The Indigo Twins

The Indigo Twins
Melampiaskan kekesalan



Aku melihat banyaknya anak-anak kecil yang sedari tadi mengikuti kami.


"Kalian sudah berapa lama berada di dalam lingkaran pohon bambu itu?"


"Sudah lama kak, aku sudah berada di sana sejak 31 tahun yang lalu dan aku adalah tumbal pertama mereka" jawab anak kecil yang berusia sekitar 8 tahun, dia berjenis kelamin perempuan dan dia satu-satunya anak kecil yang tidak menangis seperti yang lainnya.


"Sudah selama itu berati pak Jarwo melakukan ini semua" kaget Angkasa.


"Pantes saja banyak sekali anak-anak kecil yang menjadi korbannya" Ustadz Fahri menatap ke arah anak-anak kecil yang kurang lebih umurnya 10 tahun ke bawah.


Aku mengamati satu persatu anak-anak kecil itu, tatapan ku jatuh pada seseorang.


"Intan"


"Hai, kalian masih ingat aku?" Intan mendekati ku dan Alisa.


"Intan jadi kamu hilang selama ini karena di jadikan tumbal sama pak Jarwo?" kaget Alisa ia masih tak lupa dengan Intan, teman kecilnya dulu.


"Iya, aku jadi korbannya, aku gak nyangka kalau pak Jarwo sejahat itu, dulu aku berpikir dia baik, tapi ternyata dia orang yang paling jahat yang aku temui"


"Intan maafkan kami, kami baru sekarang bisa bebasin kamu dari sana, kami dari dulu ingin sekali nyari kamu, tapi bunda gak izinin, karena takut kami ikut hilang juga"


"Enggak apa-apa za, ini mungkin sudah menjadi jalannya, aku sudah terima takdir hidup berakhir seperti ini, aku gak nyalahin kalian kok, kalian tidak usah merasa bersalah" Intan menyunggingkan senyuman manisnya ke arah kami.


Aku dan Alisa lega saat mendengar jawaban Intan.


"Oh ya bagaimana dengan keluarga ku, apa mereka sekarang baik-baik saja?"


"Aku gak tau tan, orang tua kamu pindah setelah kamu hilang, jadi sekarang aku gak tau kabar orang tua mu lagi" jawab Alisa.


"Hemm ya udah gak apa-apa, aku hanya bisa berdoa semoga mereka baik-baik saja"


"Kalian sekarang sudah bebas, kalian kembalilah ke alam selanjutnya, tempat kalian sudah bukan di sini lagi, untuk masalah pak Jarwo, kalian tidak perlu khawatir lagi, dia sudah meninggal, dia tidak akan ngurung kalian lagi"


"Baik kak, terima kasih kak sudah membantu kami" aku tersenyum, walaupun telat tapi alhamdulilah karena pada akhirnya aku dan yang lain berhasil membebaskan mereka semua.


"Sama-sama, kembalilah ke alam selanjutnya sana"


Mereka semua mengangguk, kemudian menghilang secara bersamaan dari hadapan kami.


Kini di antara banyaknya anak-anak kecil itu hanya tersisa Rani dan Dilan anak bu Retno.


"Ayo kita pulang" ajak Ustadz Fahri.


Kami mengangguk lalu pulang menuju rumah.


"Rani kok bisa di culik?" pertanyaan itu di ajukan oleh Alisa.


"Enggak tau kak, pokoknya pas buka mata Rani sudah berada di dalam lingkaran pohon bambu, di sana gelap banget, Rani takut" jawab Rani.


"Sebelumnya saya mau nanya apa kamu pernah di kasih makanan atau minuman sama orang?" penasaran Ustadz Fahri.


"Pernah tadz, saat di sekolah aku haus, ada pak Tejo yang ngasih aku minuman" jawab Rani.


"Memang benar dia biang keroknya, untung sekarang dia sudah mendekam di penjara" geram Alisa.


"Kamu lain kali jangan pernah ambil pemberian dari siapapun entah itu makanan atau apapun, biar kejadian seperti ini tidak terulang lagi, mengerti" perintah Reno.


"Mengerti kak" jawab Rani.


