The Indigo Twins

The Indigo Twins
Prihatin



"Iya kak, kami tadi nyari jasadnya Andin bareng Roy, tapi maaf kami masih belum nemuin pelakunya, InsyaAllah besok kami bakal cari tau lagi, mudah-mudahan besok kami tau siapa yang sudah melakukan tindakan kriminal itu" jawab Alisa.


"Terus jasadnya Andin sekarang kemana, apa ada di dalam rumah sakit ini?" penasaran kak Tias.


Alisa menggeleng."Gak ada kak, jasadnya udah di makamin, kami tadi ke desanya buat nganterin Andin ke pengistirahatan terakhirnya"


"Di sana ada mamanya Andin gak?" ingin tau kak Tias.


Kami mengangguk kompak."Ada, tante Dara pulang setelah dengar kalau Andin meninggal dunia" jawab Angkasa.


"Roy ketemu sama mamanya Andin gak?" kak Tias memastikan hal ini karena dia sudah tau seperti apa jalan percintaan sepupunya.


Aku mengangguk."Iya kak, Roy ketemu sama tante Dara, mereka tadi sempat cekcok, setelah pulang dari sana Roy mengalami kecelakaan, aku merasa Roy masih terpukul dengan kepergian Andin"


Kak Tias sungguh terkejut."Pantas saja Roy kecelakaan, ternyata ini yang dia alami"


"Kami gak nyangka kak kalau Roy bakal kecelakaan, kalau kami tau hal ini akan terjadi, pasti tadi kami akan nganterin Roy pulang ke rumahnya terlebih dahulu dan kejadian naas ini gak akan pernah terjadi" sesal Reno.


"Apa kalian tau motif pelaku itu membunuh Andin?" kami menggeleng kompak.


"Enggak kak, kami masih belum tau, tapi kami yakin orang yang sudah membunuh Andin itu lebih dari satu"


"Kenapa kalian seyakin itu?" penasaran kak Tias.


"Karena Andin memberikan teka-teki, jika kami bisa mecahin teka-teki itu, kami akan tau siapa dan kapan serta di mana dia di bunuh"


"Apa teka-tekinya?" kak Tias sangat penasaran pada teka-teki yang Andin berikan, ia ingin tau, mudah-mudahan dia bisa mecahin teka-teki itu.


"4,6,8"


Kak Tias langsung mengerutkan alis."4,6,8 rumit sekali teka-tekinya"


"Teka-tekinya memang rumit, mangkanya kami susah buat mecahinnya, apalagi Andin tak mau memberi bocoran sedikit saja tentang misteri di balik angka 4,6,8 itu" jawab Alisa.


"Tapi Andin nyuruh kita buat segera mecahin misteri di balik angka 4,6,8 itu sebelum dia keburu meninggal"


Kak Tias mengerutkan alis."Dia, dia siapa?"


"Nah itu yang kami bingungkan, kata dia itu masih menjadi misteri, besok kami akan cari tau lagi, semoga saja kami bisa tau siapa dia yang Andin maksud"


"Iya besok pagi kalau gak sibuk aku akan ikut kalian buat ngungkap siapa yang Andin maksud itu" kami senang mendengar kalau kak Tias mau ikut berpatisipasi dalam rangka menyelesaikan kasus ini.


"Kak Tias tadi kami sempat nelpon mamanya Roy, tapi kenapa mamanya Roy malah kayak benci banget sama Roy, ada apa sebenarnya Roy dan orang tuanya, kenapa mereka kayak gak akur?" penasaran Alisa semoga saja kak Tias dapat menghilangkan rasa penasaran yang sedang memuncak itu.


"Kasihan banget Roy kak, kenapa orang tuanya segitunya benci sama Roy, masa dia gak punya rasa kasihan sama Roy sedikitpun, Roy kak juga anaknya?" tak menyangka Alisa jika kehidupan Roy begitu menyakitkan.


"Entahlah, aku juga bingung dengan jalan pikiran tante Dewi" jawab kak Tias.


"Bisa-bisanya orang tua segak peduli itu sama anaknya walaupun anaknya udah ngelakuin kesalahan" tak habis pikir Angkasa.


"Emang tante Dewi itu punya berapa anak?"


"Tante Dewi itu cuma punya anak dua, yaitu Roy dan Khalisa, dari dulu tante Dewi itu pengen banget punya anak perempuan, setelah di kasih sama Allah dia senang banget, segala apa yang Khalisa inginkan pasti langsung tante Dewi turutin, namun kejadian di mana jatuhnya Khalisa dari tangga membuat tante Dewi membenci Roy, dia ngusir Roy dari rumah, selama ini Roy hidup sendiri, dia bebas dapat melakukan apa saja tanpa punya beban sama sekali" jelas kak Tias.


Reno yang mendengar cerita yang sebelah dua sebelah dengan kisah hidupnya hanya bisa berusaha untuk menahan air mata.


"Ternyata masih ada orang yang hidupnya lebih menyakitkan dari pada aku" batin Reno.


Angkasa yang mendengar suara hati Reno langsung mengusap punggung Reno untuk menenangkannya.


"Kasihan banget Roy tau, pantes aja dia terus gangguin aku, ternyata dia kesepian, orang tuanya gak peduli sama sekali padanya, untung aja ayah dan bunda gak kayak gitu" prihatin Alisa.


"Kamu di ganggu sama Roy?" tak percaya kak Tias.


"Iya kak, dia terus gangguin aku saat di kelas, sumpah sepupu kakak itu nyebelin banget, tapi saat tau semuanya gak jadi nyebelin" jawab Alisa.


Kak Tias tersenyum."Dia memang suka gitu, sebenarnya dia itu baik, dia ngelakuin itu pasti ada tujuan tertentu, gak mungkin dia gangguin orang tanpa ada tujuannya"


"Iya sih kak" jawab Alisa.


"Kak Roy itu hidup sendiri udah berapa lama?" penasaran Reno.


"Sekitar 2 tahun yang lalu, dia hidup sendiri tanpa di kekang sama siapapun, dia juga masuk ke dalam anggota geng motor untuk melampiaskan segalanya, dia berubah setelah kematian adik kecilnya, tapi setelah bertemu dengan Andin, pelan-pelan dia mulai kembali seperti Roy yang dulu, namun siapa sangka kalau hubungan mereka tidak di restui oleh tante Dara" jawab kak Tias.


"Kenapa sih tante Dara itu pake larang-larang Roy dekat sama Andin, orang Roy gak macem-macem kok, kenapa tante Dara sampai segitunya benci sama Roy" tak habis pikir Alisa.


"Aku juga tidak tau, Roy terus berusaha buat ambil hati tante Dara, namun tante Dara terus membenci Roy, padahal Roy gak berniat buruk pada Andin sedikitpun" jawab kak Tias.


"Kasihan banget Roy, udah di benci oleh orang tuanya, gak di restui sama tante Dara, terus sekarang dapat cobaan yang lebih berat yaitu berpisah dari Andin untuk selamanya, beh gak kebayang rasanya jadi Roy, kalau aku yang berada di posisinya, aku lebih baik mati aja, gak sanggup aku hidup dalam keadaan seperti itu" prihatin Alisa.


"Kalau di benci sama orang tua Roy masih bisa kuat, tapi kalau harus berpisah dengan orang yang dia cinta kayaknya butuh waktu lama bagi Roy untuk menerimanya" jawab kak Tias.


"Kita doakan aja semoga Roy bisa terima walaupun berat, aku yakin kok dia sanggup ngelewatin hari-harinya meski tanpa Andin"


"Semoga saja" harapan kak Tias.