
Reno tengah memasukkan semua barang-barang yang mau dia bawa tiba-tiba.
Drrt
Drrt
Hp Reno bergetar ia lalu mengangkatnya.
^^^"Halo ren kata bunda dan ayah mereka mengizinkan kita buat bantuin kamu besok, kamu udah kemas-kemas belum?" tanya Alisa.^^^
"Ini lagi kemas-kemas, besok aku akan bawa ke sekolahan kita ketemu saja di sana" jawab Reno.
^^^"Iya aku akan tunggu kamu di sekolahan, kamu pastikan jangan sampai orang tua mu tau tentang rencana ini" tintah Alisa.^^^
"Iya aku akan usahain kok, mama sama papa belum pulang jadi aman aku bilang seperti ini pada mu" jawab Reno.
^^^"Aku tutup dulu ya besok kita ketemu di sekolahan bye" kata Alisa mematikan sambungan.^^^
Reno tersenyum setelah sekian lama ia kehilangan senyuman manisnya.
"Terimakasih ya Allah engkau mengirimkan orang baik untuk membantu hamba, hamba mohon mudahkanlah langkah hamba ini amin" kata Reno.
Reno kembali melanjutkan mengemasi barang-barangnya.
Alisa mendekati kami bertiga.
"Sudah Bun, Reno saat ini sedang berkemas-kemas untuk rencana besok" kata Alisa duduk di samping ku.
"Kalian hati-hati jangan sampai kalian terluka, kalian rembukan sama kakek mungkin saja kakek kalian mempunyai cara" kata bunda.
"Baik Bun nanti kita akan beritahu kakek tentang hal ini" jawab ku.
Kami melanjutkan makan malam bersama, setelah makanan kami habis, kami pulang ke rumah karena waktu sudah semakin larut.
Di perjalanan tak ada yang menganggu kami, makhluk tak kasat mata sepertinya tau kalau kami sedang lelah.
Di atas atap mobil sudah ada mbk Hilda dan Tiger yang bercengkrama.
Saat mobil berhenti di rumah, aku langsung turun dan masuk ke dalam kamar, menggosok gigi dan berwudhu setelah itu mendekati kamar tidur, aku memejamkan mata dan mulai terlelap dalam tidur ku.
Aku membuka mata dan menatap sekeliling.
"Di mana ini?" kata ku bertanya-tanya.
Aku melihat ruangan yang amat sederhana namun bersih dan rapih.
Aku berjalan menuruni anak tangga, mata ku melihat seorang wanita cantik berusia sekitar 20 tahun tengah duduk di meja belajarnya, kebetulan pintu kamarnya tengah terbuka.
"Siapa wanita itu" kata ku.
Wanita cantik itu sangat fokus dalam belajarnya, aku tak ingin menganggunya aku kembali berjalan.
Aku menatap sekeliling sampai-sampai mata ku menangkap foto pemuda yang berusia sekitar 12 tahun.
"Kok seperti wajah Reno" kata ku mendekati foto itu.
"Iya ini beneran Reno tapi mengapa dia terlihat seperti anak yang baru kelas 6 SD" kata ku.
Puas aku melihat foto Reno aku kembali berjalan dan menemukan seorang lelaki yang berusia sekitar 38 tahun duduk manis di sofa dengan memegang koran.
Tak lama dari itu datanglah seorang wanita dengan wajah masamnya dan duduk di sofa dengan raut wajah kesal.
"Mama kenapa kok pulang dari arisan kesal seperti itu?" tanya Robi ayah Reno.
"Bagaimana mama gak kesel, apa papa tau tadi itu jeng Ana nunjukin tas branded yang mahal pada teman-teman saat arisan, mereka pada ngejek mama, karena mama gak bisa beli barang-barang mewah seperti mereka, mama sudah capek hidup pas-pasan seperti ini, ayolah pa kita ubah kehidupan kita, mama pengen banget hidup dengan bergelimang harta" jawab Desi ibu Reno.
