
Aku yang lagi melihat ruangan ini dengan seksama terkaget kala mendengar suara hp yang berbunyi.
Aku mengeluarkan dan tertera nama kembaran ku yang muncul di layar.
"Halo sa-
^^^"Za orang tuanya Dava sedang berjalan ke sana, kalian cepatan sembunyi sebelum mereka menemukan kalian" jawab Alisa cepat.^^^
"Oke-oke" kata ku
Aku mematikan sambungan telepon setelah mendengar apa yang Alisa laporkan barusan.
"Ada apa za, Alisa bilang apa?" tanya Angkasa.
"Kata Alisa orang tuanya Dava lagi mau kesini, gimana ini" jawab ku gelisah.
Mereka semua terkaget mendengar hal itu.
"Kita harus mencari tempat persembunyian yang aman dan pastinya tak akan ketahuan oleh orang tuanya Dava" kata Angkasa.
Kraaaackkk
Wajah kami semakin panik saat mendengar pintu ruangan rahasia terbuka.
"Gawat, kita harus sembunyi sekarang sebelum mereka nangkap kita" kata ku.
Kami berlari tanpa arah karena sakit paniknya.
Pak Heru dan kedua temannya serta Dava bersembunyi di bawah tangga sedangkan aku dan Angkasa masuk ke dalam suatu kamar tempat penyimpanan barang-barang bekas.
kami berdua bersembunyi di bawah kolom meja yang terhalang oleh barang-barang bekas.
tap tap tap
Pasangan suami istri itu menuruni anak tangga.
Pak Heru dan rekannya serta Dava berusaha untuk tidak mengeluarkan bunyi yang bisa memancing mereka curiga akan keberadaannya.
"Semoga mama tidak menyadari keberadaan ku" batin Dava.
Tante Celina dan om Tio melewati mereka semua tanpa kecurigaan sedikitpun.
Mereka bernafas lega saat tante Celina dan om Tio tak menyadari keberadaan mereka.
"Syukurlah mama dan om tidak menyadari keberadaan ku" syukur Dava bernafas lega.
Kriet
Aku dan Angkasa resah saat mendengar ada orang yang membuka pintu, yang saat ini ada kami berdua yang tengah bersembunyi di dalamnya.
Tante Celina menekan saklar lampu.
Ruangan yang mula-mula gelap kini terang benderang.
"Duh gimana ini kalau sampai mereka menemukan keberadaan aku dan Angkasa di sini bisa berabe nanti ya Rabb lindungilah kami' batin ku.
"Wah wah wah" kata om Tio berbicara dengan suara keras, aku dan Angkasa semakin tegang dalam keadaan seperti ini.
"Kamu gak akan bisa lari" suara om Tio menggema di telinga kami yang di landa rasa cemas, gelisah, resah dan sebagainya.
"Matilah aku" batin ku tegang.
tap tap tap tap tap
Suara langkah kaki yang semakin mendekat.
"Ya Allah hamba mohon selamatkan kami berdua dari iblis ini, hamba mohon sekali" batin Angkasa.
Ketegangan terpancar di wajah kami saat mendengar suara langkah kaki yang semakin mendekat.
Keringat dingin mulai bercucuran membasahi wajah kami, kami tak berani melihat wajah om Tio dan tante Celina yang saat ini ada di ruangan ini juga.
"Hai Devan apa kabar teman ku" sapa om Tio tersenyum menyeringai kepada orang yang duduk di kursi yang ada di depannya, dengan tangan serta kaki dalam keadaan terikat sedangkan mulutnya di lakban.
Aku dan Angkasa membuka mata karena kaget.
"Untung aja ga ketahuan makasih ya Allah' batin Aliza yang bersyukur.
Om Tio membuka lakban yang menutup mulut om Devan.
"Pengecut" tutur om Devan.
"Haha Devan-devan, kamu mudah sekali terjebak dalam perangkap yang sudah kami ciptakan" tawa tante Celina bahagia.
