The Indigo Twins

The Indigo Twins
Nikah dadakan



"Terus bagaimana caranya mbk Indri bisa terlepas dari suami gaibnya tadz?" sangat penasaran Angkasa.


"Dia harus menikah lagi, biar suami gaibnya tidak lagi mengganggunya, tak ada cara lain lagi" jawab Ustadz Zaki.


"Masalahnya mbk Indri mau nikah sama siapa tadz, dia gak punya calonnya?"


"Saya akan bersedia menikahinya, yang penting dia bisa terlepas dari suami gaibnya" jawaban Ustadz Zaki membuat kami semua terkejut.


"Zaki"


Ustadz Zaki mengangguk, ia tau Ustadz Fahri terkejut dengan apa yang ia katakan.


"Saya akan menikahinya malam ini juga, karena saya merasa suami gaibnya akan datang dan membawanya ke desa gaib malam ini"


"Tapi tadz yang akan jadi walinya siapa, gak mungkin pak Jarwo, kalau pak Jarwo yang jadi wali sama saja menyerahkan mbk Indri" Angkasa teringat pada hal itu.


"Apa kamu tidak punya kakak laki-laki?" mbk Indri menggeleng.


"Enggak tadz, saya gak punya kakak laki-laki, kakak saya semuanya perempuan" jawab mbk Indri.


"Terus ini gimana, masa mbk Indri yang mau nikah gak ada walinya" bingung Alisa.


"Saya punya paman, dia adik dari papa, dia ada di luar kota, hanya dia satu-satunya adik papa yang gak suka sama papa, gak tau apa masalahnya" jawab mbk Indri.


"Mbk Indri bisa suruh dia datang ke sini, bilang aja kalau mbk Indri mau nikah, tapi pastiin kalau dia berpihak pada kita"


"Iya, nanti mbk akan suruh dia datang ke sini" jawab mbk Indri.


"Kalau bisa malam ini juga saya akan menikahi kamu, suruh beliau datang ke sini secepatnya" titah Ustadz Zaki yang di balas anggukan oleh mbk Indri.


"Zaki kamu belum izin sama orang tua mu, kenapa kamu main nikahin anak orang" tak habis pikir Ustadz Fahri memberikan tatapan tajamnya.


"Abi sama ummi akan setuju, kamu tidak usah khawatir, orang tua ku pasti setuju" jawab Ustadz Zaki.


"Kalian tunggu di sini dulu, saya ingin bicara empat mata dengan Ustadz Zaki" kami semua mengangguk lalu Ustadz Fahri dan Ustadz Zaki keluar dari dalam rumah.


"Kamu kenapa lain nikahin dia?" tak habis pikir Ustadz Fahri.


"Ini darurat Fahri, kalau aku gak nikahin dia, dia akan selamanya hidup di desa itu bersama suami gaibnya"


"Terus bagaimana dengan Anggun, kamu kan sudah bertunangan dengannya, kamu gak mikirin perasaan dia apa!"


"Aku sama Anggun sudah kelar, dia baru saja menikah dengan orang lain"


Ustadz Fahri terkejut mendengar berita itu."Kok bisa, kenapa kalian bisa putus, apa yang sudah terjadi?"


"Dia matre ri, abi sama ummi aku gak setuju aku sama dia, ya sudah hubungan kami kandas gitu aja, baru 2 Minggu yang lalu Anggun nikah sama juragan tanah yang kaya itu"


Ustadz Fahri diam."Tapi ki, masa kamu akan nikahin Indri hari ini juga, gak kecepatan apa?"


"Enggak, ini udah mepet banget ri, kalau aku telat sedikit saja datang ke sini, pasti dia sudah gak akan bisa tertolong lagi, mangkanya aku rela-relain datang ke sini hari ini juga agar dia bisa selamat dari suami gaibnya, kamu gak usah khawatir, aku yang akan hadapi serangan dari suami gaibnya, dia akan aku jaga, gak akan aku biarkan dia di bawa sama suami gaibnya"


"Tentang perasaan?" pertanyaan itu membuat Ustadz Zaki diam.


"Cinta bisa tumbuh dengan seiring berjalannya waktu, aku gak akan sakitin dia, kamu jangan takut aku akan ninggalin dia setelah suami gaibnya pergi, kamu percaya saja sama aku"


Ustadz Fahri sudah nyerah, dia tidak bisa lagi mencegah pernikahan temannya yang dadakan itu.


