
"Bagus, kita harus bisa hadapi dia, kita gak boleh lemah" kata Angkasa.
"Tapi gimana cara kita ngelawannya?" tanya ku yang tidak memiliki cara apapun.
Bersamaan dengan itu rasa takut kembali datang secara tiba-tiba.
Angkasa menepuk jidatnya.
"Ish katanya harus mengumpulkan keberanian untuk melawannya, lah ini belum apa-apa udah kembali ketakutan, dasar plin-plan nih anak" batin Angkasa.
"Aku harus gunakan cara apa untuk menghadapi tengkorak itu" batin Angkasa mulai tegang kala tidak menemukan apapun.
Tak sengaja mata Angkasa menangkap balok kayu yang tak jauh dari posisinya berdiri.
"Hmm dengan itu, kita bisa lawan tengkorak dengan balok kayu itu, kita pukul aja dia tanpa henti, nanti dia akan hancur juga dan kita akan bisa bebas darinya" jawab Angkasa yang memiliki ide cemerlang.
"Boleh juga, tapi takut sa" kata ku.
"Kita gak boleh takut za, kita harus tepis rasa takut ini" jawab Angkasa.
"Oke aku akan berusaha" kata ku.
Angkasa mengambil balok kayu itu, ia lalu memberikannya pada ku.
"Ayo sekarang kita harus bisa lawan tengkorak itu" kata Angkasa.
Aku mengangguk, sebisa mungkin aku akan menahan rasa takut itu.
Tengkorak itu bangun dari duduknya, ia lalu berlari mendekati kami.
Tatapan mata ku kini tertuju pada tengkorak yang tengah berlari mendekati kami.
"Bismillah Allahu Akbar" teriak ku.
Bugh
Bugh
Bugh
Bugh
Bugh
Kami berdua memukuli tubuh tengkorak dengan membabi buta, tulang-tulang tengkorak berserakan di mana-mana.
Kami terus saja memukuli tengkorak tanpa ampun, rasa takut sudah hilang entah kemana.
Erangan dari tengkorak terdengar keras di telinga kami berdua, tetapi kami tetap tak berhenti hingga tulang-tulang tengkorak menjadi hancur lebur tak berbentuk.
"Selesai, yeyy akhirnya tengkorak menyebalkan itu kini tubuhnya telah hancur lebur tak tersisa, kita berhasil sa" senang ku begitu gembira sekali.
"Iya kita ber-
Perkataan Angkasa terhenti kala sesuatu menarik perhatiannya yang membuat dia tidak bisa melanjutkan perkataannya.
Seketika senyum yang mengambang di wajah ku itu berangsur-angsur memudar, saat satu persatu tulang yang berserakan itu menyatu dan membetuk kembali tubuh tengkorak seperti sedia kala.
"Gawat, dia masih belum mati juga, kita harus hajar lagi za sampai hancur, jangan menyerah ada Allah yang akan lindungi kita" kata Angkasa.
"Iya kita hancurkan dia sampai tak akan bisa kembali membentuk tubuhnya lagi, ayo sa mulai" jawab ku yang sudah tak takut lagi dengan tengkorak itu.
Tengkorak menatap kami dengan tatapan tajam, mata tengkorak berwarna merah darah.
Tengkorak berlari ke arah kami, kami sudah siap dengan senjata masing-masing dan-
Bugh
Bugh
Bugh
Bugh
Kami kembali memukul tubuh tengkorak itu dengan menggila, kami tidak akan biarkan tengkorak itu bisa bangkit lagi dan akan membahayakan kami.
Bugh
Bugh
Bugh
Kami tak akan membiarkan tengkorak ini terus menerus mengganggu kami, sebisa mungkin kami akan buat dia hancur berkeping-keping.
Tubuh tengkorak hancur tak tersisa lagi.
"kita harus hancurin kepalanya za agar nih tengkorak gak bisa hidup lagi" kata Angkasa.
"Iya" jawab ku.
Bugh
Bugh
Bugh
Kami berdua menghancurkan kepala tengkorak sampai hancur lebur.
Tiba-tiba tercium bau busuk yang menyengat saat kepala itu hancur berkeping-keping.
"Busuk banget" kata ku tak tahan mencium bau sebusuk itu.
Aku dan Angkasa berhenti memukulinya karena sudah tak tahan dengan bau busuk yang di timbulkan dari kepala tengkorak yang sudah pecah menjadi beberapa bagian itu.
