
"Suster bagaimana dengan pesien bernama Aliza Qiensyah, kenapa dia di larikan ke rumah sakit pusat?" penasaran Ustadz Fahri.
"Pasien di larikan ke rumah sakit pusat hanya untuk melakukan ct scan, di rumah sakit ini alatnya tengah rusak, jadi terpaksa harus di bawa ke rumah sakit pusat untuk melakukan ct scan, tapi tenang pak, pasien akan kembali ke sini lagi, pasien hanya akan pergi sebentar" jawab suster.
Mereka semua bernapas lega, walaupun sedikit.
"Kenapa harus di lakukan ct scan sus, apa kondisi anak saya separah itu?" ingin tau bunda.
"Kondisi pasien memang lumayan parah dari pada pasien bernama Alisa, kami melakukan ct scan untuk tau bagian mana yang retak atau pecah sehingga darah dari hidung, mulut dan juga telinga tidak berhenti mengalir sedari tadi" jelas suster.
Bunda semakin down, ia teringat pada temannya yang meninggal kecelakaan karena darah dari mulut, hidung dan telinga tak berhenti mengalir.
Tubuh bunda tiba-tiba langsung melemas.
"Bunda-bunda tenang dulu, bunda duduk dulu, Aliza akan baik-baik saja, bunda jangan berpikir macem-macem" ayah langsung menangkap tubuh bunda yang lemas.
"Bagaimana bunda bisa tenang ayah, anak bunda terluka parah, bagaimana kalau Aliza gak selamat, bunda gak mau kehilangan dia ayah" tangis bunda kembali pecah.
"Aliza pasti akan baik-baik saja bun, suster tempatkan anak saya di ruangan VVIP" titah ayah.
"Baik pak" suster-suster itu mendorong brankar Alisa yang masih belum siuman ke ruangan perawatan.
Mereka semua berkumpul di ruangan perawatan, tapi tidak dengan Reno, ia berdiri di depan bagian administrasi menunggu kedatangan ambulance yang membawa ku.
"Suster kenapa lama sekali, mereka melakukan ct scan di mana, kenapa sampai sekarang masih tidak balik-balik" Reno menghampiri suster yang menjaga bagian administrasi.
"Sebentar lagi akan sampai dek" hanya itu jawaban yang sedari tadi sustes berikan.
Reno terus menunggu kedatangan ambulance sampai-sampai langit sudah berganti warna namun ia masih tetap diam di tempat dengan terus menunggu.
Ambulance memasuki rumah sakit, Reno langsung mendekati para suster-suster yang berlari dengan membawa brankar.
Para staf mengeluarkan seseorang dari dalam ambulance.
"Aliza, dokter bagaimana dengan keadaan Aliza, dia baik-baik saja kan dok?"
"Suster bawa pasien ke ruangan operasi" suruh dokter.
"Ruangan operasi, kenapa dia bawa ke sana dokter?" dokter itu tidak menjawab, ia langsung masuk ke dalam rumah sakit.
Reno mengikuti suster-suster yang membawa ku ke ruangan operasi.
Suster itu masuk ke dalam ruangan operasi, sedangkan Reno tidak di perkenankan untuk masuk ke dalam.
"Dokter bagaimana keadaan pasien, tidak parah kan dokter?"
"Di mana keluarga pasien, saya mau bertemu dengannya, apa mereka ada di sini?"
"Ada dok, sebentar saya akan panggil mereka"
Reno berlari mendekati kamar perawatan Alisa, ia terus berteriak-teriak di rumah sakit ini dengan memanggil nama bunda, ia sudah tidak peduli lagi dengan banyaknya orang yang terganggu dengan suaranya.
"Bunda Aliza sudah datang, bunda di minta menemui dokter"
"Di mana ren, dokternya ada di mana?" bunda langsung menghampiri Reno dengan cemas.
"Di depan ruangan operasi, ayo bunda kita ke sana"
Mereka semua mengikuti Reno ke ruangan operasi, di ruangan perawatan itu hanya tersisa Alisa seorang yang masih belum sadarkan diri.
