The Indigo Twins

The Indigo Twins
Cemas yang berlebihan



"Za kak Tias sudah pindah sekolah" tutur Alisa.


"Pindah? kenapa kak Tias pindah sekolah, apa yang terjadi padanya, kenapa dia mendadak pindah sekolah" aku refleks shock mendengar hal itu.


"Dia bilang sudah gak ada Roy di sini, jadi dia mutusin pindah keluar negeri" jawab Alisa.


"Yaah kok kak Tias pergi" aku sedih saat tau kalau kak Tias ikut pergi, meskipun tidak pergi untuk selamanya.


"Itu sudah keputusannya za, kamu jangan sedih, kita doakan saja semoga dia baik-baik aja di sana" Angkasa menenangkan ku yang tengah sedih.


"Mau bagaimana lagi, ini sudah menjadi keputusan kak Tias, kita gak bisa larang apalagi cegah dia"


"Za kamu kapan mau masuk sekolah?" penasaran Roki.


"Nanti, setelah aku sembuh aku pasti akan sekolah, kalau bisa aku pengen sekolah besok, biar gak terlalu lama ketinggalan pelajaran"


"Jangan za, kamu baru siuman, jangan langsung sekolah, kamu harus sembuh total baru sekolah" larang Alisa.


"Iya za, kamu jangan main sekolah dulu, aku hanya khawatir ada apa-apa sama kamu" tambah Angkasa.


"Baiklah, aku akan tunggu sampai kondisi ku pulih total, baru aku akan sekolah, oh ya bagaimana dengan restoran, apa semuanya sudah kembali normal seperti dulu lagi?"


"Sudah, ayah dan bunda sudah urus restoran, sekarang restoran sudah kembali seperti semula, mangkanya kamu cepetan sembuh, kita harus kerja lagi, kasihan bunda sama ayah" suruh Alisa.


"Iya, palingan sebentar lagi aku akan sembuh kok, kepala aku sudah mendingan, gak terlalu sakit juga"


"Udah siang nih, kita pamit dulu ya, rumah kita agak jauh dari sini, jadi gak bisa lama-lama, karena takut kemalaman di jalan" pamit Roki.


"Emang rumah kamu di hutan yang jauh dari sini apa?"


"Enggak hutan juga, cuman pelosok desa saja, memang agak jauh dari sini, mangkanya aku sering telat kalau sekolah, karena memang sekolahan itu jauh sekali dari desa ku" jawab Roki.


"Oh gitu, ya sudah sana kalian pulang, jangan hati-hati di jalan"


"Oke, ayo kita pulang" ajak Roki pada teman-temannya.


Keduanya setuju lalu keluar dari rumah sakit ini.


"Bunda mana ya, kok gak ke sini, apa biasanya bunda selalu datang saat malam hari?"


"Enggak za, biasanya sore bunda ke sini, itupun kalau lagi sibuk banget, biasanya bunda itu selalu berada di rumah sakit jagain kamu, meskipun gak di perbolehin buat masuk ke dalam ruangan ICU" jawab Alisa.


"Emang keadaan aku separah itu sampai-sampai aku di tempatin di ruangan ICU?"


"Ya jelas parah, orang kamu aja habis di operasi dan koma 1 bulan, bunda sama ayah terus kepikiran sama kamu, mereka takut kamu pergi untuk selamanya, mangkanya tadi aku gak semangat saat berada di sekolah karena gak ada kamu" jawab Alisa.


"Operasi, kenapa aku di operasi, bagian apa yang di operasi?"


"Batok kepala kamu retak, dokter terpaksa melakukan tindakan operasi, tapi untungnya kamu bisa selamat, kita udah takut banget kamu pergi, karena dokter sempat vonis kalau kemungkinan kamu selamat itu sangat kecil" jelas Angkasa.


"Pantesan aja kepala aku sakit banget" batin ku, sedari tadi aku berusaha tegar, rasa sakit di kepala itu terus terasa, tapi aku tidak mau menunjukkannya, aku hanya tak mau mereka khawatir pada ku.


