
"Iya bun, pak bantu saya bawa Angkasa ke rumah sakit" warga itu setuju dan membawa kami keluar dari dalam rumah mbah Gamik.
"Pak RT di dalam ada jenazahnya pak Prapto, tolong makamin beliau dengan layak" titah Alisa.
"Iya Alisa, bapak juga akan urus dia, pak polisi tolong evakuasi jenazahnya pak Prapto" pak polisi itu langsung membungkus jenazah pak Prapto ke dalam kantong jenazah dan berjalan mengikuti rombongan warga yang akan kembali ke desa lagi.
Ustadz Fahri, Dita dan Reno yang berada di posisi belakang terus berjalan.
Dita melihat kembali ke rumah mbah Gamik, tatapannya langsung jatuh pada seorang anak perempuan yang sebaya dengannya yang kini berada di dekat pohon yang berjarak sekitar 60 cm dari rumah mbah Gamik.
Anak perempuan itu tersenyum ke arah Dita.
"Aku di sini" anak perempuan itu melambaikan tangannya dengan terus tersenyum manis.
"Laras" panggil Dita berlari mendekati Laras orang yang ia cari-cari sedari tadi.
Ustadz Fahri yang melihat Dita mendekati anak perempuan yang samar-samar wajahnya berubah menjadi makhluk halus yang begitu menyeramkan langsung berlari untuk mencegah Dita.
"Lepasin tadz, jangan hentikan aku" Dita memberontak ia ingin mendekati Laras yang hanya berjarak beberapa meter saja dari posisinya berdiri.
"Jangan Dita, dia itu bukan Laras" cegah Ustadz Fahri dengan terus menahan tubuh Dita yang mungil yang terus memberontak untuk di lepaskan.
"Enggak dia itu Laras, dia Laras teman aku, aku mau ke dia Ustadz, Ustadz lepasin aku" Dita terus memberontak namun tenaganya Ustadz Fahri bergitu kuat sampai-sampai dia tidak bisa kabur.
"Jangan Dita, dia itu bukan Laras, kamu lihat baik-baik siapa dia, apa dia beneran Laras?" Dita berhenti memberontak, dia melihat ke arah anak perempuan yang kini sudah berubah menjadi makhluk bertaring.
Dita yang melihat makhluk bertaring tajam dan seram itu langsung memeluk tubuh Ustadz Fahri karena ketakutan.
"Ustadz huhu" isakan Dita yang ketakutan saat matanya melihat makhluk bertaring yang kini tengah menyunggingkan senyuman mengerikan.
"Sudah jangan takut, dia tidak akan berbuat macam-macam sama kamu" Ustadz Fahri menenangkan Dita yang terus menangis.
Ustadz Fahri melihat ke arah makhluk bertaring yang tetap diam di tempat tanpa pergerakan, makhluk itu seperti tidak mau mendekati Ustadz Fahri atau yang lainnya sedikitpun.
"Kenapa dia hanya diam di sana, apa cuman segitu usahanya mengganggu orang" batin Ustadz Fahri.
"Eh tunggu-tunggu kenapa warna pohon, rumput, dan daun-daun yang tumbuh di sekelilingnya nampak berbeda dengan tanaman-tanaman yang ada di sekitar ku" batin Ustadz Fahri merasa aneh.
Ustadz Fahri memperhatikan betul-betul dua kawasan hutan yang berbeda itu.
"Sepertinya hutan yang ia injak itu adalah hutan terlarang, untung saja aku bisa nyegah Dita buat jangan ke sana kalau tidak, dia tidak akan sulit keluar dari sana" batin Ustadz Fahri.
"Ustadz kenapa berhenti, ayo kita pulang" ajak Reno yang melihat Ustadz Fahri masih diam di tempat.
Ustadz Fahri mengangguk, ia melihat sekilas ke arah makhluk bertaring itu lalu kembali berjalan dengan Dita yang ia gendong.
Dita menyeka air mata dan terus melihat ke arah mahluk bertaring yang pelan-pelan sudah mulai menjauh dan tak terlihat lagi.