"Papa gak punya cara biar kita bisa kaya raya, jualan sate kita saja gak terlalu rame, ada yang beli aja udah bersyukur banget" kata Robi.
"Akkh mama gak mau tau pokoknya kita harus kaya seperti teman-teman mama, papa gak cepak apa hidup kere seperti ini" tintah Desi.
"Papa juga capek tapi mau bagaimana lagi, tak ada cara lain lagi selain diam saja" jawab Robi.
"Apa papa gak punya cara sedikitpun buat mengubah kehidupan kita ini?" tanya Desi.
Robi tak menjawab ia malah berpikir.
"Dulu papa itu pernah di tawarin sama Eden bagaimana caranya kaya dalam waktu singkat tapi dalam jalur yang tidak benar" jawab Robi setelah beberapa saat terdiam.
"Kayak persugihan gitu?" tanya Desi.
"Iya seperti itu, asal mama tau sekarang Eden sudah kaya raya, dia bisa punya mobil yang bagus, rumah mewah apalagi dia bisa jalan-jalan kemana saja setelah melakukan persugihan" jawab Robi.
"Mama juga mau pa, ayolah pa kita lakukan persugihan saja kita berdoa juga tidak di kabulin" kata Desi.
Aku yang mendengar hal itupun langsung mengelus dada.
"Astaghfirullah hal adzim kenapa mereka gelap mata seperti ini" kata ku.
"Ide bagus bentar papa mau telpon Eden dulu, papa mau nanya di mana dia melakukan persugihan" setuju Robi.
Robi mengeluarkan hp ia lalu menghubungi Eden.
"Halo bro gimana kabarnya" kata Robi saat penggilan terhubung.
^^^"Kabar baik dong ada apa nih kok tumben-tumbenan nelpon, coba aku tebak kamu pasti mau melakukan persugihan seperti ku kan" tebak Eden.^^^
"Kok kamu tau aku kan belum bilang apapun" kaget Robi.
^^^"Haha aku sudah feeling dari awal, kalau kamu mau melakukan persugihan, kamu hanya tinggal datang ke desa Pongkolan, di sana akan ada dukun bernama Ki Suryo dia yang akan bantu kamu biar bisa kaya sama seperti ku" kata Eden.^^^
"Kamu share lokasinya biar kami gak nyasar di tengah jalan" tintah Robi.
^^^"Iya aku akan share, udah dulu ya soalnya pesawat ku akan segera berangkat, biasa traveling dulu" jawab Eden.^^^
"Widih enak benar ya sekarang bisa kemana aja" kata Robi.
^^^"Wah iya dong nanti kamu juga bisa nyusul aku, aku tutup dulu ya sampai jumpa" jawab Eden lalu mematikan sambungan.^^^
"Ayo pa kita langsung saja ke desa itu mama sudah gak sabar untuk segera menjadi orang kaya" ajak Desi.
"Iya kita langsung ke sana, tapi bagaimana dengan anak-anak mereka tak mungkin kita bawa ke sana" kata Robi.
"Ada Reni yang akan jaga mereka, bentar mama mau ke kamar Reni dulu papa tunggu di mobil sana" jawab Desi.
Desi melangkah memasuki kamar Reni, aku mengikutinya dari belakang.
"Ren mama sama papa ada urusan sebentar di luar, kamu jaga adik-adik mu, mama gak lama kok perginya" kata Desi.
"Iya aku akan jaga mereka, awas jangan lama-lama" jawab Reni.
"Iya mama berangkat dulu" kata Desi lalu melangkah keluar dari dalam kamar Reni.
"Owh jadi wanita cantik ini mbk Reni toh, tapi kata Reno mbk Reni sudah meninggal, mengapa dia baik-baik aja, sebenernya ada apa ini" kata ku bingung.
Aku mendekati mbk Reni.
"Mbk Reni aku Aliza" kata ku.
Tak ada jawaban yang ku dengar.