The Indigo Twins

The Indigo Twins
Perdebatan bu Riska dengan kak Tias



Kami terus berjalan dan berkumpul di lapangan sekolah.


"Ayo kita ke rumah korban" ajak pak Heru yang kebetulan mengurus kasus ini.


"Tunggu pak" cegah kak Tias.


Pandangan semua orang yang ada di sana tertuju pada kak Tias.


"Ada apa lagi kak Tias?" penasaran Reno.


Kak Tias berjalan mendekati seseorang."Tangkap mereka, mereka yang sudah membunuh Andin dan juga Elfa" tunjuk kak Tias ke arah Shena, Hani, Bianca, Nadira, Gisel dan juga Chelsea yang sedang ketar-ketir.


Bu Riska melihat ke arah mereka."Apa benar yang di bilang Tias?"


"Itu gak benar bu, kami gak pernah bunuh siapapun, dia itu bolong" helak Hani.


"Iya bu, dia bohong, kami gak ada sangkut pautnya sama masalah ini" jawab Shena.


"Ibu harus percaya sama kami" helak Chelsea.


"Saya rasa bukan mereka pelakunya" kami terkejut mendengar ucapan bu Riska.


"Kenapa ibu seyakin itu, apa ibu bersekongkol dengan mereka?" kak Tias menatap bu Riska tanpa rasa takut sedikitpun, sudah lama ia geram sekali pada bu Riska, tepatnya dari sejak kematian Fariz.


"Tutup mulut mu, saya tidak pernah terlibat dalam pembunuhan manapun, saya itu yakin sekali kalau mereka bukan pelakunya sebab mereka itu anak baik-baik, lagi pula kamu tidak punya bukti, jadi jangan asal nuduh orang" mereka berenam tersenyum saat bu Riska membelanya.


"Siapa bilang saya tidak punya bukti, saya punya ibu Mariska yang terhormat, saya punya" penuh penekanan kak Tias yang sudah geram sekali pada mereka berenam dan ia tidak akan pernah membiarkan mereka berenam lolos.


"Kalau kamu punya perlihatkan, kami ingin bukti bukan omongan saja" tantang bu Riska.


Kak Tias mengambil ponsel Angkasa dan memperlihatkan rekaman cctv itu."Lihat dengan jelas siapa yang berada di dalam video ini, apakah di dalamnya ada mereka berenam?"


"Tentu aja ada bu Mariska yang terhormat karena mereka adalah biang kerok yang sudah melakukan ini semua" mereka berenam kembali ketar-ketir ketika kejahatannya di ketahui oleh semua orang.


"Kenapa dia bisa dapatin rekaman itu" batin Hani.


"Itu bohong bu, ibu jangan percaya, rekaman itu palsu" Chelsea masih sempat-sempatnya membela diri dalam keadaan seperti ini.


"Kalian masih mau ngelak sedangkan bukti sudah ada di mata mata, kalian ini benar-benar manusia tidak punya hati, pak polisi cepat tangkap mereka" perintah kak Tias yang sedang emosi.


Pak Heru dan rekan-rekannya mengamankan mereka berenam yang memang terlihat dalam kejadian ini.


"Tidak, jangan tangkap kami, kami tidak bersalah"


"Kami tidak bersalah"


"Tolong lepaskan kami"


"Dia bohong, kami tidak ada sangkut pautnya dalam hal ini"


Teriak mereka yang memberontak.


"Diam, jangan bergerak" gertak pak Heru yang langsung membuat mereka semua diam.


"Pak Jeryy, pak Abu tolong bawa mereka ke kantor polisi, saya akan urus jenazah korban bersama pak Geryy" tintah pak Heru.


"Baik komandan" jawab mereka.


"Ayo cepat jalan" mereka berenam berjalan dengan terus berteriak-teriak tak mau di jebloskan ke dalam penjara.


"Ayo anak-anak kita ke rumah korban" ajak pak Heru.


Kak Tias menatap ke arah bu Riska dengan tatapan tajam, kemudian dia berlalu begitu saja meninggalkan bu Riksa yang diam mematung.


Kami mengikuti ambulance dengan menggunakan motor dari belakang.


