The Indigo Twins

The Indigo Twins
Pasien aneh



Malam yang sudah di tunggu-tunggu kini telah tiba.


"Weh ini waktunya untuk kita beraksi, lihat jam besuk sudah habis dan aku juga lihat di luar juga sudah mulai sepi, ini kesempatan emas untuk kita melancarkan aksi" kata Alisa.


Alisa, Reno dan ayah sudah kami beritahu tentang rencana ini.


"Iya juga kamu sa, Reno sama ayah jaga pintu depan dan belakang takutnya nanti dokter Gladis akan lari lewat salah satu pintu itu" jawab ku.


"Oke itu tugas yang simpel dan mudah untuk ku kerjakan, aku dan Reno akan menjaga pintu belakang aja, ayah biar pintu depan" kata Alisa.


"Ya sudah ayah akan ke pintu depan, kalian hati-hati kalau ada apa-apa langsung hubungi ayah, nanti ayah akan langsung ke sana" jawab ayah.


"Baik ayah, ya udah za aku mau ke pintu belakang dulu, ayo ren kita berjaga di sana" ajak Alisa lalu pergi meninggalkan kami.


Ayah juga pergi ke pintu depan.


"Kita ke mana ini?" tanya Angkasa.


"Kita tunggu aja dokter Gladis di lantai satu, dia kan kata bunda lagi ada di lantai dua, aku yakin nanti setelah pasukan RS ini memulai melancarkan aksinya, pastinya akan terdengarlah suara teriakan dokter Gladis, baru nanti kita keluar" jawab ku.


"Semoga aja rencana malam ini berjalan dengan lancar tanpa adanya hambatan sedikitpun" kata bunda.


"Amin" jawab kami.


Kami keluar dari dalam kamar.


"Kita sembunyi di sini aja" tunjuk ku pada ruangan kosong yang ada di rumah sakit.


"Iya kita tunggu aja sampai para hantu-hantu itu membuat dokter Gladis turun dengan sendirinya, baru kita keluar dari persembunyiannya" jawab Angkasa.


Kami masuk ke dalamnya dan menunggu hal itu terjadi.


Di lantai dua.


Dokter Gladis baru selesai mengecek pasien di kamar no 119 kini hanya tinggal satu kamar lagi baru tugasnya selesai.


tap tap tap


Langkah dokter Gladis yang memecah keheningan malam


"Entah kenapa malam ini begitu dingin dan sepi tidak seperti malam-malam sebelumnya ya, apa ini cuman perasaan aku aja atau gimana" kata dokter Gladis sendiri.


"Bodoh ah yang jelas sekarang aku harus segera menyelesaikan tugas ku, ka.j jangan takut Gladis" kata dokter Gladis.


Dokter Gladis saat ini sudah berada di depan pintu kamar VVIP no 120.


Krieet


Dokter Gladis membuka pintu.


Dokter Gladis masuk ke dalam dan mendekati brankar.


Terlihat seorang pasien yang tertidur dalam posisi terlentang dan seluruh tubuhnya di tutupi oleh selimut berwarna putih polos.


"Permisi Bu, saya ke sini ingin mengecek kondisi ibu" kata dokter Gladis berdiri di samping pasien itu.


Hening, tidak ada tanggapan sama sekali dari pasien.


"Permisi Bu Mega" kata dokter Gladis.


Tak ada jawaban yang keluar.


"Aneh, kenapa tidak ada jawaban, apa Bu Mega lagi tidur ya, tapi masa iya Bu Mega tidur jam segini, perasaan jam masih menunjukkan pukul 8 malam, belum larut banget sih" batin dokter Gladis.


"Apa Bu Mega benaran tidur ya, coba deh aku cek agar rasa penasaran ini tidak meronta-ronta seperti ini" dokter dokter Gladis mencoba untuk membuka selimut yang menutupi tubuh Bu Mega.


"Hahhh" pekik Gladis terkejut.


Dokter Gladis langsung memundurkan tubuhnya karena kaget.


"Ni-ni-ningsih" gagap dokter Gladis tercekat saat melihat wajah seseorang yang di tutupi selimut.


Mbk Ningsih melotot tajam kearah Gladis, dia duduk dari tidurnya.


Dokter Gladis memundurkan tubuhnya, dokter Gladis tak menyangka jika mbk Ningsih orang yang sudah di bunuhnya beberapa tahun yang lalu kini datang menemuinya dengan wajah menyeramkan.


