The Indigo Twins

The Indigo Twins
Menikah dengan genderuwo



Bima terus menatap tajam ke arah mbk Indri yang membuat mbk Indri semakin ketakutan, air mata mengalir di pipi mbk Indri, ia sungguh takut sekali pada Bima.


Bima menghapus air mata yang mengalir itu."Jangan nangis, aku tidak akan menyakiti mu, asalkan kamu tidak membuat masalah, Indri besok kita akan menikah, setelah ini kau tidak akan nangis lagi, aku akan memberi kebahagiaan pada mu"


Mbk Indri menatap terkejut ke arah Bima."Menikah, tapi aku sudah di jodohkan dengan mas Ilyas sama papa, mana mungkin aku menikah dengan mu"


"Tidak Indri, kau akan menikah dengan ku, bukan dengan lelaki yang kau sebut tadi, besok kita akan menikah, kamu jangan pergi kemana-mana, tetaplah di sini, mengerti" mbk Indri mengangguk dengan takut.


"Istirahatlah, besok kau tidak akan bisa istirahat" setelah mengatakan hal itu Bima meninggalkan mbk Indri yang masih ketakutan.


Mbk Indri menangis dengan kencang saat Bima keluar dari dalam kamarnya.


"Mama Indri takut, mama tolong Indri, Indri tidak mau di sini, Indri ingin pulang ma" tangis mbk Indri dengan memeluk tubuhnya sendiri.


Sepanjang malam mbk Indri menangis hingga matanya bengkak, kini matahari sudah terbit dan sinarnya masuk ke dalam kamar yang membuat kegelapan di dalam kamar itu hilang.


Krieet


Mbk Indri terkejut saat melihat seorang genderuwo yang masuk ke dalam kamarnya.


"M-mau apa kau?" gagap mbk Indri kembali ketakutan.


Genderuwo itu meletakkan makanan di atas nakas."Makanlah, aku hanya di suruh nganterin makanan ini pada mu"


"Pergi kau dari sini" teriak mbk Indri.


Genderuwo itu mengerti dan keluar dari dalam kamar mbk Indri.


Mbk Indri semakin mengeraskan tangisannya, tubuhnya gemetaran hebat, ia sangat takut sekali pada genderuwo itu.


"Mama tolong Indri, Indri tidak mau menikah dengan genderuwo itu, Indri tidak mau mama" isakan tangis mbk Indri terdengar lirih, ia masih tidak mau berpindah tempat walaupun sedikitpun apalagi menyantap makanan yang sudah genderuwo itu antarkan padanya.


Pintu itu kembali terbuka, dua orang perias masuk ke dalam kamar mbk Indri.


"Cepat mandi dan ganti pakaian mu dengan ini" perias itu memberikan kain jarit dan kebaya putih pada mbk Indri.


Dengan gemetaran mbk Indri mengambilnya lalu masuk ke dalam kamar mandi, ia tidak bisa melawan dua perias itu karena wajah perias itu sangat galak, ia takut sekali perias memarahinya, alhasil ia mau menurutinya.


Mbk Indri keluar dari dalam kamar mandi setelah mengganti pakaiannya dengan pakaian yang sudah di berikan sama perias itu.


"Duduklah di sini" mbk Indri duduk di kursi yang perias itu tunjuk.


Perias itu mulai mendadani mbk Indri, mbk Indri ingin sekali memberontak namun keadaan sedang tidak berpihak padanya, percuma dia memberontak karena itu tidak akan bisa membuatnya kembali ke alam manusia.


Sesekali air mata jatuh di wajah mbk Indri."Jangan nangis, kapan selesainya kalau kamu nangis terus!"


Mbk pun diam, ia berusaha menahan tangisnya, ia ingin berdamai dengan keadaannya, ia sudah pasrah bagaimana kehidupannya di sini nantinya, apakah akan lebih baik atau akan lebih buruk mbk Indri tidak tau.


Setelah 30 menit lamanya kedua perias itu sudah selesai merias wajah mbk Indri.


"Sudah selesai, tunggu di sini, jangan kemana-mana, nanti akan ada orang yang menjemput mu keluar" mbk Indri mengangguk, kedua perias itu keluar dari dalam kamar mbk Indri.


"Hiks hiks hiks"


Mbk Indri menangis, sedari tadi ia menahan air matanya, ia sungguh tak pernah membayangkan akan berada di titik ini di dalam hidupnya.


"Mama tolong Indri, tolong bantu Indri, Indri tidak mau nikah dengan mas Bima" isakan tangis mbk Indri.


"Aku harus cari cara untuk bisa pergi dari sini, aku tidak mau menikah dengan genderuwo dan hidup selamanya di sini, iya aku harus bisa pergi dari sini" tatapan mbk Indri jatuh pada jendela yang berada di sebelah timur.


Dengan cepat mbk Indri mendekati jendela itu, ia berusaha membuka jendela namun sangat susah.


"Kenapa susah sekali" mbk Indri terus berusaha membuka jendela itu namun tak bisa.


"Arrrrgghh" teriak mbk Indri yang kesal.


"Bagaimana caranya aku bisa keluar dari sini jika jendela ini saja tidak bisa ku buka, aku tidak mau menikah dengan genderuwo, siapapun tolong aku" mbk Indri berusaha membuka jendela itu dengan cara memukulnya, ia juga melambai-lambaikan tangan berharap ada orang yang mau membantunya.