"Sa tulang itu kembali menyatu" kata ku kembali tegang kala melihat tulang-tulang tengkorak itu kembali menyatu.
"Iya tulang-tulang yang berserakan di mana-mana itu seperti pecahan magnet-magnet yang saling mempunyai energi untuk menempel kembali" jawab Angkasa.
"Gimana ini sa, aku capek jika harus memukuli tengkorak itu lagi, jika pada akhirnya dia masih dapat kembali seperti semula" kata ku yang sudah lelah.
Angkasa tidak menjawab, dia berpikir sejenak.
Tiba-tiba tatapan Angkasa tertuju pada sungai yang ada pinggir jalan, tepatnya di sebelah kiri.
"Gimana kalau kita buang tulang-tulang ini ke sungai yang ada di pinggir jalan itu" jawab Angkasa.
"Ide bagus, bentar aku ambil sapu lidi dulu di dekat tiang lampu itu, kamu hancurin aja dulu tulang-tulang tengkorak yang saat ini mau kembali membentuk tubuh tengkorak seperti semula" suruh ku.
"Oke aku akan hancurin tulang-tulang tengkorak ini, kamu cepetan ambil sapunya, sebelum tengkorak ini kembali membentuk tubuhnya seperti semula" jawab Angkasa.
"Iya" kata ku.
Aku berlari mendekati sapu lidi itu, aku lalu mengambilnya dan mendekati Angkasa yang sedang sibuk memukul tengkorak itu.
Aku menyapu habis tulang-tulang tengkorak itu hingga masuk ke dalam aliran sungai yang besar.
Sebisa mungkin aku akan pastikan jika tulang-tulang tengkorak itu tidak tertinggal sama sekali.
"Huft akhirnya masalah tengkorak selesai juga, sekarang tuh tengkorak tak akan datang ke sini lagi karena tulang-tulangnya telah di bawa pergi oleh aliran air sungai untuk selamanya, haha bahagianya diri ku, akhirnya aku berhasil memusnahkan tengkorak menyebalkan itu" senang ku setelah sekian lama berjuang hanya karena ingin menghancurkannya.
"Untung aja ada sungai itu di sekitar sini, kalau tidak kita pasti akan bingung mau membuang tubuh tengkorak itu ke mana, apalagi di sekitar sini gak ada warga yang bisa kita mintai tolong" jawab Angkasa.
"Masa iya di sini beneran gak ada warga sama sekali, aku rasa di sekitar sini ada deh" kata ku.
"Kalau ada kemana, kenapa tidak terlihat, sudah sejak tadi kita jalan, tetapi tidak menemukan satu warga pun yang terlihat sama sekali, aku ngerasa di sini gak ada warga sama sekali" jawab Angkasa.
"Kalau di sini gak ada warga, lalu kita terjebak di mana ini, kenapa begitu aneh sekali, lama-lama ngeri juga ada di sini" kata ku yang mulai merasa merinding.
"Gimana, apa kita balik aja ke jalanan tadi?" tanya Angkasa meminta pendapat ku.
"Kalau kita kembali ke jalanan tadi, aku mau-mau aja, tapi yang aku takutkan hanya satu, yaitu kita bertemu dengan kucing hitam dan kucing itu kembali berubah menjadi tengkorak seperti tadi, aku gak mau itu terjadi, sudah cukup aku berkelahi dengan satu hantu tengkorak, tidak mau kedua kalinya" jawab ku.
"Iya juga sih, aku juga takut kalau nanti pas kita balik ke jalanan tadi, hantu-hantu seram yang ada di masjid tadi pada keluar semua dan akan semakin membuat kita kesulitan" kata Angkasa.
"Iihh gak mau aku kalau harus melihat wajah mereka yang seramnya minta ampun, melihat sekilas saja takutnya luar biasa, apalagi sampai di ganggu sama mereka, gak kebayang bagaimana jadinya" jawab ku yang sudah tidak bisa membayangkan jika hal itu sampai terjadi.
"Kita lanjut jalan lagi berarti?" tanya Angkasa.
"Iya, gak ada pilihan lain, tapi kita istirahat dulu sa, aku capek berkelahi sejak tadi" jawab ku.
"Oke kita istirahat dulu, setelah itu kita lanjut jalan lagi" jawab Angkasa setuju dengan keinginan ku.
Kami berdua duduk di pinggir jalan untuk beristirahat sejenak.