Tubuh dokter Gladis bergetar hebat melihat tatapan mata Ningsih yang sudah siap menerkamnya.


Dokter Gladis menggigit bibir bawahnya dan terus mundur perlahan-lahan.


"Aaauw" ringis dokter Gladis saat tak sengaja tangan kanannya menyentuh pisau yang ada di atas meja.


Darah mengalir dari tangan dokter Gladis.


Mbk Ningsih mendekati dokter Gladis perlahan-lahan.


"PEMBUNUH, kau pembunuh dokter Gladis, kau yang telah membunuh aku dan juga yang lainnya juga, kau harus di tangkap" teriak mbk Ningsih asli.


"Tidaak tidakk, aku bukan pembunuh, aku melakukannya hanya karena kamu yang telah mengambil mas Rafi dari aku" bantah dokter Gladis.


"Sudah ku bilang, aku tidak pernah mengambil mas Rafi dari mu dokter Gladis, tapi kamu saja yang terlalu dendam kepada ku tanpa harus mencari tau apa yang sebenarnya terjadi" kata mbk Ningsih.


"Aku tidak peduli selagi jalan ku benar, aku akan melakukannya meski harus mengorbankan nyawa orang lain di dalamnya" jawab dokter Gladis.


"Kau egois dokter Gladis, kau dokter macam apa yang tega membunuh aku dan juga bayi yang ada dalam kandungan ku" teriak mbk Ningsih.


"Kau itu pantas mati Ningsih, kau tidak akan bisa melawan ku sama sekali, kau wanita lemah" hina dokter Gladis


Tiba-tiba pak Suparto, Bu Gendis, nenek Sun, mbk Nela dan Rio muncul di kamar ini.


Mereka semua memberikan tatapan mata yang paling menyeramkan.


Dokter Gladis menelan ludah.


"Kenapa mereka semua datang, aduh bagaimana ini" batin dokter Gladis.


"PEMBUNUH kau harus mengakui kejahatan mu, kau harus di penjara, aku tidak akan membiarkan mu masih hidup dengan bebas setelah membuat kami menjadi seperti ini" kata mbk Nela dengan mendekati Gladis.


Dokter Gladis terus saja mundur.


"PEMBUNUH kau harus mendapatkan hukuman, aku tidak terima kau menghabisi cucu ku" teriak nenek Sun.


Mereka semua mendekati dokter Gladis dengan mata melotot tajam.


"Pembunuh! pembunuh! pembunuh!" seru mereka.


"Tidakk, tidakk aku bukan pembunuh, aku menjadi seperti ini juga karena kalian, andai kalian tidak mengusik ketenangan ku, aku juga tidak akan melenyapkan kalian semua" kata dokter Gladis menutup kedua telinganya mendengar hal itu.


"Pembunuh" teriak mereka semua yang ingin membuat dokter Gladis mengakui kejahatannya.


"Tidakk, aku bukan pembunuh" teriak dokter Gladis lalu berlari meninggalkan kamar yang berisikan mereka semua.


Dia sudah tidak tahan dengan perkataan yang mereka lontarkan.


Pembunuh!


Pembunuh!


Pembunuh!


Teriak semua makhluk penghuni rumah sakit ini yang berubah wujud menjadi mbk Ningsih dan yang lainnya.


"Aarrrgggh" teriak dokter Gladis semakin ketakutan saat wajah-wajah di samping kanan dan kirinya berwujud korban-korbannya.


"Kenapa mereka semua menjadi Ningsih dan yang lainnya, oh tidakk matilah aku" batin dokter Gladis ketakutan.


Dokter Gladis terus saja berlari dengan ketegangan, kepanikan dan juga ketakutan yang menyerangnya.


"PEMBUNUH" teriak pasukan penghuni RS.


Pasukan penghuni RS ini berjajar rapi dan terus saja mengatakan 'Pembunuh' saat dokter Gladis lewat.


Dokter Gladis tak mempedulikan mereka yang terus saja mengucapkan kata pembunuh, ia terus saja berlarian di lantai dua.


Brukk


"Auww" ringis dokter Gladis yang tak sengaja menabrak dinding di depannya.


Kening dokter Gladis berdarah, dia tetap saja berlari tanpa tujuan.


Dokter Gladis tidak bisa berlari cepat karena ia memakai heels tinggi yang membuatnya kesusahan untuk berlari.