Pintu terbuka, mata mbk Indri terbelalak saat melihat mbah Brahma yang masuk ke dalam kamarnya.


Mbk Indri langsung memundurkan tubuh untuk menjauh dari mbah Brahma.


Mbah Brahma hanya berdiri di ambang pintu, ia tidak mendekati mbk Indri sama sekali.


"Aku tidak ingin apa-apa, aku hanya datang untuk meriksa apakah calon istri cucu ku sudah selesai di rias atau tidak"


"Aku tidak ingin menikah dengannya, aku tidak ingin menikah, aku tidak ingin menikah dengan genderuwo" teriak mbk Indri.


Mbah Brahma tersenyum sinis."Kau tidak boleh menolak, ini sudah menjadi keputusan ayah mu, dia yang sudah memberikan mu pada ku, kau harus patuhi apa yang aku perintahkan, jangan pernah sesekali kau berniat kabur dari sini jika kau tidak mau ayah mu yang akan mengganggunya" tegas mbah Brahma dengan tatapan maut lalu kembali menutup pintu kamar mbk Indri.


Mbk Indri terduduk di bawah dengan air mata yang terus mengalir.


"Hiks hiks hiks hiks" tangis mbk Indri yang merasa hidupnya hancur lebur.


"Mama, mama di mana, tolong Indri ma, Indri tidak mau di sini, Indri ingin pulang, Indri tidak mau menikah dengan genderuwo, mama tolong Indri" tangis mbk Indri dengan memeluk tubuhnya sendiri.


Craangg!


Tiba-tiba kaca jendela yang berada di sebelah timur itu pecah berkeping-keping dan berhasil membuat mbk Indri terkejut.


Seorang genderuwo langsung masuk ke dalam kamar mbk Indri dan mendekati jendela yang pecah itu.


"Siapa di sana?" genderuwo itu melihat ke arah belakang rumah yang kosong, tidak ada siapapun yang ia temukan.


"Gak ada siapa-siapa di sini, kenapa jendela ini bisa pecah, siapa yang sudah berani mecahinnya?" kingkong itu masih mencari-cari pelakunya namun tetap saja tidak ia temukan.


Kingkong itu kemudian meninggalkan jendela saat tidak menemukan siapa-siapa.


"Jangan pergi kemana-mana, tetaplah di sini, sebentar lagi acara pernikahan akan di mulai" perintah genderuwo itu yang di balas anggukan oleh mbk Indri.


Genderuwo itu keluar dari dalam kamar meninggalkan mbk Indri yang terus menangis dengan memeluk tubuhnya sendiri.


Mbk Indri yang menangis dengan memeluk tubuhnya sendiri itu mendongak menatap ke arah jendela setelah merasa ada seseorang yang melihatnya.


Mbk Indri langsung mendekati jendela.


"T-tolong, tolong aku, aku ingin pergi dari sini, tolong bawa aku pergi, aku tidak mau nikah sama makhluk halus, aku tidak mau" titah mbk Indri dengan air mata yang terus mengalir.


"Kakak siapa, kenapa berada di sini, apa kakak sama seperti penduduk di desa ini?"


Mbk Indri menggeleng cepat."Tidak, aku tidak sama seperti mereka, aku manusia aku bukan makhluk halus, tolong bawa aku pergi dari sini, aku mohon pada kalian"


Aku melirik ke arah Angkasa untuk meminta pendapatnya.


"Kita akan bawa mbk pergi dari sini, tapi katakan kenapa mbk bisa ada di sini?" penasaran Angkasa.


Mbk Indri hendak mengatakan segalanya namun tiba-tiba gagang pintu bergerak.


"Cepat sembunyi" suruh mbk Indri.


Dengan cepat kami bersembunyi di balik semak-semak itu.


Mbk Indri melihat makhluk berbulu hitam yang masuk ke dalam kamarnya.


"Ayo ke depan, sudah waktunya kamu keluar" ajak kingkong dengan nada dingin dan wajah menakutkan.


Dengan terpaksa mbk Indri berjalan keluar dari dalam kamar, ia terpaksa keluar karena tak mau kingkong itu memeriksa jendela karena kami pasti akan ketahuan.


"Semoga mereka tidak ketahuan" batin mbk Indri.


Mbk Indri di antar ke pelaminan yang di sana sudah ada Bima, calon suami gaibnya.


"Senyumanlah, jangan tunjukkan wajah sedih mu di depan mereka" bisik genderuwo itu.


Mbk Indri dengan sangat terpaksa menebarkan senyuman manisnya, ia berjalan menuju pelaminan, di kanan dan kirinya terdapat dua genderuwo yang menjadi pengawalnya.


Mbk Indri duduk di kursi bersama Bima.


Senyuman terus merekah di wajah mbk Indri namun hatinya saat ini tengah hancur tak tersisa, ia berusaha menahan air mata saat upacara pernikahan berlangsung.


Upacara pernikahan berlangsung dengan khidmat dan lancar.


Setelah cukup lama duduk di pelaminan akhirnya upacara pernikahan itu selesai.


Mbk Indri kembali ke dalam kamarnya, di sana ia menumpahkan semua air matanya yang sudah ia tahan-tahan sedari tadi.