The Indigo Twins

The Indigo Twins
Terkejut



"Udah gak usah di ladenin, gak guna juga, ayo kita pergi dari sini" ajak ku berusaha menenangkan Angkasa.


Angkasa mengangguk lalu kembali berjalan.


"Awas aja kalian, aku berjanji tidak akan pernah bantu kalian walaupun kalian hampir mati sekalian" batin Angkasa yang sudah sangat kesal pada mereka.


Kami terus berjalan.


"Sa kita mau nanya sama siapa, waktu kita gak banyak, kita harus cepat-cepat nyelesain tugas ini, baru pindah ke tugas selanjutnya" kata ku.


"Iya aku tau, coba kita nanya sama dia, mungkin aja dia tau" tunjuk Angkasa pada seorang gadis berkacamata yang duduk di kursi panjang dengan membaca buku.


"Boleh, ayo kita langsung nanya sama dia" ajak ku.


Angkasa setuju lalu kami mendekatinya.


"Permisi numpang tanya" kata ku.


Gadis yang bername tag Fida itu mendongak menatap ke arah kami.


"Nanya apa?" tanya Fida.


"Kamu kenal gak sama Andin Sanjaya yang kelas 10 B5 itu?" tanya ku.


"Kenal, emang ada apa ya nanyain Andin?" tanya balik Fida.


"Gak ada apa-apa, cuman kami ingin tau kenapa dia udah lama gak masuk sekolah tanpa keterangan lagi, kamu tau gak dia bolos kenapa?" tanya ku.


"Katanya sih dia itu lagi marah sama papa dan mamanya karena mereka katanya mau cerai, itu alasan kenapa dia gak masuk sekolah akhir-akhir ini" jawab Fida.


"Kamu punya fotonya gak?" tanya Angkasa.


"Ada, sebentar" jawab Fida lalu membuka wa untuk menunjuk foto Andin Sanjaya.


"Ini, ini yang namanya Andin Sanjaya" kata Fida menunjuk foto Andin.


"Beda sa, dia bukan gadis pucat itu" bisik ku di telinga Angkasa.


"Kayaknya Andin Sanjaya ini bukan orang yang kita cari-cari" jawab Angkasa.


"Oh ini, coba kirim ke nomor aku" kata ku.


Fida langsung mengirim foto Andin.


"Udah" jawab Fida.


"Terima kasih, kami permisi maaf mengganggu" kata ku.


"Sama-sama" jawab Fida lalu kembali membaca buku.


Aku dan Angkasa berjalan menjauhinya.


"Andin Sanjaya itu bukan orang yang kita cari-cari" kata Angkasa.


"Iya, beda orang, aku kira dia gadis pucat itu" jawab ku.


"Tinggal satu lagi za, yaitu Lily Andini Fairus kelas 10 D1, semoga saja dia gadis pucat itu" kata Angkasa.


"Ayo kita ke kompleks D" ajak ku.


Angkasa setuju lalu kami berjalan menuju kompleks D.


Setelah berjalan beberapa menit akhirnya kami sampai di kompleks D.


"Itu kelas 10 D1, ayo kita langsung ke sana" tunjuk Angkasa ke arah kelas itu.


Aku mengangguk lalu kembali berjalan mendekati kelas 10 D1.


Angkasa masuk ke dalam kelas itu, tiba-tiba ia menghentikan langkahnya.


"Ayo masuk" ajak Angkasa pada ku yang masih diam di tempat.


"Kamu aja, aku takut di usir lagi" jawab ku.


Angkasa menghembuskan napas.


"Ya udah, aku yang nanya, kamu diam di sana, jangan kemana-mana" kata Angkasa.


Aku mengangguk mengerti.


Angkasa kembali melanjutkan langkahnya.


"Permisi apa ini kelasnya Lily Andini Fairus?" tanya Angkasa.


"Iya benar, ada apa nyariin Lily?" tanya Sasa.


"Oh jadi namanya Lily" batin Angkasa.


"Enggak, Lily itu katanya udah lama gak masuk sekolah ya" jawab Angkasa.


"Iya, dia udah lama gak masuk sekolah" kata Dea.


"Kalian tau gak di gak sekolah kenapa?" tanya Angkasa.


"Dia itu udah meninggal" jawab Sasa.


"Iya, dia udah meninggal" jawab Dea.


"Kok bisa meninggal, meninggal kenapa emangnya?" tanya Angkasa.


"Di bunuh sama musuh papanya, mangkanya dia bisa meninggal" jawab Sasa.


