The Indigo Twins

The Indigo Twins
Pak poci



"Kalian telat?" tanya pak Abi saat aku dan Angkasa menyalaminya.


"Iya pak" jawab kami dengan wajah yang sangat ketakutan.


"Berdiri di lapangan sampai jam kedua berakhir, baru kalian boleh istirahat setelah itu" tegas pak Abidin.


Aku ternganga mendengar hukuman yang separah itu, sungguh hukuman ini sangat menyiksa batin.


Anak-anak kelas yang melihat kami berdua telat tertawa bahagia.


"Iya pak" jawab kami.


"Jangan ketawa" tegas pak Abi.


Seketika anak-anak menjadi bungkam takut dengan beliau.


Aku dan Angkasa menaruh tas dulu lalu melangkah dengan berat meninggalkan kelas untuk melaksanakan hukuman


Kami berdiri di lapangan dengan satu kaki di angkat sedangkan tangan kami memberi tanda hormat.


"Matahari kenapa kau hari ini terik sekali hah, kau tak kasian melihat kami yang sedang di hukum?" tanya ku kesal.


"Berisiklah kau ini, mangkanya kalau tidur itu pasang alarm, biar enak ada yang bangunin, gak kayak tadi" jawab Angkasa.


"Kan aku ngantuk jadi kelupaan pasang alarm, aku kan biasanya gak pernah pasang alarm dan gak pernah kesiangan, mungkin karena aku kecapean aja bisa kayak gini" kata ku.


"Buahahaha"


Anak kesal yang usil menertawai kami berdua dari lantai dua.


Wajah ku langsung memanas melihat mereka semua yang berbondong-bondong menertawai ku dan Angkasa.


"Damn it" kesal ku.


"Kasian di hukum nie yee"


"Kepanasan ya hahaha"


"Duh nanti item lagi haha"


"Sial, menyebalkan sekali mereka semua ini, awas aja nanti ya, akan aku makan nanti" batin ku memanas mendengar hinaan yang keluar dari mulut mereka itu.


"Sini kau" kesal ku lalu melepas sepatu dan mengarahkan ke mereka semua.


"Waduh nenek lampir sudah mengamok lariii" kata mereka lalu tak terlihat lagi di atas balkon.


Aku memasang kembali sepatu ku.


"Hahahaha"


Mereka kembali lagi dan terus saja tertawa bahagia melihat ku yang di hukum.


"Aaargghh kesel" teriak ku yang sudah sangat kesal dengan ulah mereka semua yang sangat usil.


"Sabar za, kita gak akan bisa menghentikan mereka, biarin aja nanti mereka juga berhenti sendiri kalau sudah capek" kata Angkasa.


"Enggak bisa Angkasa raya, aku gak tahan aarrgghh kenapa hari ini sial sekali, aku benci hari Selasa" teriak ku kesal.


Aku berhenti berteriak kala melihat ke atas kepala ku yang terdapat tangan Angkasa, dia sengaja membuat payung agar aku tidak kepanasan.


Aku mengangkat satu alis tak paham dengan semuanya.


"Cepat atau lambat mereka akan berhenti juga, percuma kamu teriak-teriak gak jelas, kita bawa santai aja" kata Angkasa.


"Aaah so sweet banget, beb mereka romantis banget, kamu gak kayak Angkasa iih" kata Areta menatap iri dengan kami berdua.


"By mau kayak gitu" rengek Rita pada Deni sang pacar.


"Owh mau jemur juga?" tanya Deni.


"Ya gak usah di jemur, ish kamu ini gak peka" kesal Rita.


Semua yang punya kekasih iri dengan ku dan Angkasa.


Pacar-pacar mereka ngambek ingin juga seperti Doubel A.


"BANGKEK hei geis lari pak Abi mau ke sini, ayo selamatkan diri" teriak Vento yang membuat mereka di serang kepanikan.


"Larii" teriak mereka.


Mereka langsung berlari secepat kilat, takut juga di hukum sama seperti ku dan Angkasa.


"Haha mampus! rasain tu takut juga ya? kasihan suruh siapa menertawai ku" tawa ku bahagia kala melihat mereka yang lari seperti di kejar setan.


"Pergi juga kan?" tanya Angkasa.


Aku mengangguk sambil tersenyum manis.


"Capek tau, laper lagi, aku tadi tak sempat sarapan karena takut telat masuk sekolah dan ketakutan ku menjadi kenyataan" jawab ku.


"Whahaha"


Tatapan kami berdua tertuju pada tawa seseorang yang begitu sangat familiar.


"Kalian kenapa kok di hukum?" tanya Alisa dengan tawa nyaring.


"Waduh gawat nih, singa jantan dengan betina telah mengeluarkan tatapan elangnya, bisa matilah aku ini' batin Alisa ketar-ketir.


"Owh maaf nona dan tuan saya permisi dulu, bye" kata Alisa berlari meninggalkan mereka berdua.


"Owh kenapa hari ini sial banget" teriak ku.


Istirahat pun tiba.


