The Indigo Twins

The Indigo Twins
Wanita berkebaya putih



"Ayo kita angkut satu-persatu"


Kami mengangkut satu persatu batu bata yang lumayan banyak itu sehingga membentuk tumpukan yang lumayan tinggi.


"Sekarang kita pasti bisa tau ada apa di dalam kamar ini"


Angkasa mengangguk lalu kami berdiri di tumpukan batu bata itu.


Bertapa terkejutnya kami saat melihat seorang wanita cantik yang berusia sekitar 19 tahun yang menangis di dalam kamar sendirian dengan mengenakan pakaian kebaya berwarna putih seperti seorang pengantin.


Wanita yang menangis dengan memeluk tubuhnya sendiri itu mendongak menatap ke arah kami setelah merasa ada yang sudah melihatnya.


Wanita itu langsung mendekati jendela.


"T-tolong, tolong aku, aku ingin pergi dari sini, tolong bawa aku pergi, aku tidak mau nikah sama makhluk halus, aku tidak mau" titah wanita itu dengan air mata yang terus mengalir.


"Kakak siapa, kenapa berada di sini, apa kakak sama seperti penduduk di desa ini?"


Wanita itu menggeleng cepat."Tidak, aku tidak sama seperti mereka, aku manusia aku bukan makhluk halus, tolong bawa aku pergi dari sini, aku mohon pada kalian"


Aku melirik ke arah Angkasa untuk meminta pendapatnya.


"Kita akan bawa mbk pergi dari sini, tapi katakan kenapa mbk bisa ada di sini?" penasaran Angkasa.


Wanita itu hendak mengatakan segalanya namun tiba-tiba gagang pintu bergerak.


"Cepat sembunyi" suruh wanita itu.


Dengan cepat kami bersembunyi di balik semak-semak itu.


Wanita itu melihat makhluk berbulu hitam yang masuk ke dalam kamarnya.


"Ayo ke depan, sudah waktunya kamu keluar" ajak kingkong dengan nada dingin dan wajah menakutkan.


Dengan terpaksa wanita itu berjalan keluar dari dalam kamar, ia terpaksa keluar karena tak mau kingkong itu memeriksa jendela karena kami pasti akan ketahuan.


Aku dan Angkasa yang berada di dalam semak-semak merasa lega.


"Kayaknya orang yang tadi masuk ke dalam kamar itu sudah tidak ada deh"


"Ayo coba kita periksa" jawab Angkasa.


Kami keluar dari dalam semak-semak, dengan mengintip kami melihat ke arah kamar itu.


"Loh kemana mbk-mbk itu, kenapa sudah tidak ada di sini?" kaget Angkasa saat tidak menemukan wanita berkebaya putih yang tadi meminta tolong kami untuk membawanya keluar dari sini.


"Apa jangan-jangan orang tadi itu sudah bawa dia pergi?"


"Kita harus cari dia, aku rasa dia gak jauh dari sini, dia pasti ada di sini, kita harus tau kenapa dia bisa sampai di desa gaib ini juga" jawab Angkasa.


"Iya, ayo kita cari dia di semak-semak gelap yang ada di samping kiri pelaminan, di sana gak bakal ada orang yang lihat kita, kita bisa nyari mbk-mbk kebaya putih itu, barang kali dia duduk bersama tamu undangan lainnya"


Angkasa setuju lalu kami berjalan kembali ke tempat awal.


Belum sempat kami ke sana tiba-tiba pandangan ku tertuju pada seorang pengantin wanita yang aku kenali tengah di antar menuju pelaminan yang sudah di dekorasi dengan bunga-bunga dan lampu-lampu kecil yang membuat pelaminan terlihat sangat indah.


"Sa itu bukannya mbk-mbk yang barusan kita temuin"


Angkasa langsung terkejut saat sadar hal itu.


"Kayaknya emang iya, pantesan aja mbk-mbk itu minta kita buat bawa dia pergi dari sini, ternyata dia memang beneran akan nikah dengan makhluk halus, kita harus tolongin dia sa, kita tidak boleh biarkan dia nikah sama makhluk halus"


"Iya, ayo kita bawa dia pergi, dia tidak boleh nikah sama anaknya pak lurah" aku mengangguk lalu kami berjalan mendekati pelaminan hendak mendekati warga-warga lainnya.


"Jangan ke sana, pergi dari sana cepat!" suara seseorang yang sangat misterius terdengar di telinga ku yang membuat langkah ku terhenti.


Angkasa melihat ke arah ku yang tiba-tiba berhenti."Ada apa za, kenapa kamu berhenti?"


"Barusan aku dengar ada suara yang nyuruh aku pergi dari sini, apa maksudnya coba?" bingung ku.


"Kita ke sana dulu za, biar kita tau maksud dari suara yang kamu dengar itu" tunjuk Angkasa pada semak-semak yang kami singgahi untuk pertama kali saat menemukan rumah pak lurah.


Aku mengangguk lalu kami berlari mendekati semak-semak itu.


"Suara itu bilang apa barusan sama kamu?" penasaran Angkasa.


"Jangan ke sana, pergi dari sana cepat, itu aja yang aku dengar, tapi aku rasa gak asing sama suara yang barusan bilang hal itu, tapi siapa ya?"


"Kenapa aku ngelupain orangnya?"


"Coba kamu ingat-ingat dulu" aku mencoba mengingat-ingat suara yang sangat familiar yang barusan aku dengar itu.


"Hah kakek Denso" aku langsung terkejut saat mengenali jika suara itu milik kakek Denso.


"Iya suara itu beneran suaranya kakek Denso, kenapa kakek nyuruh aku pergi dari sini, ada apa di sini, kenapa suaranya terdengar ada bahaya besar"


Aku mulai cemas karena entah kenapa aku merasa memang ada bahaya yang mendekat.


Aku melihat ke arah para tamu undangan dan warga-warga yang berada di rumah pak lurah dari semak-semak yang gelap.


Pandangan ku jatuh pada seseorang yang membuat ku mengucek mata beberapa kali karena takut salah lihat.


"Sa itu bukannya mbah Gamik?"


"Mana?" mulai penasaran Angkasa yang tidak dapat melihat apa yang aku lihat.


"Itu yang duduk sama nenek"


Angkasa langsung terkejut saat benar jika mbah Gamik ada bersama mereka."Ini artinya mbah Gamik tinggal di sini selama ini, dia pasti sengaja nyuruh kita datang ke rumahnya agar kita juga berada di sini bersamanya"


"Kalau seperti itu kita harus pergi dari sini sa, aku gak mau berada di sini selamanya"


"Iya, ayo kita pergi dari sini, kita harus kembali ke tempat awal kita sampai di desa ini, karena di sana pasti ada jalan keluarnya" ajak Angkasa.


"Iya ayo kita ke sana"


Kami dengan perlahan-lahan berjalan meninggalkan rumah pak lurah yang sedang menyelenggarakan pernikahan anaknya dan wanita berkebaya putih yang masih berstatus manusia.


Kami dengan sepelan mungkin berjalan untuk pergi dari sana karena banyak kingkong-kingkong yang berjaga di depan pintu masuk ke rumah pak lurah.


Sebisa mungkin kami akan berusaha agar tidak ketahuan sama mereka.


Saat kami sudah mulai menjauh dari rumah pak lurah, kami langsung berlari dengan cepat untuk bisa keluar dari dalam desa ini, kami ingin segera keluar dari sini karena tempat ini bukanlah tempat kami.