
Setelah sholat selesai di dirikan mereka kembali ke ruangan perawatan ku dan mendapati Angkasa yang sudah siuman.
"Aliza belum sadar sa?" tanya Alisa.
"Belum" jawab Angkasa.
"Gimana ini, kenapa Aliza masih tak kunjung sadsr juga" cemas bunda.
"Bunda tenang dulu, mungkin bentar lagi Aliza akan siuman, bunda tunggu saja di sini, ayah akan belikan makanan dulu" jawab ayah lalu pergi meninggalkan kami.
Mereka semua berada di dalam ruangan perawatan ku dengan pikirkan yang cemas.
Aku membuka mata dengan pelan-pelan, rasa sakit terasa di kepala ku.
"Aaauw" rintih ku memegang kepala.
"Aliza, kamu sudah bangun nak?" tanya bunda mendekati ku.
"Enggak kok Bun, aku baik-baik saja, bunda gak usah khawatir" jawab ku.
"Baik-baik saja bagaimana, lihat leher mu tergores belati, kamu masih bilang baik-baik saja" kata bunda tak percaya.
"Sstt bunda jangan berisik, aku baik-baik aja, jangan khawatir pada ku" jawab ku.
Aku terpaksa berbohong karena aku tak mau bunda semakin khawatir dan malah tak mengizinkan ku untuk menolong orang lain lagi.
Tiba-tiba pintu terbuka dan terlihat ayah yang kembali dengan membawa makanan di tangannya, beliau membagikan makanan kepada semua orang.
"Terimakasih om" kata Dava.
Ayah mengangguk sambil tersenyum.
"Ini buat dedek sama kasa" kata Ayah menyerahkan kantong plastik pada bunda.
Bunda mengambil plastik hitam dari tangan ayah.
"Mau bunda suapin ga?" tanya bunda.
"Mau" jawab ku
Bunda lalu menyuapkan soto daging ke mulut ku.
Setelah selesai makan kami memutuskan untuk istirahat.
Pagi ini matahari bersinar terang.
Aku menggeliat saat sinar matahari masuk dari celah jendela yang membuat mata ku silau.
Alku membuka mata perlahan-lahan.
Aku merenggangkan kedua tangan ku.
"Aauw" ringis ku saat tidak sengaja memiringkan kepala ku yang sedang terluka.
"Kenapa za?" tanya bunda khawatir.
"Gpp kok Bun, oh ya kemana semua orang kok gak ada, perasaan tadi malam mereka masih ada di sini, kenapa sekarang sudah tidak ada walau hanya satupun?" tanya ku bingung.
Bunda duduk di kursi dekat brankar ku.
"Om kamu melanjutkan tugasnya sedangkan Dava dan ayahnya pulang ke rumahnya, ayah lagi nganterin mereka semua" jawab bunda.
"Kalau Alisa sama Reno kemana Bun?" tanya ku.
"Noh, tengok jam agar kamu tau ke mana mereka berdua menghilang" suruh bunda.
Aku melirik jam weker yang ada di samping, aku tersenyum tersenyum mengerti.
"Jam 9:02 mereka berdua pasti sedang berada di sekolah jam segini" batin ku.
"Ya Allah kesiangan berarti aku bangunnya, bunda bantuin Aliza ke kamar mandi" tintah ku.
Bunda menghentikan aktivitas.
"Bentar bunda panggil suster dulu buat lepasin infus kamu" jawab Bunda beranjak dari duduknya, lalu membuka pintu setelah itu hilang tak terlihat lagi.
"Gimana keadaan kamu?" tanya Angkasa.
"Sudah lumayan baik, kamu kenapa bisa di rawat di sini juga, kamu sakit apa?" tanya ku kaget.
Baru kemarin aku melihat Angkasa masih dalam keadaan baik-baik saja.
"Aku gpp, aku cuman kekurangan darah doang" jawab Angkasa.
"Kok bisa?" tanya ku semakin tak mengerti.
Aku tersenyum haru mendengar hal itu.
"Terimakasih sa" kata ku.
"Sama-sama" jawab Angkasa.
Pintu terbuka yang menghentikan percakapan kami.
Terlihat Bunda dan seorang suster serta dokter yang muncul.
Suster mendekati ku lalu membuka infus ku sedangkan dokter ingin mengecek kondisi Angkasa.
