The Indigo Twins

The Indigo Twins
Koma



Di luar Angkasa menghentikan motor di depan rumah sakit, ia berlari ke ruangan operasi.


Di sana sudah ada mereka semua yang menunggu dengan tidak tenang.


"Bagaimana dengan keadaan Aliza, dia ada di mana sekarang, dia baik-baik saja kan?" khawatir Angkasa ketika menangkap wajah mereka yang terpancar kecemasan yang mendalam.


"Aliza ada di dalam sa, dia lagi di operasi" jawab Ustadz Fahri.


"O-operasi, kenapa harus di operasi?" tercekat Angkasa.


"Batok kepala Aliza setelah di ct scan r


mengalami keretakan, sekarang dokter lagi operasi dia di dalam" jawab Ustadz Fahri.


Angkasa langsung terduduk di bawah dengan tatapan linglung.


"S-separah itu, kenapa Aliza bisa kecelakaan, siapa yang sudah nabrak dia, bilang sama aku, aku yang akan datangin dia?" tak terima Angkasa.


"Saya tidak tau siapa yang sudah nabrak Aliza, dia kecelakaan di depan showroom, motornya rusak parah, tadi kami sempat dengar kalau Aliza di kabarkan meninggal karena kondisinya yang terlihat tak akan bisa di selamatkan" jawaban Ustadz Fahri semakin membuat Angkasa tambah down.


"Kenapa mesti mereka yang kecelakaan, kenapa gak orang lain saja, nyesel aku gak ikut pulang bersama mereka" Angkasa menyalahkan dirinya sendiri dalam kejadian ini.


"Kamu jangan nyalahin diri kamu sendiri, ini semua terjadi di luar dugaan kita, sekarang kita doakan saja semoga operasi Aliza berjalan dengan lancar" sahut Ustadz Fahri.


Angkasa diam, ia tidak lagi berontak, ia terduduk lemas di bawah dengan bersandar di dinding, wajahnya terpancar kecemasan yang sangat besar.


"Za kamu harus kuat, kamu harus bisa sembuh, jangan tinggalin aku" lirih angkasa yang tengah kacau dan itu semua masih bisa terdengar di telinga Ustadz Fahri yang berdiri di sampingnya.


Ustadz Fahri menatap ke arah Angkasa yang kacau, ia tidak mengatakan apapun dan terus berdoa meminta kesembuhan.


Waktu terus berputar, menit-menit berlalu, jam-jam hilir mudik berganti tapi sampai saat itu pintu ruangan operasi tidak kunung terbuka, mereka semakin tambah cemas, di antara mereka terus memikirkan ku dengan tidak tenang.


Krieet


Terdengar suara pintu ruangan operasi yang terbuka.


Mereka semua langsung mendekati dokter yang keluar.


"Bagaimana dok keadaan anak saya?" cemas bunda.


"Pasien koma, kami akan menempatkan pasien di ruangan ICU"


"Bundaaaa!"


Mereka semua refleks berteriak saat melihat bunda yang tiba-tiba jatuh pingsan setelah mendengar kabar keadaan ku.


"Bunda bangun bun, buka mata bunda" ayah menepuk pipi bunda, tetapi mata bunda tetap tak terbuka.


"Bunda bangun bun, bunda" panggil ayah dengan terus menepuk pipi bunda.


"Ayah bawa bunda ke kamar Alisa, baringkan bunda di sana" suruh Ustadz Fahri.


Ayah mengangguk, lalu menggendong bunda dan membawanya ke ruangan Alisa.


"Dokter tolong selamatkan Aliza, jangan buat dia pergi dok" titah Angkasa dengan deraian air mata yang sesekali mengalir.


"Kami akan menyelamatkan semaksimal mungkin, suster bawa pasien ke ruangan ICU"


Suster-suster itu mendorong brankar ku menuju ruangan ICU.


Mereka menatap wajah ku yang tak terlihat karena di tutupi perban, mereka mengikuti para suster itu dari belakang.


"Aliza bangun za, Aliza kamu harus kuat za, jangan tinggalin aku, aku mohon bertahanlah, aku yakin kamu bisa" Angkasa terus mengatakan itu di sepanjang perjalanan, ia benar-benar tak tega saat melihat keadaan ku yang separah itu.


Tak ada tanggapan, namun Angkasa masih belum menyerah, ia mengatakan semua hal agar aku dapat bertahan.


"Kalian tidak boleh masuk, harap tunggu di luar" perintah dokter.