"Aarrrgghh akhirnya jukuman ini selesai juga, ayo sa kita balik ke kelas ambil tas baru ke taman makan bekal kita di sana" ajak ku.


"Ayo" jawab Angkasa.


Kami berlari masuk ke dalam kelas dan mengambil tas setelah itu mendatangi taman.


"Panas banget" kata lalu mengeluarkan air dari dalam tas ku.


Aku membasuh wajah dengan air mineral yang kepanasan akibat di jemur selama kurang lebih 2 jam.


"Akhirnya segar juga, huft menyebalkan sekali hari ini" kata ku.


"Kalian di hukum kenapa?" tanya Alisa yang baru sampai di taman.


"Telat" jawab ku.


"Kok bisa, perasaan kalian tadi ada di belakang kita deh, kenapa kalian bisa telat kok kita enggak sih?" tanya Alisa.


"Tadi ada hantu anak kecil yang usil gangguin kita di jalanan, dia pura-pura menabrakkan diri ke motor, ya udah kita terpaksa turun untuk melihat apakah di baik-baik aja, eh gak taunya ternyata anak itu adalah hantu, ya udah kita telat gara-gara perbuatan dia" jelas ku.


"Eeh kok bau tanah kuburan ya, kalian menciumnya gak?" tanya Alisa.


Kami mengendus bau tanah kuburan yang masuk ke dalam indra penciuman.


Bau tanah kuburan itu bercampur dengan bau kembang yang menjadi pelengkapnya.


"Iya tau, aku walupun bukan anak indigo bisa menciumnya juga" jawab Reno.


"Tuh orangnya" tunjuk ku pada seorang laki-laki berbaju kain kafan dengan ikatan tali di atas kepalanya, ia sedang meloncat-loncat untuk menghampiri kami.


"Tolong makamkan jasad saya" kata pak poci yang berdiri di samping Alisa.


"Ya gak usah berdiri di samping aku juga, pak poci gak tau apa kalau aku ini indigo penakut" batin Alisa ketar-ketir.


Aku melihat warna kain putih pak poci yang bercampur dengan darah.


"Di mana jasad kamu berada?" tanya ku penasaran.


"Di sebelah desa kalian, tepatnya di belakang rumah warga, di situlah jasad aku di kubur oleh pelakunya" jawab pak poci.


"Apakah kamu orang di desa sebelah?" tanya Alisa.


"Tidak, aku bukan orang sana, aku dari kota, rumah ku ada di gang 9 dari sini" jawab pak poci.


"Ok pak poci kita akan bongkar makam kamu nanti sehabis pulang sekolah, pak poci bisa pergi, nanti pas pulang sekolah datanglah lagi menemui kita" kata ku.


"Baiklah terimakasih sudah mau membantu ku" kata pak poci.


"Sama-sama pak" jawab ku.


Pak poci meninggalkan kami, ia meloncat-loncat menjauhi kami.


Alisa bernafas lega kala pak poci sudah pergi


"Gak capek apa tuh pak poci lompat-lompat terus, kenapa gak ngilang aja seperti hantu-hantu lain" kata Alisa.


"Entahlah mungkin beda jenis dari hantu-hantu yang lain, kita nanti cari rumah warga yang di maksud oleh pak poci tadi" jawab Angkasa.


"Untung aja hari ini kita punya kasus baru lagi yang bisa di pecahkan, aku sudah tidak sabar untuk mengungkap kematian pak poci tadi" kata ku.


"Sebenarnya dia meninggal sih, kok kain kafannya terdapat bercak darah kayak gitu?" tanya Alisa.


"Masih belum tau juga, kita nanti juga akan tau kenapa dia bisa meninggal dan siapa pelakunya" jawab Angkasa.


"Tapi bagaimana dengan restoran, kita emang gak mau kerja hari ini?" tanya Reno.


"Kita bisa ambil shift malam, gampang kan" jawab ku.


"Boleh juga, tapi nanti kita pulang bersama-sama, aku gak mau pulang sendirian nanti kalau semisal di jalan aku ketemu sama hantu gimana, iih gak mau" bergidik ngeri Alisa.


Aku terkekeh mendengar hal itu.


"Iya nanti kita pulang bersama, eh kita ajak Ustadz kemarin gimana?" tanya ku meminta saran mereka semua.


"Kenapa Aliza pake mau meminta bantuan pada Ustadz itu" batin Angkasa menatap tak suka.


"Boleh juga, dia kan katanya paham tenang dunia gaib, kita bisa meminta bantuannya, kan enak ada yang bisa lindungi kita" jawab Alisa.


"Oke nanti aku akan ngomong sama bunda, ayo kita makan aja setelah itu balik ke kelas, sebelum telat lagi" kata ku.


Kami makan dengan tenang tanpa gangguan, hanya saja wajah Angkasa masih di tekuk karena mendengar hal barusan.


Reno melihat ekspresi wajah Angkasa yang begitu suram.


"Kenapa Angkasa tiba-tiba jadi pendiam kayak gini, hmm aku harus cari tau, ada misteri apa yang di sembunyikan oleh nih anak" batin Reno lalu melanjutkan makan.