
Kami menemui Rani di ruang perawatannya.
"Belum sadar Rani sa?" tanya ku.
Alisa menoleh ke arah kami semua yang baru datang.
"Belum, dia masih tak kunjung sadarkan diri, mungkin nanti malam atau besok Rani akan sadar" jawab Alisa.
"Sudah mau magrib nih, kalian berempat mandi gih setelah itu sholat, kita tunggu di musholah" kata ayah.
"Baik ayah" jawab kami.
"Sana kalian dulu gih, aku belakangan aja, aku lagi halangan juga" kata Alisa.
"Kamu jaga Rani di sini bisa kan sa?" tanya bunda.
"Bisa dong, kalian jangan khawatir Rani aman bersama ku" jawab Alisa.
Kami semua mandi bergantian lalu menyusul ayah dan bunda.
Alisa duduk manis di sofa dengan memainkan hp di tangannya.
Wussshhhh
Angin lewat dengan tiba-tiba membuat Alisa teralihkan fokusnya.
Alisa melihat ke kanan dan kiri, depan dan juga belakangnya namun tak ada apapun, ia kembali fokus ke hpnya.
tes tes tes
Air di kran tiba-tiba berbunyi, Alisa menelan ludah ia sadar kalau tak ada siapapun yang berada di kamar mandi, di kamar ini saja hanya ada dia dan Rani yang masih tidak sadarkan diri.
Wussshhhh
Hembusan angin itu kembali di rasakan oleh Alisa, seketika bulu kuduk Alisa berdiri.
"Kenapa aku menjadi tegang seperti ini, apa yang sebenarnya terjadi" batin Alisa tak tenang.
tap tap tap
Suara langkah kaki terdengar di telinga Alisa ia menjadi tak tenang kala melihat ada bayangan besar di belakang tubuhnya dan-
Baaaa
"Akkkkhh" pekik Alisa menjatuhkan hpnya.
"Hahaha" tawa orang itu karena sudah berhasil membuat Alisa ketakutan akan ulahnya.
"Kenapa mbk Hilda ngagetin aku, kalau semisal jantung aku copot bagaimana, mbk mau tanggung jawab" kata Alisa.
"Iya mbk akan tanggung jawab kok, tapi lucu tau haha" tawa mbk Hilda semakin menjadi.
Alisa menatap malas mbk Hilda yang sudah berhasil mengerjai dirinya.
Mbk Hilda mengentikan tawanya.
"Kok kamu ada di sini sendirian, kenapa kamu gak sholat aja bareng yang lain?" tanya mbk Hilda.
"Lagi halangan, aku lagi di suruh buat jagain Rani di sini" jawab ku.
"Awas nanti ada setan wuwu takut" kata mbk menakut-nakuti.
"Iya mbk setannya, udah jadi setan masih aja mencoba menakut-nakuti dengan kata 'setan' heis gimana mbk ini" jawab Alisa tak habis pikir.
"Iya juga ya" paham mbk Hilda.
"Eh tadi itu ulah mbk Hilda kan?" tanya Alisa.
"Yang mana? kalau yang barusan ngagetin kamu itu memang benaran mbk" jawab mbk Hilda.
"Bukan yang itu tapi yang awal tadi, sebelum mbk Hilda menampakkan diri aku sempat merasakan angin yang berhembus dengan cepat lalu tak lama dari itu terdengar suara air kran yang menetes, apa itu semua ulah mbk Hilda" kata Alisa.
"Bukan, itu bukan ulah mbk, mbk gak tau menahu tentang hal itu" jawab mbk Hilda.
"Mungkin ada hantu lain yang telah melakukannya" jawab mbk Hilda.
"Apa salah aku sehingga mereka mengerjai ku seperti itu, padahal aku tidak melakukan apapun yang bisa membuat mereka marah, aku cuman duduk manis sambil main hp doang" kata Alisa tak mengerti.
"Gak tau juga, kamu jangan nanya sama mbk, tanya saja langsung sama yang sudah melakukannya" jawab mbk Hilda.