Mereka semua terus berjalan, bau busuk yang di timbulkan dari dalam tubuh pak Prapto terus menyeruak ke panca indera.
"Busuk banget"
"Pak Prapto meninggal dari sejak kapan?"
"Kayaknya sudah lama, pas waktunya istrinya meninggal saja dia tidak kelihatan, kayaknya dia memang udah meninggal sebelum istrinya"
"Kenapa jenazah pak Prapto bisa sebusuk ini?"
"Kebanyakan dosa mungkin"
Suara warga-warga yang mulai tak kuat lagi mencium bau busuk yang terus menyeruak.
"Sudah-sudah bapak-bapak ibu-ibu tidak usah di bahas, ayo kita cepat-cepat pergi dari sini, sebelum malam tiba" lerai pak RT.
Mereka pun langsung diam tak berani membicarakan pak Prapto lagi dan terus berjalan untuk keluar dari hutan ini.
Warga yang ikut ke rumah mbah Gamik tidak banyak karena kebanyakan warga lainnya takut tidak kembali seperti warga-warga yang dulu yang masuk ke dalam hutan dan sampai sekarang tidak pernah kembali.
Di pertengahan jalan Dita minta di turunin, dia ingin berjalan, Ustadz Fahri menurutinya.
"Tadz di mana Laras, kenapa gak ada di sini, dia ada di mana?" Dita mulai khawatir karena temannya masih belum ketemu juga walaupun ia sudah mencari keberadaan Laras di dalam rumah mbah Gamik.
"Saya rasa Laras tidak ada di sini, percuma kita nyari dia di sini" jawab Ustadz Fahri.
"Kalau gak ada di sini, dia ada di mana tadz?" Dita merasa sangat khawatir pada keadaan Laras, apalagi ingatan di mana mbah Gamik bilang kalau dalam 7 hari Laras tidak ketemu, maka Laras tidak akan pernah ketemu untuk selamanya terus terngiang-ngiang di benak Dita.
"Nanti kita cari tau lagi, semoga nanti kita bisa nemuin Laras" Ustadz Fahri tau kalau Dita sangat khawatir pada temannya namun dia tidak bisa apa-apa karena keberadaan Laras tak dapat dia prediksi.
Dita terus berjalan keluar dari dalam hutan yang panjang itu.
Sepanjang perjalanan Dita melihat ke kanan dan kiri berharap dapat melihat keberadaan Laras.
Tiba-tiba pandangan Dita jatuh pada seorang laki-laki yang bersembunyi dan tengah memperhatikan warga-warga yang berjalan keluar dari dalam hutan.
"Siapa itu, kenapa sembunyi di sana" batin Dita.
Dita terus mengamati laki-laki yang sebaya dengan ayah yang masih bersembunyi di balik pohon namun di antara mereka semua hanya Dita seorang yang menyadari keberadaannya.
"Itu bukannya pak Tono, iya itu memang pak Tono, kenapa pak Tono sembunyi di sana" batin Dita.
Ustadz Fahri melihat Dita yang berhenti."Dita kenapa kamu berhenti, ayo kita keluar dari sini" ajak Ustadz Fahri.
Dita langsung berlari mendekati Ustadz Fahri.
"Apa yang kamu lihat?" Dita tidak menjawab dan terus berjalan keluar dari dalam hutan.
Ustadz Fahri mengembuskan napas karena watak Dita benar-benar tak bisa ia tebak.
Dari kejauhan akhir jalanan setapak sudah terlihat, senyuman terbit di wajah mereka karena sudah lama mereka berjalan dan kini mereka nemuin titik akhirnya juga.
Mereka semua berhasil keluar dari dalam hutan itu dan berita yang mengatakan kalau siapapun yang masuk ke dalam hutan tidak akan pernah bisa keluar mulai mereka bantah, mereka agak tidak percaya lagi pada berita yang beredar sejak dulu itu, dan sampai sekarang mereka masih yakin, namun dari kejadian ini, mereka tidak lagi yakin pada berita itu.