"Ayo kita pulang, pasti yang lain lagi nungguin kita di rumah" ajak Angkasa.


Saat sampai di rumah mata kami melihat banyaknya warga-warga yang berada di halaman rumah.


"Ada apa kok rame banget?" Alisa melihat banyaknya warga-warga yang berada di halaman rumah, tak biasanya mereka seperti itu.


"Gak tau, ayo kita masuk saja" jawab Angkasa.


Kami melangkah masuk ke halaman rumah, pandangan mereka semua langsung tertuju pada kami yang baru datang.


"Dilan" teriak bu Retno saat melihat Dilan yang datang bersama kami.


"Ibu" Dilan langsung berlari memeluk ibunya.


"Dilan, kamu tidak apa-apa nak, kamu baik-baik aja kan?" khawatir bu Retno, ia mengusap wajah Dilan dengan perasaan haru.


"Dilan baik-baik aja bu, Dilan gak apa-apa" jawab Dilan.


"Ya Allah nak, kamu kemana saja, ibu cemas saat kamu pergi, ibu takut kamu tidak kembali" tangis bu Retno pecah, ia sungguh sangat bersyukur anaknya masih bisa di selamatkan.


Bu Romlah menghampiri kami."Laras di mana, kenapa kalian pulang gak bawa Laras?"


Kami semua diam, kami tidak tau harus menjawab saat bu Romlah menanyakan tentang Laras, anak satu-satunya yang ia punya yang juga ikut hilang beberapa hari yang lalu.


"Kenapa kalian diam, jawab, di mana Laras, apa dia sudah berada di rumah?"


"Maaf bu, Laras tidak bisa kami ajak pulang, dia sudah lewat 7 hari sehingga tak bisa kembali menjadi manusia, dia sekarang sudah kembali ke alam selanjutnya"


Bu Romlah terkesiap, ucapan ku benar-benar membuatnya terguncang hebat.


"Tidakkk, anak ku tidak mungkin pergi, dia pasti bisa kembali, kenapa kalian tidak ajak dia kembali" histeris bu Romlah saat tau kalau dia benar-benar kehilangan anaknya.


"Kami sudah berusaha mencarinya bu, namun kami baru hari ini bisa nemuin tempat anak-anak kecil di sembunyiin selama ini" jawab Alisa.


"Di mana tempat itu, apa di dalam hutan dekat rumah mbah Gamik?" pikir ayah.


"Bukan ayah, tapi di belakang rumah pak Jarwo, tepatnya di dalam hutan, di sanalah tempat anak-anak kecil selama ini sembunyikan" jawab Angkasa.


"Jadi pak Jarwo yang sudah bikin anak-anak di desa ini hilang?" terkejut bu Romlah.


Kami semua mengangguk kompak.


"Dasar tua bangka, aku tidak terima dia membuat anak ku mati, akan aku gali kuburannya, dia tidak berhak di kubur dengan layak, dia iblis, dia tidak patut di kasihani" marah bu Romlah, ia benar-benar tak menyangka sekali kalau biang keroknya adalah orang terpandang di desa ini.


Mendengar omelan bu Romlah di antara kami tidak ada yang mengatakan sepatah katapun, kami tau pak Jarwo salah dan saat ini bu Romlah masih marah besar padanya.


Tatapan bu Romlah jatuh pada seseorang, dengan geramnya ia mendekati orang tersebut, lalu menjambak rambutnya dengan kasar.


"Aaaah!" pekik orang itu yang kesakitan saat bu Romlah menjambak rambutnya.


"Gara-gara bapak mu anak ku jadi korbannya, sekarang kau yang harus nanggung segalanya!" bu Romlah melampiaskan kekesalannya pada mbk Indri.


Orang-orang yang berada di dekat keduanya berusaha merelai pertikaian itu.


Ustadz Zaki langsung berlari mendekati istrinya.


"Lepasin bu, sakit" titah mbk Indri.


"Sakit kata mu, ini tidak seberapa, anak ku harus meninggal gara-gara ulah bapak mu, kau tidak mikir sesakit apa aku sekarang hah!"


"Arrrrgghh" teriak mbk Indri yang terus di jambak oleh bu Romlah.