The Indigo Twins

The Indigo Twins
Meremehkan



Tobe geram saat mendengar jawaban Tone, ia terus mengepal kuat tangannya dengan membiarkan tatapan muat pada temannya.


"Aliza"


Panggilan itu membuat ku menatap ke arahnya.


"Tolong aku, tolong aku dari genderuwo itu"


Mereka semua mengangguk, mereka menatap ke arah genderuwo yang sangat besar dan tinggi.


"Fahri" Ustadz Fahri mengangguk, ia mengerti apa yang akan ia perbuat.


"Kalian bantulah Aliza, masalah genderuwo itu, biar kami yang akan beresin" suruh Ustadz Fahri.


"Baik tadz" jawab Angkasa.


Angkasa, Reno dan Dita berlari mendekati ku yang terluka.


"Za kamu gak apa-apa" khawatir Angkasa saat melihat ku yang terkulai lemas dengan terus menahan rasa sakit.


"Aku gak apa-apa sa, aku baik-baik saja"


Reno menatap ke banyaknya anak-anak kecil yang berada di belakang ku, tatapannya jatuh pada seorang anak kecil yang tengah menangis ketakutan.


"Rani"


"Kakak Rani takut" Rani langsung memeluk Reno, ia benar-benar sangat takut saat berada di dalam lingkaran pohon bambu yang seram.


"Kamu jangan takut dek, ada kakak di sini, kamu gak apa-apa kan, gak ada yang luka kan?" Rani menggeleng cepat.


"Gak ada kak, Rani baik-baik aja" jawab Rani.


"Syukurlah kalau begitu" lega Reno, ia begitu senang karena adiknya telah ketemu.


Tatapan Ustadz Fahri dan Ustadz Zaki terus menatap dengan intens ke arah genderuwo itu.


"Oh jadi kau yang sudah membuat masalah selama ini di desa" akhirnya Ustadz Zaki menemukan biang keroknya juga.


"Iya, aku memang yang sudah membuat onar di desa ini, kalian jangan ikut campur kalau kalian tidak mau ku beri pelajaran!" tegas genderuwo itu.


"Jelas kami akan ikut campur, kami tidak akan pernah biarkan kau membuat warga-warga di desa ini senggsara lagi, sudah cukup kau buat mereka menderita, sekarang waktunya kau pergi meninggalkan desa ini bersama pasukan mu" jawab Ustadz Fahri.


"Hahaha kalian tidak akan bisa ngusir aku dari sini, kalian adalah makhluk lemah, aku yang paling kuat di sini, kalian bukan tandingan ku" genderuwo itu menertawakan Ustadz Fahri dan Ustadz Zaki.


Kedua Ustadz itu saling pandang memandang, mereka mengangguk-angguk kepalanya lalu kembali menatap ke arah genderuwo itu dengan tatapan tajam.


"بسم لله الرحمن الرحيم ٱللَّهُ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلْحَىُّ ٱلْقَيُّومُ ۚ "


Ustadz Fahri membacakan ayat kursi dengan sangat fokus.


Genderuwo itu diam tanpa ekspresi saat telinganya kembali mendengar lantunan ayat kursi.


"لَا تَأْخُذُهُۥ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ ۚ لَّهُۥ مَا فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِى ٱلْأَرْضِ ۗ"


"Hahahaha"


Genderuwo itu tertawa, ia tidak merasakan panas sama sekali saat mendengar lantunan ayat kursi yang Ustadz Fahri lantunkan.


"Baca saja, aku tidak takut, aku makhluk kuat, bukan makhluk lemah seperti kalian semua"


"Aku tidak akan kepanasan walaupun kalian membacanya berulang kali"


Genderuwo itu meremehkan kami, ia terus tertawa terbahak-bahak di dalam hutan ini.


Suaranya terdengar menggelegar dahsyat seisi hutan, anak-anak kecil yang berada di belakang ku terus menangis ketakutan.


"مَن ذَا ٱلَّذِى يَشْفَعُ عِندَهُۥٓ إِلَّا بِإِذْنِهِۦ ۚ "


Seketika tawa genderuwo itu terhenti, ia begitu terkejut saat Ustadz Zaki melempar garam ke arahnya.


"KAU!"


Genderuwo melototkan matanya ke arah Ustadz Zaki yang terus melemparkan garam ke arahnya.


