidak di takdirkan untuk mu, ketahuilah nak jika jodoh itu tidak akan hilang ataupun tertukar, semuanya sudah menjadi ketetapan dari sang ilahi" kata Bu Gendis.
"Aku bersamanya sudah lama ibu, aku menemaninya dari nol tapi pada akhirnya dia malah melakukan ini semua pada ku, aku sakit hati ibu, aku terluka" jawab dokter Gladis dengan setetes air yang tiba-tiba jatuh.
"Kami mengerti jika kamu terluka mengetahui kebenaran ini tapi jangan ah kamu melakukan hal yang tidak-tidak kepadanya" kata pak Suparto.
"Tidakkk, kalian tidak mengerti apa yang Gladis rasakan saat ini, jika kalian mengerti kalian akan mendukung Gladis, tapi ini apa kalian malah berusaha untuk menghentikan Gladis" kata dokter Gladis dengan nada keras, emosi telah menyatu di dalam dirinya.
"Nak sadar nak, jangan menuruti emosi yang tengah meledak-ledak jika kamu tidak ingin merasakan penyesalan yang sesungguhnya" kata Bu Gendis dengan menggoyangkan tubuh dokter Gladis.
Dokter Gladis mendorong tubuh sang ibu hingga terjatuh ke lantai.
Bu Gendis meringkuk di bawah.
Plakk!
Tamparan keras mendekat di pipi mulus dokter Gladis.
"Kami mengerti jika kamu terluka dengan segalanya, kami tau kamu sakit saat mengetahui kebenaran yang telah di sembunyikan bertahun-tahun olehnya" kata Suparto.
Dokter Gladis memegang pipinya yang memanas.
Sorot mata dokter Gladis di penuhi amarah di dalamnya.
Dokter Gladis mengambil suntikan dari dalam tasnya, dokter Gladis juga mengeluarkan cairan bening yang terbungkus rapi dalam botol kaca kecil.
Dokter Gladis memasukkan cairan bening itu ke dalam suntikan, dengan tatapan mata yang di penuhi amarah, dokter Gladis berjalan mendekati sang ayah, dia tidak terima saat sang ayah menamparnya.
Pak Suparto mundur selangkah demi selangkah.
"Jangan mendekat, berhenti Gladis" tintah pak Suparto gemetaran.
Dokter Gladis tidak berhenti, dia masih terus mendekati pak Suparto.
Pak Suparto panas dingin kala tau tubuhnya kini mentok ke dinding.
"Gawat" batin pak Suparto tergang.
Dokter Gladis mendekati pak Suparto yang menelan ludah pahit.
"Jangan" kata terakhir Suparto sebelum tidak sadarkan diri.
Bu Gendis berusaha melarikan diri dari anaknya yang sudah berubah menjadi monster mengerikan.
Bu Gendis menuruni anak tangga dengan kepanikan yang menyerangnya.
"Mati juga dia" kata dokter Gladis.
Dokter Gladis melihat ke sebelah kiri namun suda tidak ada apapun.
"Kemana ibu, kenapa dia tidak ada di sini, sial aku harus segera menemukannya" kata dokter Gladis lalu keluar dari dalam kamar.
Dokter Gladis melihat Bu Gendis yang berusaha membuka pintu.
"Berhenti" teriak dokter Gladis yang terdengar menggema di rumah ini.
"Ayo pintu, cepatlah terbuka" batin Bu Gendis di serang rasa panik
Keringat-keringat bercucuran membasahi tubuh Bu Gendis.
"Akkkkh" pekik Bu Gendis saat dokter Gladis berhasil mengambil kunci dan membuangnya.
Dokter Gladis mendekati sang ibu yang mundur perlahan-lahan.
Wajah bu Gendis semakin memucat saat melihat tatapan mata sang anak yang seperti monster mengerikan yang akan menerkamnya.
"Tolong" teriakan bu Gendis sebelum tidak sadarkan diri.
Di mulut bu Gendis terlihat sebuah busa yang mengalir dari ujung bibirnya.
