The Indigo Twins

The Indigo Twins
Gelap



Sekitar 20 menitan ambulance sampai di kediaman Roy.


Tangis duka kembali meriuh yang membuat ku enggan masuk ke dalam rumah Roy.


Aku dan Angkasa duduk di teras rumah Roy, dari sini kami sudah mendengar tangisan dan juga kata-kata tak rela kehilangan Roy yang terus mereka ucapkan.


Aku menatap ke depan yang banyak sekali anggota geng motor Arashka, kak Tias tengah menemui mereka semua.


Aldi melihat Tias yang mendekat."Tias kenapa Roy bisa meninggal?"


"Roy meninggal kecelakaan, tadi malam teman-temannya ngabarin kalau Roy kecelakaan" jawab kak Tias.


"Kok bisa Roy kecelakaan, apa ada orang yang udah nyelakain dia?" Daniel merasa tak wajar pada kejadian ini.


"Roy di tabrak oleh truk, gak cuman Roy aja yang meninggal tapi banyak korban-korban yang tewas dalam kecelakaan dahsyat itu" jawab kak Tias.


Mereka semua diam, mereka ingin marah karena tak terima ketua geng mereka meninggal, namun setelah mendengar jawaban kak Tias mereka pun tak dapat berkutik, karena pastinya bukan merasa saja yang marah tetapi banyak orang yang khususnya keluarga korban yang terlibat dalam kecelakaan maut itu.


"Roy kecelakaan di mana yas?" Dito sangat penasaran sekali pada tempat Roy kecelakaan hingga meninggal dunia.


"Di jalan kenanga" jawab kak Tias.


"Ngapain Roy ke jalan kenanga, kos-kosan Roy kan bukan di sana?" Daniel merasa aneh sebab ia tau jalan kenanga itu bukan jalanan yang biasa di lewati Roy.


"Roy habis pulang dari rumah Andin, Andin meninggal" jawab kak Tias.


"APA MENINGGAL"


Terkejut mereka yang shock berat.


Kak Tias mengangguk."Iya Andin meninggal, kata temen-temennya seharian kemarin Roy ngabisin waktu buat mencari jasad Andin yang di kurung di dalam gudang, ada enam orang yang menjadi tersangka dalam kasus ini, karena hal itu yang membuat Roy hancur sehingga dia bisa kecelakaan"


Mereka semua diam, mereka tau Andin seberarti apa bagi Roy karena setiap hari Roy terus menceritakan tentang Andin dan Andin sampai mereka bosan mendengarnya.


"Pantes aja Roy bisa kecelakaan, jadi ini masalahnya yang bisa buat dia kecelakaan" Daniel masih shock mendengar hal ini.


"Sebentar-sebentar target pelakunya membunuh Andin itu apa sebenarnya, kenapa dia malah bunuh Andin, apa dia gak tau kalau Andin itu pacarnya Roy?" Alvian penasaran sekali pada motif pelaku pembunuh Andin ini.


"Mereka itu cuman kalah saing saja sama Andin, kalian tau Andin kan, dia itu jarang banget bergaul, sukanya menyendiri terus, mereka gunain hal itu buat nindas Andin hingga dengan teganya mereka melakukan kekerasan pada Andin lalu ninggalin Andin gitu aja di dalam gudang sampai berhari-hari" jelas kak Tias.


"Kurang ajar mereka itu, bilang pada ku siapa mereka, aku akan bikin perhitungan pada mereka" Daniel mulai terpancing emosi, ia begitu geram pada pelaku yang sudah menewaskan Andin.


"Kamu gak usah kasih perhitungan sama mereka, pelakunya sekarang udah di amankan, kita gak usah capek-capek ngajar dia" jawab kak Tias.


Percakapan mereka terhenti saat melihat mobil putih yang masuk ke dalam halaman rumah Roy.


Seorang pria yang sebaya dengan ayah keluar dari dalam mobil itu, dia langsung mendekati kak Tias yang berada tak jauh dari dekatnya.


