
Kami sampai di rumah sakit.
Para perawat yang melihat Angkasa mengendong tubuh ku langsung segera menghampiri kami dengan membawa brankar.
Angkasa meletakan tubuh ki di brankar.
Para suster mendorong brankar ku menuju ruangan UGD.
"Adek-adek, tunggu di sini dulu ya, kami akan menangani pasien dulu" kata suster.
"Baik sus" jawab mereka
Terpaksa mereka menunggu di depan ruangan UGD.
Mereka semua menunggu dengan gelisah, tak satu pun yang mengeluarkan suara, mereka semua larut akan pikiran masing-masing.
Kriet
Mereka semua langsung berdiri dari duduknya setelah melihat seorang dokter keluarga dari dalam ruangan UGD.
"Dok bagaimana kondisi saudara kembar saya?" tanya Alisa.
"Pasien kehilangan banyak darah, kami membutuhkan pendonor darah secepatnya" jawab dokter.
"Apa golongan darah Aliza dok, barang kali golongan darahnya sama seperti golongan darah saya?" tanya Dava.
"A negatif, saat ini rumah sakit sedang kosong untuk darah golongan A negatif, apakah golongan darah kamu sama dengan pasien?" tanya dokter pada Alisa.
"Golongan darah saya B dok" jawab Alisa.
Walaupun kembar kami tak harus sama dalam segala hal.
"Lalu golongan darah kamu apa?" tanya dokter pada Dava.
"Golongan darah saya O dok" jawab Dava.
"Gimana ini, pasien secepatnya harus melakukan transfusi darah, jika tidak nyawanya tidak akan bisa di selamatkan lagi" khawatir dokter
"Darah saya A negatif dok, ambil darah saya aja" kata Angkasa mengajukan diri.
"Ayo kamu langsung ikut saya" ajak dokter.
Angkasa mengikuti dokter yang masuk ke dalam ruangan UGD.
Angkasa berbaring di atas brankar dekat dengan brankar ku yang saat ini masih tidak sadarkan diri.
Angkasa memerhatikan darahnya yang tersedot ke dalam selang kecil yang berakhir masuk ke dalam tubuh ku.
Lumayan lama transfusi darah ini di lakukan.
"Dok ambil darah saya sebanyak-banyaknya yang penting Aliza bisa sembuh" tintah Angkasa.
"Baik" jawab dokter.
Wajah Angkasa pucat pasi akibat darahnya yang terkuras.
Bunda dan ayah berjalan terburu-buru ke ruangan UGD setelah bertanya kepada seorang suster yang bertugas sebagai administrasi kalau anaknya saat ini berada di ruangan UGD.
"Assalamualaikum" salam bunda.
Semua orang menoleh ke asal suara.
"Wa'alaikum salam" jawab mereka semua.
"Gimana kondisi Aliza, dia baik-baik saja kan?" tanya bunda.
Terlihat raut wajah bunda yang begitu cemas.
"Masih belum ada kabar apapun saat ini dari dokter mbk, kita masih belum tau informasi tentang kondisi Aliza saat ini" jawab pak Heru.
"Apa yang terjadi sehingga Aliza bisa pingsan, enggak mungkin kan Aliza pingsan tanpa ada alasan yang jelas?" tanya ayah.
"Aliza pingsan karena kekurangan darah ayah" jawab Alisa.
"Kekurangan darah, apa Aliza terluka parah sehingga kekurangan darah lalu siapa yang sudah berani melukai Aliza?" tanya bunda.
"Gini mbk, leher Aliza tergores belati yang tajam sehingga banyak darah yang keluar dari lehernya, karena hal itu Aliza kehilangan banyak darah dan yang melakukannya adalah pak Tio, dia sekarang sudah di tangkap dan kini berada dalam jeruji besi" jawab pak Heru.
"Kenapa kamu biarin si Tio itu melukai Aliza her, kamu ada di sana kan, kenapa kamu gak langsung tangkap aja si Tio itu?" tanya bunda.
Ksmarahan bunda sudah berada di atas ubun-ubun saat tau jika aku terluka parah.
