The Indigo Twins

The Indigo Twins
Sunset



Aku terus berlari mengejar kunang-kunang yang semakin menjauh.


Semakin aku berlari suara air itu semakin terdengar jelas di telinga ku.


Aku makin semangat untuk berlari hingga aku melihat cahaya matahari yang menyinari wajah ku.


Aku menghalangi mata ku dengan telapak tangan karena cahaya matahari itu benar-benar menyilaukan mata.


Aku terdiam, aku begitu takjub melihat pemandangan di depan ku.


"Air terjun" kaget ku kala melihat air terjun yang sangat-sangat aku kenali.


"Ini bukannya air terjun di desa ku" kata ku yang sudah sangat tak asing dengan air terjun itu.


Aku ternganga melihat itu semua, tatapan mata ku kini beralih pada langit yang sudah berwana jingga.


"Kok udah mau terbenam aja, perasaan baru aja siang, aneh" kata ku menatap aneh.


Aku melihat ke belakang.


"Sa cepetan di sini ada cahaya matahari" teriak ku senang.


"Cahaya matahari" kata Angkasa masih tidak mengerti.


"Apa jalanan ini sudah berakhir" pikir Angkasa.


"Mungkin aja kak, ayo kak kita harus samperin kakak Aliza" jawab Arif.


Angkasa mengangguk lalu berlari mendekati ku.


Tak berselang lama dari itu mereka berdua sampai di sini.


"Tada, lihat kita sudah berhasil pulang" kata ku sangat gembira.


Angkasa tertegun melihat air terjun yang sangat asing baginya.


"Emang di desa ada air terjunnya?" tanya Angkasa.


"Ada dong, lihat itu rumah aku" jawab ku dengan menunjuk ke arah rumah yang tak seberapa jauh dari sini.


Saat ini kami berada di atas bukit, dari sini kami melihat semua rumah warga yang terlihat sangat kecil.


"Akhirnya kita bisa pulang juga setelah sekian lama kita nyasar di tempat-tempat yang sangat-sangat aneh" kata Angkasa lega sekali.


"Ternyata benar tebakan ku jika suara air itu adalah suara air terjun" kata ku.


"Iya, untung pilihan kita buat melewati jalanan gelap ini gak salah, kalau tidak kita pasti tak akan bisa kembali pulang ke rumah" kata Angkasa.


Aku mengangguk pandangan ku melihat ke arah langit yang berwarna jingga.


"Indah banget sunset itu, kayak sudah sangat lama banget aku tak melihat sunset lagi, padahal belum juga satu hari aku tak melihat sunset" kata ku sendiri.


"Iya" jawab Angkasa yang merasakan hal yang sama.


Aku teringat sesuatu, aku melihat ke belakang tepat ke arah kunang-kunang yang masih diam di tempat.


"Terimakasih, berkat kalian aku dan Angkasa serta Arif bisa pulang ke rumah" kata ku dengan tersenyum manis.


Kunang-kunang kemudian masuk ke dalam jalanan yang gelap itu dan meninggalkan kami semua.


"Untung kita ketemu sama kunang-kunang itu, kalau tidak kita pasti tak akan tau jika akhir jalanan ini adalah air terjun yang ada di desa" kata ku.


"Ini kita turunnya gimana, kita berada di ketinggian, tak ada tangga tanah ataupun batu yang bisa membantu kita untuk turun dari sini?" tanya Angkasa yang bingung akan hal itu.


"Kita lewat mata air kecil itu" jawab ku menunjuk ke arah mata air itu.


Di samping air terjun yang besar ada mata air yang mengalir, tapi tak sederas air terjun dan di sana ada tangga batu yang di aliri mata air.


Angkasa melihat tangga yang di aliri mata air.


"Tapi bakalan licih za dan di bawah itu ada batu besar, jika nanti kita jatuh bisa langsung beda alam lah" kata Angkasa.


Di bawah tangga batu ada batu yang berukuran besar, medannya juga menyulitkan kami untuk bisa turun ke bawah dengan selamat.


Arif terkekeh kecil mendengar apa yang Angkasa katakan.


"Ya udah kalau gitu kita lewat perosotan yang terbuat dari batu yang di aliri mata air di samping kanan air terjun gimana?" tanya ku meminta pendapatnya.


"Tapi nanti kita jatohnya ke danau" jawab Angkasa.


"Ya emang kita akan jatohnya ke danau, masa ke jurang sih, gimana kamu ini" kata ku.