"Kamu kenapa diam, apanya yang sakit?" langsung khawatir Angkasa.


"Tak kirain kepala kamu yang sakit" pikir Alisa.


"Enggak kok"


Krieet


Pintu terbuka, pandangan kami tertuju pada ayah dan bunda yang mendekat.


"Ayah bunda" panggil ku tersenyum saat melihat ayah dan bunda.


"Kamu baik-baik aja kan, gak ada yang sakit kan, bilang aja sama bunda mananya yang sakit, jangan di pendam sendiri?" dengan khawatir bunda memegang wajah ku, ia benar-benar khawatir sekali pada ku.


"Aliza baik-baik aja bun, gak ada yang perlu di takutkan, bunda gak usah khawatir"


"Alhamdulillah kalau seperti itu, bunda senang banget saat dokter ngabarin kalau kamu sudah siuman, bunda sama ayah cemas banget, takut ada apa-apa yang terjadi sama kamu, lain kali kalian berdua gak boleh keluar rumah, masalah restoran ada Indri sama tante Zera kalian yang akan urus, kalian tinggal sekolah saja, gak usah bantu ke restoran segala" trauma bunda, ia benar-benar takut kejadian itu terulang kembali.


"Gak mau bun, kita gak mau di rumah terus, aku baik-baik aja bun, gak sakit kok, bunda gak usah khawatir berlebihan seperti ini"


"Tapi za bunda itu cuman gak mau kamu sama Alisa kecelakaan lagi atau ada orang yang berniat jahat sehingga buat kamu kayak gini, dan biar lebih amannya lagi, kalian berdua bunda larang buat bantu-bantu makhluk halus lagi, bunda gak mau kejadian itu terjadi lagi" tegas bunda.


Kami berdua tercekat, bunda benar-benar akan membuat kami terkurung seperti dulu.


"Enggak mau bun" jawab kami cepat.


"Kalian harus mau, kalian harus terima keputusan yang sudah bunda buat!"


"Bunda, Aliza tau bunda gak mau kami terluka, tapi gak gini juga bun, ini namanya bikin kami berdua tertekan, bunda jangan gini juga, kami ingin terus bantu arwah-arwah yang penasaran itu, plis bunda izinin ya"


Bunda hendak melarang."Ayolah bun, bunda jangan larang kami, lain kali kami gak akan mecahin misteri yang terpendam dan besar seperti itu, asalkan bunda gak larang kami bantu arwah-arwah yang penasaran lagi" syarat Alisa.


Bunda melirik ke arah ayah untuk meminta pendapat.


"Biarin aja bun mereka lakuin apapun yang mereka mau, musibah itu kalau memang akan terjadi gak bisa di hindarkan, sama seperti kematian, sejauh apapun kita berlari, kalau ajal kita sudah tiba, semuanya akan sia-sia" jawab ayah.


Bunda menghembusakan napas berat."Baiklah kalian boleh bantu arwah-arwah yang penasaran itu, tapi kalian harus hati-hati, kalau misalnya kasus arwah itu besar dan berat, kalian jangan ambil resiko buat bantuin dia"


"Siap bun, kami gak akan nekat pecahin misteri yang memang besar dan berisiko" jawab Alisa sedangkan aku hanya diam saja tanpa mengatakan sepatah katapun.


"Awas jangan sampai kalian langgar perintah bunda, jika sampai bunda tau kalian tetap berusaha mecahin misteri besar lagi, akan bunda masukin kalian berdua ke pondok, biar kalian tau rasa!" ancam bunda.


"Tega sekali bunda buang kamu ke sana, bunda gak mikir apa kalau kami akan tertekan di sana" tak habis pikir Alisa.


"Biarin, suruh siapa jadi anak yang membangkang"


Alisa mengembuskan napas berat, ia benar-benar tak akan bisa melawan bunda.


"Kami gak akan langgar perintah bunda, bunda gak usah khawatir, kami akan patuh dengan aturan itu" sahut Alisa.


Bunda merasa tenang setelah mendengar hal itu.