
"Sa siapa siluman ular itu, kenapa pak Jarwo bertekuk lutut padanya?"
"Sepertinya dia adalah makhluk yang di sembah sama pak Jarwo selama ini, tadi kita juga dengar kan kalau pak Jarwo menyembahkan mbk Indri pada mbah Brahma, yang artinya mbk Indri yang kita temui di alam gaib itu beneran mbk Indri yang asli" jawab Angkasa.
"Kita harus tolongin dia sa, kita gak boleh biarkan dia terjebak di dalam desa gaib itu karena kejahatan pak Jarwo"
"Iya, tapi bagaimana caranya, kita harus gunain cara apa untuk bisa masuk ke dalam desa gaib itu lagi?" bingung Angkasa yang saat ini tidak mempunyai cara apapun lagi.
"Gak ada cara lain selain datang ke rumah mbah Gamik dan buka lemari besar itu, kita kan bisa masuk ke desa gaib karena masuk ke dalam lemari itu yang di dalamnya terdapat portal menuju ke sana"
"Tapi za bunda gak bakalan izin kita masuk ke sana lagi, bunda pasti akan ngelarang keras kita ke rumah mbah Gamik lagi" aku diam, karena memang aku tidak akan bisa membujuk bunda kaki ini.
"Kita harus bisa bujuk bunda, karena saat ini nyawa mbk Indri tidak akan ke tolong kalau bunda ngelarang kita masuk ke desa gaib lewat lemari besar yang ada di rumah mbah Gamik"
"Ayo sekarang kita keluar, kita temuin bunda, sebelum mbk Indri nikah sama makhluk halus anaknya pak ludah, bakalan sulit kalau mereka berhasil nikah" ajak Angkasa.
"Iya ayo"
Kami keluar dari dalam rumah pak Jarwo.
Kami membuang topeng itu sebelum keluar dari dalam ruangan itu secara sempurna.
Kami mendekati bunda yang masih fokus menonton pertunjukan yang di adakan di depan.
"Bunda ayo kita pulang"
Bunda langsung mengerutkan alis saat mendengar ajakan ku, ia merasa aneh karena tadi dia mendengar sendiri kalau aku sangat ingin datang ke rumah pak Jarwo namun ada angin apa aku malah mengajaknya pergi di saat acara berlangsung.
"Kok pulang, ada apa tiba-tiba ngajak pulang?" meresa aneh bunda.
"Ayo pulang bun" bunda menangkap wajah ku yang terlihat cemas, ia merasa ada sesuatu yang terjadi pada kami.
"Ya udah ayo kita pulang" bunda bangun dari duduk.
"Mau kemana bun?" penasaran Alisa yang melihat kami semua bangun.
"Ayo kita pulang" ajak bunda.
"Loh kok pulang bun, acaranya lagi seru-serunya loh" tak rela Reno yang harus pergi dari rumah pak Jarwo.
"Ayo kita pulang" ajak bunda sekali lagi.
Mereka terpaksa bangun dan mengikuti bunda dari belakang.
"Tadz ayo kita pulang" ajak Angkasa.
Ustadz Fahri langsung bangun dan mengikuti kami bersama Rani, Dita dan Arif.
Bunda mendekati ayah yang sedang bercakap-cakap dengan pak Jarwo di depan gerbang.
"Ayah ayo kita pulang" ajak bunda.
"Loh kok udah mau pulang Diana?" terkejut pak Jarwo.
"Ini loh pak anak-anak minta pulang, mereka besok harus sekolah, mau tidak mau harus pulang karena takut ngantuk di dalam kelas" alasan bunda.
"Maaf pak saya sekeluarga gak bisa lama-lama di sini, mungkin malam Minggu kami bisa hadir di perayaan ini sampai selesai" pamit bunda.
"Iya tidak apa-apa Diana" jawab pak Jarwo.
"Kami pamit dulu pak, assalamualaikum" salam ayah.