Tin


Tin


Tin


Klakson mobil membuat keduanya menatap ke arah gerbang.


Ustadz Fahri langsung berlari membuka gerbang itu, kemudian mobil itu masuk dan berhenti tepat di depan rumah.


"Loh siapa ini, apa ini temen kamu?" ayah merasa asing dengan pemuda yang sebelas dua belas dengan Ustadz Fahri.


"Iya ayah, ini Ustadz Zaki, beliau orang yang mau menikahi mbk Indri" ayah dan bunda tak kalah terkejutnya mendengar penuturan Ustadz Fahri.


"Menikahi Indri?"


"Kapan kalian akan menikah?"


"Kalau bisa malam ini tante" jawab Ustadz Zaki.


"Kok dadakan sekali, pernikahan itu harus di siapin jauh-jauh hari, gak bisa dalam beberapa menit langsung selesai" terkejut bunda.


"Pernikahan saya dengan Indri gak usah pakai pesta tante, cuman ijab kabul saja" jawab Ustadz Zaki.


"Yang jadi walinya siapa, apa pak Jarwo?" penasaran ayah.


"Bukan ayah, tapi pamannya mbk Indri yang ada di luar kota, InsyaAllah dia berpihak pada kita" jawab Ustadz.


"Syukurlah kalau seperti itu, ayo kita masuk, kita bahas di dalam saja" ajak bunda.


Kami yang ada di dalam terkejut ketika melihat ayah dan bunda yang masuk ke dalam rumah.


"Ayah bunda kok pulang sekarang?" tercekat Alisa.


"Emang kamu maunya bunda pulang kapan?" tak habis pikir bunda.


"Aliza bilang bunda akan pulang sore, kenapa tiba-tiba berubah pikiran" jawab Alisa.


"Kata ayah kalau sore akan macet di jalan, ya sudah kami berangkat lebih awal, gimana tentang Indri, apa dia beneran akan nikah hari ini?" terkejut bunda.


Kami semua mengangguk kompak.


"Iya bun, mbk Indri akan nikah hari ini"


"Kalian mau nikah di mana, di masjid apa di rumah ini saja?" bunda menatap ke arah Ustadz Fahri dan Ustadz Zaki.


"Di sini saja bun, kalau di masjid takutnya ada orang yang lihat mbk Indri dan akan laporin ke pak Jarwo, lebih baik di sini saja, nanti masalah pak penghulunya biar saya akan panggilkan" jawab Ustadz Fahri.


"Walinya apa sudah datang?" heboh bunda yang saat ini menjadi tuan rumah di acara pernikahan Ustadz Zaki dan mbk Indri.


"Belum tante, mungkin ashar om akan sampai di sini" jawab mbk Indri.


"Dia berpihak pada kita kan, kamu sudah pastiin kan?" bunda memastikan hal itu, ia tidak mau keluarganya tekena masalah.


"Iya tante, om berpihak pada kita, tante jangan khawatir, om dan papa itu kayak saling bermusuhan, mereka saling bertentangan jadi om gak akan berpihak pada papa" jawab mbk Indri.


"Syukurlah kalau seperti itu, eh kita gak bisa diam aja, sekarang beres-beres, semuanya harus siap, kalau bisa ashar pernikahan kalian harus berlangsung, nak Fahri panggil pak RT, dia harus jadi saksi pernikahan Indri" suruh bunda yang heboh.


"Baik bunda, saya akan temui pak RT" Ustadz Fahri bangkit dari duduk dan berjalan keluar dari rumah.


"Eh tunggu nak Fahri" Ustadz Fahri berbalik badan menghadap ke belakang kembali.


"Ada apa lagi bun?"


"Pastikan kalau pak RT mau jadi saksi dan berpihak pada kita" Ustadz Fahri mengangguk.


"Iya bun, saya pamit dulu assalamualaikum" pamit Ustadz Fahri.


"Wa'alaikum salam" jawab kami.


Ustadz Fahri keluar dari dalam rumah.


"Kalian kenapa pada bengong, ayo beres-beres" suruh bunda.


Kami semua bangun dari duduk dan mulai membersihkan rumah.