Alisa berpikir keras.
"Bodo ah, aku tidak mau memikirkan mereka, yang penting mereka gak membahayakan aku" kata Alisa.
"Mereka mungkin cuman usil saja, tidak ada maksud lain" kata mbk Hilda.
"Awas saja kalau sampai mereka membahayakan ku, akan aku hajar habis-habisan biar mereka tau rasa" geram Alisa.
Duaarr
"Akkkkhh bunda" kaget Alisa.
Suara ledakan itu begitu nyaring terdengar di telinga Alisa.
"Kenapa ada suara ledakan, apa yang sebenarnya telah terjadi di rumah sakit ini" tak mengerti mbk Hilda.
"Aku merasa suara ledakan itu berasal dari luar, coba deh mbk Hilda cek ada apaan di sana" tintah Alisa.
"Siap, mbk yang akan menanganinya" jawab mbk Hilda.
Pelan-pelan mbk Hilda mendekati pintu lalu membukanya sedikit.
"Hah" kaget mbk Hilda kala matanya menangkap sesuatu yang sangat tak wajar.
"Kenapa mbk? apa yang mbk lihat?" tanya Alisa.
Mbk Hilda langsung menutup pintu itu kembali.
"Sa di luar ada banyak makhluk halus berwarna hitam sedang berdiri di depan ruangan ini, mereka seperti punya tujuan tertentu datang ke sini, apa mungkin mereka ingin mencelakai kamu" jawab mbk Hilda.
"Masa iya mereka ingin mencelakai aku, apa salah ku, aku tidak melakukan apapun selama ini, tak mungkin mereka ingin mencelakai ku tanpa alasan yang jelas" kata Alisa.
"Tapi mereka itu bukan satu orang ada banyak sekali, tak mungkin mereka cuman ingin menakut-nakuti saja, pasti ada sesuatu di balik semuanya, mbk rasa mereka itu suruhan seseorang deh" tebak mbk Hilda.
Betapa kagetnya Alisa kala mendengar hal itu.
"Yang benar mbk, kalau memang mereka suruhan seseorang lalu siapa orang itu dan mengapa dia ingin mencelakai ku, apa salah ku?" tanya Alisa.
"Gak tau juga, emang kamu selama ini melakukan apa sehingga ada orang yang ingin mencelakai mu dengan cara mengirim mereka ke sini" kata mbk Hilda.
"Perasaan aku gak melakukan apapun, mungkin mereka cuman salah orang" jawab Alisa.
"Tak mungkin mereka salah orang, coba deh kamu ingat baik-baik apa yang sudah kamu lakukan sehingga membuat orang lain marah" kata mbk Hilda.
Alisa berusaha mengingat semua yang ia pernah lakukan, yang sekiranya kelakuannya telah melukai hati orang lain.
"Reno" hanya kata itu yang Alisa ingat setelah beberapa saat ia terdiam.
"Apa jangan-jangan mereka itu suruhan dukun yang akan menumbalkan Reno" kata Alisa.
"Mungkin saja, mbk juga yakin kalau makhluk yang mengikuti Reno waktu itu telah melaporkan semuanya pada dukun itu" jawab mbk Hilda.
Duaar
Suara ledakan itu kembali terdengar.
"Terus gimana ini mbk, gak ada Aliza dan yang lainnya di sini, hanya ada aku dan mbk saja, aku harus minta tolong sama siapa, aku gak mau mereka mencelakai ku" ketakutan Alisa
"Tenang ada mbk di sini yang akan melindungi kamu, mbk akan keluar buat hadang mereka, kamu di sini saja, kamu telpon Aliza biar dia ke sini" jawab mbk Hilda.
"Iya mbk aku akan telpon Aliza, mbk hati-hati, ingat halau mereka, jangan sampai mereka masuk ke dalam ruangan ini, aku gak mau mereka mencelakai ku" tintah Alisa.
"Iya mbk akan berusaha semaksimal mungkin, mbk mau keluar dulu" jawab mbk Hilda lalu menghilang begitu saja.