"Dokter bagaimana dengan keadaan anak saya, dia baik-baik saja kan dok, gak terluka parah kan dok?" bunda yang panik langsung mendekati dokter yang menunggu di depan ruangan operasi.
"Batok kepala pasien retak, pasien harus segera di operasi"
"O-operasi?" tercekat bunda.
"Benar bu, pasien harus segera di operasi sebelum nyawanya tidak dapat terselamatkan"
"Operasi saja dok, lakukan yang terbaik untuk anak saya" jawab ayah.
"Tolong tanda tangan persetujuan dulu pak di bagian admistrasi, baru kami akan melakukan tindakan operasi"
"Baik dok" ayah dan bunda langsung mendekati bagian administrasi.
"Suster kami orang tua dari pasien bernama Aliza Qiensyah, dokter nyuruh kami untuk tanda tangan surut persetujuan di sini, mana suratnya suster"
"Ini bu suratnya" suster itu memberikan surat persetujuan pada mereka.
Ayah yang menandatangani surat perjanjian itu.
"Suster operasi anak saya akan di lakukan kapan, saya mau dia segera di operasi?" ingin tau ayah.
"Malam ini juga pak, kami sedang menunggu dokter spesialis bedah yang sedang berada di perjalanan, mungkin sekitar jam 11-12 dokter akan sampai di sini" jawab suster.
"Suster bagian apa yang akan di operasi suster?"
"Batok kepalanya pak, batok kepalanya akan di angkat dan simpan dulu, baru setelah 1 bulan akan di pasang kembali"
"Tapi anak saya akan sembuhkan sus?" bunda takut sekali nyawa ku tak terselamatkan.
"Kita berdoa saja bu semoga operasi itu di lancarkan"
"Amin ya Allah"
"Bun ayo kita tunggu di depan ruangan operasi saja, kita cari tau keadaan Aliza" bunda mengangguk lalu mengikuti ayah ke ruangan operasi.
Di sana masih ada mereka berempat yang berdiri di depan ruangan operasi.
"Dokter pasien kritis" ucapan suster yang baru keluar dari ruangan operasi itu membuat mereka semua semakin cemas.
Dokter langsung masuk ke dalam ruangan operasi sedangkan mereka semua yang berada di depan semakin tak bisa diam.
"Ya Allah tolong jangan ambil anak ku, jangan ambil dia ya Allah, hamba mohon ya Allah" tangis bunda semakin pecah, kecemasan terus terpancar di wajahnya.
"Ayah bagaimana ini ayah, Aliza ayah, Aliza kritis ayah, bunda gak mau kehilangan dia ayah" tangis bunda kembali pecah.
Ayah diam, ia tidak lagi berusaha untuk menenangkan bunda, saat ini ia juga tertegun dengan keadaan ku yang semakin lama semakin memburuk.
Mereka semua diam, mereka terus menunggu kedatangan dokter spesialis bedah dengan tidak tenang.
"Kemana dokternya, kenapa sampai sekarang masih belum datang" gelisah bunda yang takut ada apa-apa dengan ku.
"Suster-suster" panggil bunda saat melihat suster yang akan masuk ke dalam ruangan operasi.
"Ada apa bu?"
"Apa dokter spesialis bedahnya sudah datang?"
"Masih belum bu, dokter sedang berada di perjalanan, sekitar 1-3 jam lagi dokter akan sampai di sini" setelah mengatakan hal itu, suster itu masuk ke dalam ruangan operasi.
"Bagaimana ini ayah" bunda beralih menatap ayah yang diam tanpa melakukan apa-apa.
"Bunda sama ayah kembali ke kamar Alisa saja, kami yang akan jaga di sini, kalau nanti dokter spesialis bedahnya datang, kami akan langsung beri tau kalian" suruh Reno.
"Ya sudah bunda akan ke kamar Alisa, kalian jaga baik-baik di sini, kalau ada apa-apa langsung beri tau bunda" mereka mengangguk kompak, ayah dan bunda kembali ke ruangan Alisa untuk melihat keadaan Alisa.