"Kenapa kamu diam jawab her?" tanya bunda tak sabaran.
"Saat bersembunyi aku gak bersama Aliza mbk, kita berpisah jadi aku gak tau menahu saat Aliza di lukai oleh pak Tio" jawab pak Heru.
"Siapa yang saat itu bersama Aliza?" tanya bunda.
Amarah bunda masih belum reda.
"Angkasa" jawab mereka serempak.
"Kemana Angkasa?" tanya bunda saat tak menemukan keberadaan Angkasa di sini.
"Angkasa lagi transfusikan darahnya di dalam bun" jawab Alisa.
Alisa begitu cemas dengan kondisi ku dan yang dia lakukan hanya diam dengan menunggu dokter memberitahukan bagaimana kondisi ku.
"Bunda duduk dulu, kita tunggu informasi tentang kondisi Aliza saat dokter keluar, kita juga tak akan bisa apa-apa kecuali menunggu pintu ruangan UGD ini terbuka" kata Reno.
Bunda mengembuskan nafas lalu duduk di samping Alisa.
Alisa langsung memeluk tubuh bunda dengan sangat eratanya.
"Bunda maafin kakak karena tidak bisa melindungi Aliza, kakak saat itu menjaga di luar, kakak gak tau apapun yang ada di dalam" kata Alisa.
Bunda menghela nafas.
"Ini bukan kesalahan kamu kak, lebih baik kita berdoa agar Aliza baik-baik saja, bunda juga tidak bisa menyalahkan siapapun di sini karena bunda tau jika kejadian ini tidak pernah kalian bayangkan sebelumnya" jawab bunda.
Alisa masih memeluk erat tubuh bunda, bunda mengusap lembut punggung Alisa.
'Ya Allah lindungilah putriku dan sematkan lah dia' Batin bunda yang tak henti-hentinya berdoa agar Aliza baik-baik saja.
Pintu ruangan UGD terbuka.
Dokter bernama Kevin muncul dari balik pintu.
"Bagaimana keadaan anak saya dok?" tanya ayah.
"Keadaan pasien sudah stabil, tapi harus di rawat dulu beberapa hari mengingat luka di leher pasien harus di kontrol, takutnya mengalami infeksi dan pembengkakan" jelas dokter Kevin.
"Apakah keadaan pasien parah dok sehingga harus di rawat?" tanya bunda.
"Keadaan pasien tidak terlalu parah, namun lukanya saja yang harus di pantau takut mengalami pembengkakan itu saja" jawab dokter Kevin.
"Alhamdulillah" syukur mereka semua.
"Dok bolehkan kami masuk menemui pasien?" tanya ayah.
"Boleh, tapi urus dulu admistrasinya agar pasien di pindahkan ke ruang perawatan" jawab dokter Kevin
"Baik dok" jawab ayah.
Dokter Kevin kemudian berlalu dari hadapan mereka semua.
"Bunda dan yang lain tunggu dulu di sini, ayah yang akan mengurus administrasi" kata ayah.
"Baik ayah" jawab mereka.
Ayah pergi mengurus administrasi.
Beliau memesan 1 kamar VVIP untuk ku dan Angkasa.
Ayah sengaja menempatkan kami berdua dalam satu ruangan karena mereka tak mungkin berjalan ke sana kemari untuk menjenguk kami beruda jika kamarnya di pisah.
Aku dan Angkasa sudah di pindahkan ke ruangan VVIP, kami berdua masih belum siuman.
Angkasa lemas saat sudah selesai melakukan transfusi darah.
Dokter memberikan obat penambah darah untuk Angkasa, setelah meminumnya Angkasa beristirahat untuk mengurangi rasa letihnya setelah seharian beraktivitas.
"Bunda mandi dulu gih udah mau magrib nih, kita ke masjid doain Aliza dan Angkasa agar mereka segera siuman" suruh ayah.
Bunda melirik jam yang menunjukkan pukul 17:17.
"Iya ayah" jawab bunda lalu melangkah memasuki kamar mandi yang tersedia di kamar perawatan ku.
Mereka semua menuju masjid yang ada di rumah sakit.