"Oh gitu, kalian tau gak di mana rumahnya?" tanya Angkasa.


"Di jalan Cempaka nomor 7" jawab Dea.


"Oh terima kasih" kata Angkasa.


"Sama-sama" jawab mereka.


Angkasa bergegas keluar dari dalam kelas itu.


"Gimana, apa yang kamu dapatin?" tanya ku yang penasaran.


"Ternyata Lily Andini Fairus itu udah meninggal" jawab Angkasa.


"Jadi Lily Andini Fairus gadis pucat itu" kata ku.


"Gak tau juga" jawab Angkasa.


"Kok gak tau sih, kamu dengarnya gimana tadi, kok bisa gak tau?" tanya ku yang merasa aneh.


"Aku gak bisa jelasin di sini, ayo kita ke taman aja, aku akan jelasin semuanya di sana" jawab Angkasa.


"Baiklah ayo kita ke sana" setuju ku.


Kami berdua berjalan menuju taman.


Alisa dengan langkah lemas berjalan tanpa arah.


"Aku harus nanya tentang Alvia Andini pada siapa, aku tidak punya teman dan kalau aku nanya sama anak-anak di kelas ku aku yakin mereka gak bakal ngeladenin aku" bingung Alisa yang pada siapa ia harus mengumpulkan informasi tentang Alvia Andini.


"Gimana ini, aku harus nanya sama siapa?" tanya Alisa yang tak bersemangat.


Tiba-tiba Alisa melihat seseorang yang sangat familiar.


"Roy, iya dia bisa bantu aku, dia kan banyak temennya, dia pasti bisa bantu aku ngedapatin informasi tentang Alvia Andini" senang Alisa saat melihat Roy yang berdiri di balkon dengan pandangan yang terus tertuju ke bawah.


Alisa berlari mendekati Roy.


"Roy"


Panggil Alisa dari kejauhan.


Roy yang mendengar namanya di panggil langsung melihat dan mendapati Alisa yang mendekatinya.


"Ada apa, kenapa manggil aku?" tanya Roy.


"Roy kamu tau gak anak yang bernama Alvia Andini?" tanya Alisa.


"Alvia Andini, kalau gak salah dia itu anak kelas 10 B6 kan" jawab Roy.


"Iya dia memang anak kelas sebelah, kamu tau gak kemana dia, aku dengar-dengar dia itu udah lama gak masuk sekolah tanpa keterangan, bahkan gak ada yang tau dia pergi kemana" kata Alisa berharap Roy tau dan akan dapat membantunya.


"Aku gak tau alasan kenapa Andin gak masuk, tapi setiap mau pulang sekolah aku selalu bareng dia, kita berpisah di persimpangan jangan karena arah rumah kita yang berbeda" jawab Roy.


"Jadi kamu sama Andin itu temenan?" tanya Alisa agak sedikit terkejut.


"Iya aku temenan sama dia, aku punya nomor wa-nya tapi dia udah lama gak on wa, gak tau pergi kemana, aku chat centang satu sampai sekarang" jawab Roy.


"Kamu tau gak di mana rumahnya Andin itu?" tanya Alisa.


"Iya aku tau, kamu kenapa kok nanyain Andin, emang kamu kenal sama dia?" tanya Roy.


Bukannya menjawab Alisa malah melihat ke kanan dan kirinya yang banyak sekali anak-anak yang mengobrol dan juga lewat di dekatnya.


"Aku gak bisa jawab di sini, pokoknya ada sesuatu yang terjadi sehingga aku nyari tau tentang Andin" jawab Alisa dengan sepelan mungkin.


"Emang ada apaan?" tanya Roy yang merasa sangat penasaran.


"Pokoknya ada, sekarang kamu ikut aku, aku akan jelaskan semuanya pada mu tentang kenapa aku nyari tau tentang Andin" jawab Alisa.


"Ya udah, ayo kita ke kantin aja, kita bahas di sana saja" kata Roy.


"Jangan di kantin" jawab Alisa.


"Emangnya kenapa?" tanya Roy.


"Di kantin itu banyak orang, aku gak mau ada yang tau, karena persoalan ini agak private, mangkanya aku gak bilang sama kamu di sini" jawab Alisa.


"Terus kita mau ke mana dong?" tanya Roy.


"Ke taman aja, kita lebih baik bicara di sana saja" jawab Alisa.


"Ya udah ayo kita ke sana" setuju Roy.


Mereka berdua berjalan menuju taman.