Dokter bernama Gladis mendekati Angkasa, dokter muda dan cantik itu memegang tangan Angkasa.
Tiba-tiba lintasan-lintasan kehidupan yang di alami oleh dokter cantik itu terlihat dengan jelas di mata Angkasa.
Angkasa menjauhkan tubuhnya dari dokter cantik di hadapannya.
Tubuh Angkasa gemetaran saat tau apa yang telah di lakukan oleh dokter itu selama ini.
"Hei kenapa adek?" tanya dokter Gladis merasa aneh.
Aku dan bunda menoleh ke arah Angkasa.
Bunda dengan cepat menghampiri Angkasa.
"Kenapa nak?" tanya bunda mengusap keringat di dahi Angkasa yang bercucuran.
Angkasa hanya menggeleng.
Dokter menatap aneh ke arah Angkasa.
"Gimana dok kondisi Angkasa?" tanya bunda mengalihkan perhatian dokter agar tidak menganggap Angkasa aneh.
"Kondisinya sudah stabil mungkin satu sampai dua hari lagi Angkasa di perbolehkan untuk pulang, ini resep obatnya di tebus di apotik ya bu" jawab dokter.
Dokter Gladis menyerahkan catatan kecil, bunda lalu mengambil resep obat itu sambil tersenyum.
"Makasih dok" jawab bunda.
"Sama-sama" balas dokter Gladis dengan senyuman lalu melangkah meninggalkan ruangan perawatan ku dan Angkasa.
Aku dan Angkasa memperhatikan banyaknya sosok yang mengikuti dokter Gladis di belakangnya.
Sosok yang mengikuti dokter Gladis tertidur dari anak keci, remaja, lanjut usia dan ibu hamil.
Setelah suster pergi bunda menghampiri Angkasa.
"Ada apa sa, kok kamu kayaknya takut liat dokter Gladis?" tanya bunda penasaran.
Angkasa menarik nafas sebelum bicara.
"Di belakang dokter Gladis itu ada banyak sosok yang mengikutinya, Angkasa tidak tau apa motif sosok itu mengikuti dokter Gladis" jawab Angkasa.
"Apa mereka bisa membahayakan dokter Gladis, apa sosok itu sama dengan kasus Reno yang di ikuti makhluk menyeramkan yang dapat membahayakan?" tanya bunda.
"Mungkin, tapi yang jelas mereka mengikuti dokter Gladis karena pasti ada sesuatu yang tersembunyi di dalamnya" jawab Angkasa.
"Apa dokter Gladis yang sudah menyebabkan mereka semua meninggal?" tanya bunda.
Angkasa memegang kepalanya, pikirannya
penuh dengan 'mereka' yang sudah tiada.
"Entahlah Bun, kita cari aja dulu kebenarannya, Angkasa belum bisa memastikan siapa mereka dan kenapa mereka mengikuti dokter Gladis" jawab Angkasa.
"Aku gak yakin dokter sebaik dokter Gladis yang membuat mereka semua meninggal, biasanya kalau orang jahat itu terlihat di wajahnya, tapi ini apa tidak ada gelagat aneh sedikitpun yang terlihat di wajah cantik dokter Gladis" kata ku.
Sosok-sosok yang mengikuti dokter gladis berjumlah 6 orang, dua orang pasangan suami istri, satu seorang nenek-nenek, satu seorang anak kecil, satu lagi gadis remaja dan satu ibu hamil yang kandungannya berusia hampir sembilan bulanan.
"Kita selidiki aja kebenarannya dulu, kita tidak tau mereka itu mengikuti dokter gladis karena sekedar mengikuti saja atau ada maksud lain" jawab Angkasa.
"Bunda ikut" kata bunda.
Entah ada angin apa sehingga seorang bunda juga ingin ikut dalam kasus kali ini.
Aku menatap bunda tak percaya.
"Beneran Bun, Aliza gak salah dengerkan? dari abad-abad yang lalu baru kali ini loh bun Aliza dengar kalau bunda mau ikut berpetualang selama Aliza menjadi anak indigo" kata ku tak percaya dengan apa yang barusan aku dengar.
"Iya, masih gak percaya" kata bunda menatap malas ke arah ku yang ternganga.
"Iya percaya kok" jawab ku.