The Indigo Twins

The Indigo Twins
Mayat yang aneh



Dokter Kevin melakukan hal itu berulang kali namun masih tak kunjung tertutup juga.


"Aneh, kenapa mata dokter Gladis tidak tertutup setelah berulang kali aku menutupnya, ada apa ini kenapa mayat dokter Gladis begitu aneh sekali" batin dokter Kevin tak mengerti.


"Dokter ini bagaimana, saya tidak tau bagaimana cara untuk menutup mata dokter Gladis yang terus-terusan melotot?" tanya suster Ana bingung.


"Kalian mandikan dulu, mungkin matanya nanti bisa tertutup dengan sendirinya" jawab ayah.


"Ya udah yuk kita mandikan aja dulu" ajak suster Zizi.


Mereka yang berjumlah 8 orang mendorong brankar dokter Gladis untuk di mandikan dengan ketakutan yang masih di rasakan.


Siraman air terus saja jatuh di tubuh dokter Gladis, tapi tak membuat mata dokter Gladis tertutup hingga pemandian selesai.


Mata dokter Gladis masih saja terus melotot tajam.


"Ini gimana an, apakah kita akan mengkafani jenazah dokter Gladis dalam keadaan mata melotot tajam begini?" tanya suster Zizi.


"Aku coba tanya dulu ke dokter Kevin, kalian tunggu saja di sini" jawab suster Ana.


"Baiklah, cepat ke sana jangan lama-lama" kata suster Zizi.


"Baik" jawab suster Ana lalu mendekati dokter Kevin dan ayah.


"Dokter" panggil suster Ana.


Mereka berdua yang sedang bercakap-cakap menoleh ke asal suara.


"Ada apa suster Ana?" tanya dokter Kevin.


"Dok, mata dokter Gladis masih belum bisa di tutup, ini gimana dok apa di biarkan seperti itu saja" jawab suster Ana.


"Ayuk kita ke sana" kata dokter Kevin.


Mereka melangkah menuju tempat dokter Gladis di mandikan.


"Suster Zizi coba kamu tutup mata dokter Gladis" suruh dokter Kevin.


Dengan tangan yang bergetar suster Zizi menutup mata dokter Gladis berulang kali tapi hasilnya tetap sama.


"Ini gimana, apa kita biarkan saja seperti ini?" tanya dokter Kevin.


"Kita gak tau juga dokter" jawab mereka semua.


"Kalian biarkan aja begini, setidaknya kita sudah berusaha, jika memang tidak bisa, ya kita bisa apa, sekeras apapun kita mencoba jika memang tidak bisa bagaimana lagi" kata dokter Kevin.


"Baik dok" jawab mereka.


Dokter Kevin dan ayah lalu meninggalkan mereka semua.


"Ya sudah kita biarkan saja seperti ini, dokter Kevin saja sudah menyerah mengatasi masalah ini" kata suster Zizi.


"Ya udah kita biarkan saja" jawab lainnya.


Mereka membiarkan mata dokter Gladis yang melotot tajam.


Jenazah dokter Gladis sudah selesai di kafani sekarang hanya tinggal di sholatkan dan di makamkan.


Suster Ana dan yang lainnya mendekati dokter Kevin dan yang lainnya.


"Bagaimana apakah sudah selesai?" tanya ayah.


"Sudah pak, sekarang dokter Gladis sudah selesai di kafani" jawab suster Ana.


"Iya, pak As'mad, pak Hamid dan yang lainnya bawa keranda mayat ke masjid, kita sholatkan dulu dokter Gladis" kata dokter Kevin.


"Baik dokter" jawab mereka.


Selesai di sholatkan, para staf rumah sakit, kerabat dan beberapa orang ikut mengantarkan dokter Gladis ke pemakaman umum.


Ambulance yang membawa dokter Gladis melaju menuju pemakaman yang lumayan jauh dari posisi rumah sakit berada.


Sampai di sana staf laki-laki yang berjumlah 12 orang mengangkat keranda mayat.


"Aduh, aduh, aduh" pekik mereka merasakan berat kala memikul keranda mayat itu.


Mereka meletakkan kembali keranda mayat ke tanah.


"Kerandanya berat benget tadz, kita gak kuat ngangkatnya pak ustadz" jawab salah satu di antara mereka.