Setelah beberapa saat akhirnya kami sampai di rumah Elfa.


Tangis haru memenuhi rumah Elfa saat kedua orang tuanya tau anak mereka yang hilang beberapa hari ini di nyatakan meninggal dunia.


Aku dan yang lain berada di depan rumah Elfa tak berani masuk karena tak sanggup rasanya hati ini mendengar tangisan yang begitu memilukan itu.


"Elfa kamu kenapa bisa kayak gini, apa yang sudah terjadi pada mu, siapa yang sudah lakuin ini pada mu nak" tangis orang tua Elfa yang tak menyangka jika Elfa akan pergi untuk selamanya.


Aku yang mendengar tangisan itu hanya bisa diam, aku juga merasa gagal karena tak bisa menyelamatkan Elfa.


Angkasa terus menenangkan aku yang sedang down karena gagal dalam misi kali ini.


Angkasa terus mengusap punggung ku."Udah kamu jangan sedih, ini sudah terjadi, kita gak bisa ngindarin, mungkin beginilah akhir hidup Elfa"


"Aku tau sa, andai saja kita cepat mecahin misteri di balik angka 4,6,8 itu, mungkin Elfa gak akan ikut meninggal seperti Andin"


"Ini sudah terjadi za, yang penting itu kita udah usaha, masalah berhasil atau gagal itu hal biasa" jawab Angkasa.


"Sebentar-sebentar 4,6,8 angka 4 itu berati lantai 4, angka 6 menunjuk ke jumlah pelakunya sedangkan untuk angka 8 adalah hari Elfa di kurung di toilet dan Andin yang di gudang, kenapa gak dari dulu aku tau artinya, kan kejadian ini gak akan terjadi"


"Iya sih, kalau kita tau dari awal, kita pasti akan langsung nyelamatin Elfa" jawab Angkasa.


Reno melirik ke arah kami."Udah gak usah sedih, Elfa sekarang sudah tenang, dia gak takut lagi ada di dalam kamar mandi dan kita doakan saja semoga Andin juga bisa kembali ke alam selanjutnya dengan tenang, dan teruntuk Roy kita doakan juga agar dia bisa ikhlasin Andin"


"Amin" jawab kami.


"Anak-anak om pamit dulu, om mau ngurus tersangka yang udah terlibat dalam kasus ini" pamit pak Heru.


"Iya om pergi aja, pastikan mereka dapat hukuman yang setimpal, aku gak terima kalau mereka di hukum sedikit karena apa yang udah mereka lakuin ini gak bisa di kasih ampun lagi"


"Iya, om akan urus kasus ini, untuk berapa lama mereka di penjara, biar hakim yang akan mutusin, udah om mau pulang dulu, kalian gak mau pulang juga, ayo sekalian bareng om" ajak pak Heru.


"Enggak om, kami masih mau nganterin Elfa ke pengistirahatan terakhirnya, baru kalau dia udah selesai dikebumikan kami akan pulang"


"Ya sudah kalau seperti itu, om pamit dulu, assalamualaikum" salam pak Heru.


"Wa'alaikum salam" jawab kami.


Pak Heru meninggalkan rumah Elfa bersama dengan pak Geryy, ia masih harus mengurus kasus pembunuhan itu hingga benar-benar selesai.


Jenazah Elfa di mandikan, setelah selesai baru di kafani, kemudian di sholati.


Baru setelah itu di kebumikan.


Sepanjang perjalanan kalimat "lailaaha illallah, muhammadur rasulullah" terus di ucapakan oleh orang-orang yang mengantarkan jenazah Elfa ke pemakaman umum.


Setelah beberapa saat kami sampai di pemakaman umum.


Tangisan yang menyayat hati kembali terdengar saat jenazah Elfa perlahan-lahan mulai di tutupi oleh tanah.


Aku menitihkan air mata saat tangisan itu begitu menyayat hati.


Angkasa terus berusaha menenangkan ku yang down sekali."Sstt jangan nangis, kamu jangan merasa bersalah za, ini semua sudah di kehendaki oleh Allah, kita gak bisa ngelawan takdir"


Aku mengangguk lalu menyeka air mata yang terus berjatuhan.