"Hal ini tidak akan terjadi jika kalian tidak berusaha menghentikan ku, andai saja kalian mendukung ku, maka kalian masih bisa melihat indahnya dunia hari esok, tapi kalian malah mencegah ku dan aku tidak akan membiarkan kalian menghalangi ku walaupun kalian adalah orang tua yang sudah melahirkan dan membesarkan ku selama ini" kata dokter Gladis.
Dokter Gladis berlalu dari hadapan orang tuanya yang tergeletak tidak sadarkan diri.
Dokter Gladis memasuki mobil berwarna putih miliknya, dia mengendari mobil dengan kecepatan tinggi untuk segera sampai ke tempat tujuan.
Dengan amarah yang semakin menjadi-jadi dokter Gladis menancap gas meninggalkan rumahnya.
Sepanjang perjalanan dokter Gladis mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi, dia tidak memikirkan jika tindakanya bisa membahayakan dirinya dan juga orang lain di sekitarnya.
"Akan aku pastikan jika kau juga akan merasakan apa yang kedua orang tua ku rasakan, aku sudah tidak peduli lagi dengan mu walaupun kamu juga manusia yang berhak hidup, tapi ketahuilah aku tidak akan melakukan ini jika kamu tidak memulainya" batin dokter Gladis yang kemarahannya sudah berada di atas ubun-ubun.
"Hai sayang, sebentar lagi kamu akan melihat indahnya dunia hanya tinggal beberapa minggu lagi kamu bisa melihat wajah ayah dan ibu, ibu udah gak sabar deh gendong tubuh mungil kamu" kata seorang wanita yang sedang mengelus-elus perutnya yang membesar di dalam kamarnya.
Mobil berwarna putih itu berhenti tepat di depan rumah yang terbuat dari kayu yang terletak di perdesaan.
Dokter Gladis keluar dari dalam mobil, tanpa mengucapkan salam dokter Gladis menendang pintu yang terbuat dari kayu hingga roboh lalu dia masuk ke dalam rumah kayu.
Di dalam wanita hamil itu terkejut mendengar suara keras dari luar.
"Allahu Akbar" kaget wanita itu yang sedang menjahit baju untuk menyambut kelahiran sang buah hati yang hanya tinggal menghitung hari.
"Siapa yang berada di luar" kata wanita itu penasaran.
"Hei pelakor keluar kau" teriak dokter Gladis yang terdengar dengan jelas di seisi rumah kayu ini.
Wanita hamil itu mengehentikan aktivitasnya, dia lalu berjalan membuka pintu kamarnya dan berjalan keluar.
"Maaf mbk siapa?" tanya wanita itu.
Dokter Gladis tersenyum menyeringai.
"Sudah sebesar ini ternyata" kata dokter Gladis dengan senyuman mengejek terukir di wajahnya kala melihat wanita yang berpakaian busana muslim berwarna putih di depannya.
Wanita itu risih dengan tatapan mata dokter Gladis yang terus saja memperhatikan perut besarnya.
"Maaf mbk siapa?"tanya mbk Ningsih mengulangi pertanyaannya.
Dokter Gladis tersenyum sinis.
"Perkenalkan nama saya Gladis kekasih Rafi suami kamu sendiri" kata dokter Gladis dengan mengulurkan tangannya.
Mbk Ningsih begitu terkejut kala mendengar hal tersebut.
"Enggak, gak mungkin mas Rafi selingkuh, mungkin mbk ini salah orang, aku tidak percaya hal itu, ingat Ningsih kamu jangan percaya gitu aja pada orang asing yang tiba-tiba mengatakan jika dia adalah pacar dari suami mu, jangan pernah oke" batin mbk Ningsih membantah hal tersebut.
"Gak mungkin maaf Rafi selingkuhin saya, dalam keadaan saya yang saat ini sedang mengandung buah hatinya" bantah mbk Ningsih yang tidak mempercayai sama sekali ucapan dokter Gladis.