"Devan, apakah kamu tau, saat ini perusahaan keluarga Pakerlimo sedang melambung tinggi sedangkan perusahan Salfanza milikmu turun draktis, pintar kan ide ku yang membuat bisnis keluarga Salfanza hancur berkeping-keping" kata ok Tio dengan penuh hinaan di dalamnya.
Aku yang saat ini berada di kolom meja menatap mereka bertiga yang terlibat dalam kasus ini.
"KAMERA aku harus rekam segalanya, biar nanti aku punya bukti untuk menangkap om Tio sama tante Celina" batin ku.
Aku membuka aplikasi berwarna putih di tengah-tengahnya berbentuk bulatan kecil berwarna hitam.
"Hahaha akhirnya aku bisa mengalahkan kamu juga!, selama ini aku iri dengan apa yang kamu dapatkan, kau tau apa yang aku inginkan semuanya kamu yang mendapatkannya, dulu aku tak bisa apa-apa dan sekarang aku bisa dengan mudah menghancurkan mu, sudah lama aku ingin membuat mu seperti ini" tawa om Tio puas.
"Apa yang kamu inginkan sekarang, kamu sudah menghancurkan perusahaan yang sudah mati-matian aku bangun, apa lagi yang kamu inginkan dariku hah?" tanya om Devan, ia begitu sangat tertekan dengan ulah om Tio selama ini.
Om Tio menghentikan tawanya, ia menatap om Devan dengan wajah yang berubah menjadi garang.
"Yang aku inginkan sekarang hanya membuat mu MENDERITA" kata om Tio dengan penuh penekanan
Di mata Tio terlihat sebuah dendam yang berkobar.
"Kau sudah membuat ku menderita, kau memisahkan aku dengan anakku, kau juga telah menghancurkan perusahaan ku, kau sudah memberi ku penderitaan yang teramat dalam, apakah kau belum puas melihat ku yang tak bisa apa-apa di saat putra ku menangis hah, apalagi yang akan kau berikan pada ku, kau sudah menghancurkan segalanya Tio" kata om Devan.
Sungguh terlukanya hati om Devan yang tak bisa berbuat apa-apa kala Dava di lukai oleh mereka berdua.
"Apa salahku Tio, kenapa kau tega melakukan ini semua pada ku, Tio teman ku tidak seperti ini, katakan apa yang sudah aku lakukan sampai membuat mu begitu membenci ku" kata om Devan.
Om Tio tersenyum sinis.
"Kamu mau tau kenapa aku bisa sangat membenci mu kan, dengerin baik-baik" jawab om Tio.
Om Tio menarik nafas dalam.
"Aku Tio Pakerlimo pernah mencintai seorang gadis cantik, saat aku menembaknya dia malah menolak ku mentah-mentah, mau tau kenapa dia bisa menolak ku? semua itu karena kamu, dia menolak ku karena dia lebih memilih untuk mengejar cinta mu dan mengabaikan perasaan ku, aku membenci mu karena hal itu. hampir semua yang aku inginkan bisa kamu dapatkan dengan mudah, aku Tio Pakerlimo berjanji akan memastikan seluruh hidup mu hanya di kelilingi penderitaan CAMKAN IT" tegas om Tio yang pernah merasakan sakit hingga menciptakan dendam di hatinya.
Om Devan diam sesaat, dulu waktu muda memang banyak sekali gadis-gadis yang memperebutkan ya.
Om Devan tak menyangka jika temannya membencinya karena hal itu.
"Tio aku tidak tau apa-apa tentang hal itu" kata ok Devan.
"Tolong lepasin aku, aku ingin keluar dari sini, aku sudah lelah di kurung di sini, aku sungguh tersiksa Tio" mohon om Devan.
"Mengeluarkan mu? hahaha" tawa om Tio dengan sangat keras.
"JANGAN MIMPI" tegas om Tio yang tak akan pernah membebaskan om Devan.
Klontang!
Angkasa tak sengaja menyenggol kaleng bekas yang ada di sampingnya.
"Gawat" batin ku.