"Ayo yang lain bantu agar bisa mengurangi beratnya" suruh pak Ustadz.


Semua orang yang berjenis kelamin laki-laki membantu mengangkat keranda, meski sudah di bantu tetapi tetap saja mayat dalam keranda ini masih terasa berat sekali.


"Pak ustadz kami tak sanggup membawa jenazah, kami menyerah mengangkat keranda mayat dokter Gladis yang seperti batu karang bahkan lebih berat" kata As'mad.


"Apakah ini karma"


"Ini itu pasti balasan dari segala apa yang pernah di lakukan oleh dokter Gladis"


"Ih ngeri tau"


"Azab untuk dokter Gladis ini pastinya"


"Belum juga di makamkan sudah di beri azab aja"


"Kebanyakan dosa apa ya"


"Iya palingan"


Suara ibu-ibu si tukang ghibah terdengar jelas oleh orang yang mempunyai telinga.


"Sudah-sudah jangan membicarakan aib jenazah, kita berdoa dulu semoga setelah ini janazah dapat di makamkan" kata pak Ustadz.


Pak ustadz memimpin doa memohon pada sang ilahi untuk meringankan proses pemakaman dokter Gladis.


"Ayo di coba kembali" kata pak Ustadz.


Mereka mencoba mengangkat keranda.


"Alhamdulillah keranda mayat tak seberat tadi" kata Hamid.


Meraka memikul keranda sampai ke tempat liang lahat berada.


Tiga orang masuk ke liang lahat, salah satu orang membuka kain yang menyelimuti keranda lalu membuka penutup keranda perlahan-lahan dan bau busuk tercium memenuhi indra penciuman.


Houek


Mereka tak tahan dengan bau yang semakin menyengat menyeruak masuk ke Indra penciuman.


Mereka semua menutup hidung masing-masing karena baunya lebih busuk dari pada bangkai tikus.


"Ya Allah apa dosa yang di lakukan oleh jenazah sehingga kau mempersulit proses pemakamannya" kata pak Ustadz.


"Ini pasti karma pak ustadz, dokter Gladis itu sudah banyak membunuh orang-orang yang tidak berdosa, bahkan kedua orang tuanya saja telah di bununya" jawab salah satu ibu-ibu yang tadi malam ada dan mendengar segalanya.


"Astaghfirullah" kata pak ustadz kaget.


"Mungkin almarhumah begini karena dosanya kepada kedua orang tua Rio korban yang telah di bunuhnya beberapa tahun yang lalu tadz" kata salah satu staf RS.


"Ya Allah apakah di antara kalian bisa memanggil orang yang bersangkutan, semoga saja setelah kedua orang tua Rio memaafkan jenazah, mungkin saja proses pemakaman bisa lancar" kata pak Ustadz.


Rio adalah anak tunggal dari pasangan suami istri bernama Rafi dan Ningsih.


Mereka berdua berusaha keras untuk mempunyai seorang anak, banyak dokter-dokter hebat yang di datangi oleh mereka berdua, supaya bisa memiliki anak selama ini, hingga pada akhirnya Ningsih bisa juga hamil dan melahirkan tetapi kini anak semata wayangnya sudah berpulang gara-gara perbuatan dokter Gladis.


"Saya akan hubungi mereka ustadz" kata salah satu staf menghubungi kedua orang tua Rio.


Beberapa menit mereka menunggu hingga pada akhirnya orang yang sudah di tunggu-tunggu datang juga.


"Kalian orang tua dari almarhum Rio?" tanya pak Ustadz.


"Iya kami orang tua Rio Ustadz" jawab ayah Rio yang berusia sekitar 33 tahunan.


"Kami atas nama dokter Gladis ingin meminta maaf kepada anda atas segala kesalahan yang pernah dilakukan almarhumah semasa hidup" kata pak Ustadz.


"Maksudnya? saya tidak mengerti?, tolong pak ustadz jelaskan?" tanya ibu Ningsih bingung dengan perkataan Ustadz.


"Rio anak kalian itu meninggal karena dokter Gladis, kami atas nama besar rumah sakit cempaka putih memohon maaf yang sebesar-besarnya karena perbuatan dokter Gladis anak kalian harus meregang nyawa" jawab kepala rumah sakit.


"APA" kaget kedua orang tua Rio tercekat mendengar itu semua.