"Pergi kau dari sini, jangan buat onar lagi di desa ini, sudah cukup kau membuat semua orang menderita, sekarang waktunya kau meninggalkan desa ini" Ustadz Zaki terus melempari genderuwo itu dengan garam yang ia bawa.


Genderuwo itu tercekat, ia merasa panas saat kedua Ustadz itu terus mengusirnya dengan garam dan bacaan ayat kursi.


"Aaarrrrggh hentikan!"


Genderuwo itu berteriak senyaring mungkin, ia menutup kedua telinganya ketika ayat kursi yang di bacakan Ustadz Fahri membuat telinganya panas.


"HENTIKAN!"


"Jangan di baca lagi!"


Ustadz Fahri tak berhenti, ia terus membaca ayat kursi sedangkan Ustadz Zaki terus melempari genderuwo itu dengan garam.


"وَسِعَ كُرْسِيُّهُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ ۖ وَلَا يَـُٔودُهُۥ حِفْظُهُمَا ۚ وَهُوَ ٱلْعَلِىُّ ٱلْعَظِيمُ"


"Arrrrgghh panas, berhenti, aku tidak kuat!"


Genderuwo itu meraung kepanasan saat mendengar bacaan ayat kursi.


Genderuwo itu berhenti berteriak, ia menatap tajam ke arah kami semua, tepatnya Ustadz Fahri dan Ustadz Zaki, ia mengepal kuat tangannya tanda marah besar.


Genderuwo itu memejamkan mata, kemudian munculah teman-temannya dari bangsa yang sama sepertinya.


"Kau, kau yang sudah ngambil istri ku, berani-beraninya kau merebutnya dari ku, aku akan beri kau pelajaran!" Bima langsung emosi saat melihat Ustadz Zaki, laki-laki yang sudah berhasil mengambil mbk Indri darinya.


"Mumpung kau ada di sini, akan saya buat kalian semua pergi selamanya dari desa ini!"


"Fahri" Ustadz Fahri mengangguk, ia tau harus melakukan apa.


"بسم لله الرحمن الرحيم"


"قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ ٱلنَّاسِ"


Mereka yang berjumlah tiga orang langsung diam saat mendengar lantunan surah An-Nas.


Wajah Tone langsung memerah saat mendengar bacaan ayat itu.


"مَلِكِ ٱلنَّاسِ. إِلَٰهِ ٱلنَّاسِ"


"Arrrrgghh"


Mereka bertiga langsung kepanasan, mereka meraung tak karuan.


"Berhentiiii!"


"Stop jangan lakukan lagi!"


"Arrrrgghh"


Ketiga makhluk halus itu tak bisa diam, ia terus meraung kepanasan, suara mereka membuat ku dan yang lain diam dengan menatap takut.


"مِن شَرِّ ٱلْوَسْوَاسِ ٱلْخَنَّاسِ"


Ustadz Zaki yang melihat mereka semua tidak bisa diam, lebih tepatnya kepanasan mengeluarkan sesuatu dari dalam sakunya.


"Aaarrrrggh!"


Teriak mereka semua saat tubuh mereka masuk ke dalam botol, Ustadz Zaki langsung menutup botol itu dengan cepat agar mereka tidak keluar.


"Berhasil, mereka semua tidak akan mengganggu desa ini lagi"


"Iya, mereka tidak akan berulah lagi, kita harus buang botol itu di laut, biar mereka tidak akan bisa kembali lagi"


Ustadz Zaki mengangguk, ia begitu lega saat genderuwo yang dari kemarin-kemarin mengusik rumah tangganya akhirnya berhasil ia tangkap.


Aku dan yang lain langsung mendekati Ustadz Zaki dan Ustadz Fahri.


"Ayo kita pulang, kita harus keluar dari hutan ini" ajak Ustadz Fahri.


Kami mengangguk lalu keluar dari hutan ini bersama-sama anak-anak kecil itu.


Ustadz Zaki melihat banyaknya anak-anak kecil yang mengikuti dari belakang, sebagian besar di antara mereka sudah menjadi arwah dan tidak bisa di selamatkan lagi.


Ustadz Zaki hanya bisa menghela napas karena ia tidak bisa membuat anak-anak kecil itu kembali menjadi manusia seperti semula.


Sepanjang perjalanan keluar dari dalam hutan, telinga kami mendengar suara-suara aneh yang di percaya berasal dari makhluk halus.


Kami semua diam dan terus berjalan keluar dari dalam hutan itu hingga pada akhirnya kami bisa keluar juga.