Mereka terpaksa berhenti, suster-suster itu mendorong brankar ku masuk ke dalam ruangan ICU.


"Ya Allah Aliza" Angkasa semakin kacau, ia memukul dinding dengan kasar untuk melampiaskan segalanya.


"Sa sadar, kamu jangan kayak gini, tindakan mu itu bisa membuat mu terluka, saya tau kamu cemas, tapi gak kayak gini" Ustadz Fahri melarang Angkasa yang melakukan tindakan gilanya.


"Tadz Aliza, bagaimana dia tadz, aku tidak mau dia kenapa-napa" tubuh Angkasa pelan-pelan terduduk di bawah, rambutnya sudah acak-acakan.


"Maka dari itu kita harus banyak-banyak berdoa biar Aliza bisa segera siuman"


Angkasa diam, ia menatap lurus ke depan, pikirannya terus tertuju pada ku yang berada di ruangan ICU.


Ustadz Fahri menatap ke arah Angkasa yang kacau balau, ia menghembuskan napas berat, ia mengusap wajahnya kasar.


"Ya Allah cobaan apa lagi yang kau berikan, ya Allah hamba mohon selamatkan Aliza, sembuhkanlah dia ya Allah amin" batin Ustadz Fahri yang terus berdoa.


Angkasa terus diam, pandangannya menatap kurus ke depan, sesekali air mata mengalir di pipinya.


"Za kamu jangan tinggalin aku, aku gak akan sanggup kamu pergi, aku tidak mau kamu pergi za, biarkan aku saja yang pergi, asal bukan kamu" ucapan lirih Angkasa terdengar jelas di telinga Ustadz Fahri, namun Ustadz Fahri hanya diam tak mengatakan apapun.


Mereka bertiga menunggu di depan ruangan ICU dengan tidak tenang.


Krieet


Sontak Angkasa langsung bangun dari duduk, tak lupa ia menyeka sedikit air mata yang tiba-tiba jatuh.


"Suster bagaimana dengan keadaan Aliza, apa ada perubahan suster?"


"Belum, kondisi pasien masih sama, masih tidak ada perubahan sama sekali"


"Suster saya ingin masuk ke dalam, saya ingin ketemu sama Aliza, boleh ya sus"


"Tidak boleh mas, ini ruangan khusus, tidak boleh di masuki orang sembarangan"


"Ayolah suster saya ingin ketemu sama Aliza, saya mohon sus, pliiis" Angkasa terus memohon, ia ingin sekali masuk ke dalam dan melihat keadaan ku dengan mata kepalanya sendiri.


"Maaf mas tidak bisa, kondisi pasien masih belum stabil, pasien tidak bisa di jenguk untuk saat ini" setelah mengatakan hal itu suster itu langsung berlalu meninggalkan mereka.


"Suster saya ingin masuk suster, izinkan saya masuk" teriak Angkasa namun tak ada tanggapan sama sekali dari diri suster itu.


"Suster, arrrrgghh!" Angkasa yang tengah frustasi berteriak sekeras mungkin, ia tidak peduli kalau sekarang ini ia berada di rumah sakit yang di larang keras membuat kebisingan.


"Angkasa tenang dulu, kamu jangan gini sa" Ustadz Fahri menenangkan Angkasa yang kacau.


"Bagaimana aku bisa tenang tadz, Aliza koma, dia kecelakaan dan di saat itu aku gak bisa buat apa-apa, andai aja aku gak pulang duluan, aku masih bisa selamatin dia, tapi ini tidak tadz, aku tidak bisa berbuat apa-apa, aku hanya tidak mau kehilangan dia tadz"


"Saya tau ketakutan kamu, tapi ini rumah sakit, harus tau tempat, bukan Aliza saja yang di rawat di sini, tetapi juga masyarakat, kamu harus jaga sikap, kita saat ini hanya bisa berdoa, gak ada cara lain, itu saja yang bisa kita lakukan!"


Angkasa mengacak rambutnya kasar, ia menendang dinding dengan kasarnya.


Angkasa tak merasakan sakit apapun, sungguh keadaannya benar-benar kacau, Angkasa duduk di bawah dengan bersandar pada dinding, tatapan matanya terus menatap lurus ke depan.


"Za" panggil lirih Angkasa yang membuat Ustadz Fahri memalingkan wajah.


Mereka bertiga tak ada yang mengatakan apapun, mereka diam di tempat dengan terus menunggu di ruangan ICU.