"Tias kenapa di sini banyak orang, ada apa ini, Roy gak apa-apa kan?" khawatir om Firman papa Roy yang baru pulang dari luar kota ketika mendengar kalau Roy kecelakaan.


Kak Tias diam, ia tak tau harus jawab apa, kini ia kembali di hadang pilihan yang berat.


"Tias kenapa kamu diam, jawab pertanyaan om, Roy gak apa-apa kan Tias?" om Firman semakin khawatir campur cemas ketika melihat kak Tias yang tiba-tiba langsung diam.


"Om Roy meninggal" jawab kak Tias dengan nada berat, ia berusaha menahan air mata agar tidak terjatuh.


"Kamu pasti bohong kan Tias?" kak Tias menggeleng, ia sungguh mengatakan hal itu dengan sejujur-jujurnya.


"Aku gak bohong om, Roy memang meninggal dunia" jawab kak Tias.


Om Firman melihat bendera kuning yang terpasang di depan pagar, dengan cepat dia masuk ke dalam rumah untuk melihat kebenarannya.


Betapa terkejutnya om Firman ketika melihat Roy yang terbujur kaku dengan tangisan orang-orang yang berada di sekelilingnya.


"Roy" om Firman tak kuasa menahan tangisnya saat melihat putranya meninggal dunia.


Tangisan kembali mengeras ketika om Firman datang.


Aku yang mendengar suara tangisan itu hanya bisa menangis."Sstt jangan nangis terus, kamu gak boleh nangis terus, nanti kamu sakit za"


"Sa" Angkasa langsung menempelkan jarinya di bibir.


"Udah jangan bicara lagi, kamu gak boleh merasa bersalah terus, ini sudah takdir za gak bisa di rubah, ini semua sudah di rencanakan sama yang di atas, kita hanya bisa berdoa semoga Roy tenang di alam sana, kalau kamu terus nangis gak guna za, gak akan bikin Roy tenang, malahan akan bikin Roy berat buat istirahat dengan tenang di alam sana" aku pun diam, ucapan Angkasa ada benarnya juga.


Reno yang lewat tak sengaja mendengar hal itu.


Kami melihat kebelakang dan mendapati jenazah Roy yang di keluarkan dari dalam rumah.


Kami berdua langsung bangun dari duduk saat Roy akan di mandikan.


Setelah selesai di mandikan Roy di kafani baru setelah itu di sholati sebelum di makamkan.


Aku mendekati Alisa yang masih terus menangis.


"Aliza" aku menenangkan Alisa yang masih belum bisa mengikhlaskan kepergian Roy.


Tangisan semakin terdengar saat jenazah Roy selesai di sholati.


Para geng Arashka kembali mengawal ambulance menuju pemakaman umum.


Sepanjang perjalanan tak ada kemacetan sama sekali karena geng Arashka sudah memastikan kalau jalanan ini tak boleh di lewati agar tak menghambat pemakaman Roy.


Beberapa saat setelah itu kami sampai di pemakaman umum.


Tangisan semakin mengeras saat tubuh Roy di tutupi oleh tanah, di saat tangisan itu terus terdengar tiba-tiba kepala ku terasa sakit, tubuh ku mulai tidak seimbang.


"Ada apa ini, kenapa dengan ku" batin ku dengan memegangi kepala.


Aku berusaha menahan sekuat tenaga rasa sakit itu, namun tak bisa, rasa sakit itu terasa begitu sangat hingga membuat pandangan ku menjadi gelap.


"Gelap, kenapa semuanya gelap" batin ku yang mulai panik.


Aku sudah tak bisa menopang berat tubuh ku sendiri dan-


"Aliza" teriak Angkasa yang dengan cepat menangkap ku sebelum aku terjatuh.


"Aliza kamu kenapa?" panik Reno yang berada tak jauh dari dekat ku.


"Aliza pingsan, aku akan bawa dia ke sana dulu" Reno mengangguk lalu Angkasa membawa ku keluar dari dalam pemakaman umum.