"Iya-iya" hanya itu yang pak Jarwo ucapakan, ia tidak menjawab salam ayah yang membuat ku semakin curiga padanya.
Kami keluar dari dalam rumah pak Jarwo, saat kaki ku keluar dari gerbang itu aku merasakan hawa dingin yang sangat menyejukkan, tidak seperti di dalam rumah yang bawaannya panas meskipun tidak ada matahari.
"Kenapa kalian tiba-tiba ngajak pulang, bunda kan jadi gak enak sama pak Jarwo?" bunda sedari tadi menahannya namun setelah menjauh dari rumah pak Jarwo baru ia mengeluarkan unek-uneknya.
"Ada sesuatu pokoknya, ayo kita harus cepet-cepet sampai di rumah, sebelum dia keburu tidak bisa di selamatin"
Alisa mengerut alis."Maksud kamu apa za, siapa yang ingin kamu selamatin?"
"Ada, nanti aku akan bilang semuanya di rumah, kalau di sini aku hanya takut ada orang yang dengar, karena masalah kali ini rumit dan menyangkut tokoh-tokoh besar di desa ini"
Mereka semakin penasaran namun tidak ada yang bertanya dan hanya terus berjalan dengan terburu-buru menuju rumah.
Setelah beberapa menit akhirnya kami sampai di rumah, kami berkumpul di ruang tamu.
"Apa yang kamu maksud cepat cerita apa yang sebenarnya terjadi" suruh bunda yang sedari tadi sangat ingin tau alasan ku mengajaknya pergi dari rumah pak Jarwo.
"Bunda tadi kan Aliza sempat bilang kalau kami di desa gaib ketemu sama seorang pengantin wanita yang minta tolong pada kami dan dia masih berstatus manusia, bunda tau tidak, ternyata wanita itu adalah mbk Indri"
"APA"
Mereka semua terkejut ketika tau berita yang begitu mengejutkan itu.
"Mana mungkin itu Indri, dia jelas-jelas tadi ada di rumah pak Jarwo" tak percaya bunda karena tadi dia melihat sendiri mbk Indri yang duduk di pelaminan.
"Bunda itu bukan mbk Indri, dia itu sosok wanita cantik dari pinggang ke atas dan ular dari pinggang ke bawah"
"Maksud kamu dia adalah siluman ular?" Ustadz Fahri sadar siapa yang kami maksud.
Kami mengangguk kompak."Benar tadz, dia beneran siluman ular yang berada di balik perayaan itu"
"Tidak mungkin, kalian pasti salah ngira, tidak mungkin ada siluman ular di desa" bantah bunda yang tak percaya sama sekali pada apa yang kami bilang barusan.
"Beneran bunda, dia beneran siluman ular, kami melihat dia yang berwujud wanita cantik dari pinggang ke atas dan ular dari pinggang ke bawah dengan mata kepala kami sendiri, kami gak bohong bunda, kami bilang yang sejujurnya, tidak mengada-ada" aku berusaha menyajikan bunda yang masih tidak percaya dengan apa yang kami beritahu berusan.
"Kalau memang dia siluman ular, kenapa dia berada di dalam rumah pak Jarwo?" itu yang bunda bingungkan semenjak tadi.
"Apalagi bun kalau bukan menyamar menjadi mbk Indri, dia itu menyamar menjadi mbk Indri agar tidak ada warga curiga kalau mbk Indri yang asli sudah di persembahkan kepada mbah Brahma, dan sekarang dia berada di desa gaib itu"
"Sebentar-sebentar" Ustadz Fahri meredakan situasi yang tengah menegang.
"Ada apa tadz?" Alisa sedari tadi diam, ia tidak ikut campur karena memang tidak melihat siluman ular yang kami maksud dengan mata kepalanya sendiri.
"Saya merasa ada hubungannya perayaan yang di adakan warga setiap tahunnya dengan siluman ular itu" jawab Ustadz Fahri.