
Keesokan harinya.
Reno terbangun dari tidur lelapnya, ia terkejut saat melihat Angkasa yang tidur di sampingnya.
"Loh kok Angkasa ada di kamar aku?"
"Perasaan tadi malam gak ada, kenapa pas bangun tiba-tiba ada dia di samping ku?"
Reno merasa aneh, ia tiba-tiba teringat sesuatu.
"Sa bangun, sa bangun, Angkasa" Reno membangunkan Angkasa yang masih tak bergerak sama sekali.
"Sa, sa bangun, buka mata kamu, ini udah pagi"
Angkasa menggeliat, ia membuka matanya yang masih ngantuk.
"Apaan, kenapa kamu gangguin aku tidur?"
"Sa kamu lihat Rani gak?"
Seketika mata Angkasa langsung terbuka dengan lebarnya, ia juga langsung duduk dari tidurnya.
"RANI?"
"Iya Rani, tadi malam itu dia tidur bareng aku di sini, aku memang rada aneh karena biasanya dia selalu tidur bareng Dita, kamu lihat dia gak?"
"Enggak, pas tadi malam aku masuk ke dalam kamar kamu gak ada Rani, hanya kamu seorang yang berada di dalam kamar ini"
"Yang bener aja sa, kemarin itu aku tidur sama Rani, kenapa ketika paginya malah kamu yang ada di sini?"
"Aku gak tau ren, aku gak lihat Rani sama sekali"
"Apa mungkin dia ada di luar ya" pikir Reno yang langsung beranjak dari tempat tidur untuk mencari adiknya.
"Ren kamu mau kemana" teriak Angkasa namun Reno tidak menjawabnya.
Angkasa mengejar Reno yang keluar dari kamar.
"Ren kamu mau kemana?"
"Aku mau cari Rani, aku harus pastiin adik aku ada di sekitar sini"
Reno berjalan mendekati kamar Dita, tanpa mengetuknya terlebih dahulu ia langsung membuka kamar Dita.
"Dita Rani ada di sini gak?"
Dita langsung menatap ke arah Reno yang membuatnya terkejut.
"Enggak kak"
"Kemana Rani ya" kecemasan terpancar di wajah Reno, ia takut ada apa-apa dengan adiknya.
"Tadi malam kan Rani tidur sama kakak, kenapa kakak masih nyariin dia?" merasa aneh Dita.
"Iya memang tadi malam Rani tidur sama aku, tapi pas pagi dia gak ada di kamar, mangkanya aku tanya sama kamu Rani ada di mana"
"Masa iya Rani hilang" menerka-nerka Angkasa.
"Enggak mungkin! gak mungkin adik aku hilang, dia pasti ada di sekitar sini, aku harus cari dia, aku harus bisa temuin dia, Ranii kamu di mana, Rani" teriak Reno mencari Rani dengan suaranya yang terdengar khawatir.
"Rani, Rani kamu di mana" teriak Reno sekali lagi.
"Ada apa ren, kok kamu teriak-teriak?" penasaran Alisa yang mendengar suara teriakan Reno, ia sampai turun dari kamar bersama ku.
"Rani sa, Rani gak ada, dia gak ada di kamar" jawab Reno.
"Gak ada? gak ada gimana?" kaget Alisa.
"Tadi malam dia tidur bareng aku, tapi saat pagi dia sudah gak ada, dia hilang sa, dia gak ada" jawab Reno.
"Kamu yang sabar, aku yakin Rani pasti ada di sekitar sini, kita cari saja dulu, biar kita tau apakah Rani hilang atau tidak" ajak Alisa yang di balas anggukan oleh Reno.
"Enggak, emang Rani kemana, kok kamu nyariin dia?"
"Rani hilang mbk, dia gak ada di kamar"
"Kok bisa" kaget mbk Rinda.
"Apa kamu bilang, Rani hilang?" kaget bunda yang mendengar itu semua.
"Iya bun, Rani hilang, dia gak ada di rumah ini, gimana ini bun" cemas Reno memikirkan adiknya yang tidak dapat di temukan di rumah ini.
"Tunggu-tunggu kenapa Rani bisa hilang?" penasaran ayah.
"Enggak tau ayah, tadi malam dia masih tidur di samping aku, tapi aneh ketika pagi harinya dia sudah gak ada, di cari ke seluruh rumah juga gak ada" jawab Reno.
"Apa iya Rani di culik sama kayak Dilan dan Laras?" menerka-nerka Alisa.
"Tadi malam kan selendang hitam itu menghilang ketika sampai di rumah, apa mungkin selendang hitam itu yang jadi penyebabnya" sahut Angkasa.
"Enggak mungkin! gak mungkin adik aku hilang, gak mungkin!" teriak Reno yang frustasi.
"Ren, kamu yang sabar dulu, kita pasti bisa nemuin Rani, kita gak akan biarin dia bernasib sama seperti Laras dan Dilan"
"Iya ren kita pasti bisa nemuin Rani, dia pasti ketemu" tambah Alisa.
"Kita mau cari Rani di mana, rumah siapa yang mau kita geledah?" pertahanan Reno mulai hancur, ia begitu tak menyangka kejadian naas ini akan menimpa adik kecilnya.
"Begini saja kita datangin rumah pak Jarwo sehabis sholat, dia selaku orang yang kita curigai bahwasanya dialah orang yang berada di balik ini semua"
"Aku setuju sama Aliza, kita harus ke rumah pak Jarwo, kita cari Rani ke seluruh rumahnya, aku yakin sekali Rani pasti ada di rumah pak Jarwo" sahut Angkasa cepat.
"Iya, kita sholat dulu sebentar, baru kita berangkat ke rumah pak Jarwo" setuju Alisa.
Kami semua setuju, kami mengambil wudhu dan sholat di kamar masing-masing, hanya Ustadz Zaki yang sholat di masjid yang menggantikan posisi Ustadz Fahri.
Setelah selesai sholat, aku dan Alisa turun ke bawah bersama-sama, di sana sudah ada mereka semua yang menunggu di ruang tamu.
"Ayo kita ke sana" ajak Alisa.
"Eh kalian mau kemana?" pandangan kami semua langsung tertuju pada bunda.
"Ke rumah pak Jarwo bun, kami mau cari Rani di sana, kami yakin dia ada di sana, plis bunda izinin kami, kami mohon sekali"
"Bunda izinin kalian, tapi kalian harus bawa ini, taburkan di area rumah pak Jarwo, biar jin yang nyulik Rani ngembaliin Rani" bunda memberikan garam pada ku.
Aku mengambilnya, karena menurut tradisi desa kalau ada anak yang hilang karena di culik jin pasti di taburi garam agar jin tersebut mengembalikan Rani.
"Bunda juga akan taburin garam di sekitar rumah ini, kalian jangan lupa taburin garam itu di rumah pak Jarwo"
"Baik bun, kami akan lakuin"
"Kalau kalian sudah berhasil nemuin Rani, langsung kabarin bunda"
"Baik bun"
"Kami berangkat dulu bun assalamualaikum" salam Ustadz Fahri.
"Wa'alaikum salam" jawab mereka semua.
"Kakak aku ikut" titah Dita yang mengejar kami.
"Bagaimana ini, apa kita bawa Dita ke sana?" Alisa meminta pendapat kami semua.
"Bawa aja"
"Ayo Dita kita ke rumah pak Jarwo" ajak Angkasa.
Dita mengangguk senang, kami semua berangkat menuju rumah pak Jarwo dengan terburu-buru.
Suasana yang masih gelap tak menjadi halangan bagi kami, kami terus berjalan menuju rumah pak Jarwo yang tak terlalu jauh.