"Terus nanti tangan kamu bakal perih kalau kena air lagi" jawab Angkasa.


Aku melihat tangan ku yang terluka.


"Luka kecil doang, gak sakit juga kok, ayo kita langsung turun nanti keburu malem lagi" jawab ku lalu mendekati perosotan.


Aku duduk sambil meluruskan kaki ku.


Tubuh ku meluncur dari perosotan yang tak terlalu tinggi, aku berteriak senang menikmati wahana gratis ini, tubuh ku masuk ke dalam air danau yang dingin.


"Ayo sa jangan takut, jangan risau, kalian gak akan mati kok kalau lewat situ" teriak ku yang melihat Angkasa yang tampak ragu-ragu untuk melewati perosotan itu.


"Dalem gak za?" tanya Angkasa.


Bukannya menjawab aku malah berenang di danau yang sangat bersih, entah kenapa aku merasa sudah sangat lama tidak menyentuh air.


"Ish nih anak malah asik berenang-renang bagaikan putri dugong aja, gak tau apa kalau aku lagi ketar-ketir" batin Angkasa yang takut jika setelah ia melewati perosotan itu, dia akan tidak bisa bernapas lagi.


Aku melihat kembali ke arah keduanya yang masih diam di tempat.


"Enggak, ayo cepatan ke sini, aku nanti akan bantuin kalau ada masalah" jawab ku.


Dengan ragu-ragu Angkasa meluruskan kakinya seperti yang aku lakukan tadi, ia merangkul Arif karena bocah kecil itu tak mungkin lewat perosotan sendiri.


"Bismillah semoga setelah aku lewat perosotan ini aku masih bisa hidup di dunia ini amin" doa Angkasa.


"Amin" jawab Arif.


Angkasa melewati perosotan itu.


"Arrgghhh" teriak keduanya saat tubuh mereka meluncur melewati perosotan.


Byuurr!


Tubuh keduanya masuk ke dalam danau, aku menangkap Arif dan membawanya ke tepi danau yang lebih dangkal.


"Kamu di sini ya, jangan masuk ke dalam danau, nanti kamu bisa tenggelam" kata ku.


"Baik kak" jawab Arif.


Aku kemudian mendekati Angkasa yang sibuk menangkap ikan namun sangat susah untuk di tangkap.


"Ish kenapa susah sekali" kesal Angkasa karena sudah sejak tadi tak kunjung mendapatkan ikan yang banyak di danau.


"Bodoh, masa nangkap ikan aja gak bisa" hina ku untuk membalaskan dendam karena dia sudah sejak tadi menghina ku.


"Coba kamu yang tangkap, jika kamu memang pintar" tantang Angkasa.


"Oke siapa takut" jawab ku.


Aku mendekati ikan mas yang memang aku pelihara.


Danau ini adalah danau buatan, nenek buyut ku yang sudah membuat danau yang berukuran sedang ini dan aku memelihara ikan dengan berbagai jenis di dalam danau ini.


Aku menangkap ikan mas itu dengan sangat mudah.


"Bisa kan, kamunya aja yang bodoh" jawab ku.


"Aku akan buktiin kalau aku juga bisa nangkap ikan" kata Angkasa tak mau kalah.


"Cepat buktiin" jawab ku.


Angkasa melihat semua ikan-ikan yang ada di dalam danau.


Pandangannya jatuh pada ikan yang terjebak di batu, dengan cepat Angkasa mendekatinya lalu mengambilnya.


"Bisa kan" kata Angkasa.


"Curang" kata ku.


"Yang penting kan bisa" jawab Angkasa tergelak.


"Kakak aku dapat ikan besar" teriak Arif yang mengalihkan perhatian kami.


Mata kami menangkap Arif yang tengah menggendong ikan mas paling besar yang baru pertama kali aku lihat.


"Ke sana yuk sa" ajak ku.


"Ayo" jawab Angkasa.


Kami berdua berenang mendekati Arif.


Arif dengan tenaga yang masih ia punya menggendong ikan mas dan meletakkannya di daratan, ikan itu tak bisa diam.


"Wahh besar banget hebat Arif" kata Angkasa takjub melihat ikan mas itu.


Aku begitu takjub melihat ikan yang sudah Arif tangkap.


"Kakak Arif boleh makan ikan ini gak?" tanya Arif.


"Boleh kok, nanti kita masak" jawab ku.


"Yeeay makasih kak" senang Arif.