The Indigo Twins

The Indigo Twins
Misteri suara minta tolong



Aku sudah di perbolehkan pulang oleh pihak rumah sakit, selama hampir 4 Minggu ini aku rehat di rumah, 3 hari sekali aku harus kontrol ke rumah sakit, tapi hari ini aku sudah benar-benar sembuh total, rasa sakit di kepala ku sudah tak sesakit dulu lagi, meski terkadang rasa sakitnya masih ada, meski tak sesakit saat awal-awal aku membuka mata.


Hari ini adalah hari pertama kali aku masuk sekolah setelah hiatus hampir 2 bulanan, dengan semangat aku menggendong tas ku dan menuruni tangga menemui yang lain, aku benar-benar sangat merindukan sekolahan.


"Ayo kita berangkat"


"Lest go" jawab Angkasa dengan gaya coolnya.


"Eh kalian mau kemana!"


Seketika langkah kami langsung terhenti, kami semua menatap ke arah bunda yang keluar dari dalam dapur saat melihat kalau kami akan berangkat sekolah.


"Ke sekolah, kemana lagi bun?"


"Emang kenapa bun, kenapa bunda cegah kami?" penasaran Alisa karena tak biasanya bunda seperti ini.


"Kalian jangan berangkat pake motor, kalian pake mobil aja, bunda gak mau kalian ada yang kecelakaan lagi ataupun jatuh" suruh bunda yang trauma kami berangkat menggunakan motor.


"Ya Allah bun, bunda segitunya cemas sama kami, bun kami akan baik-baik aja, doain aja semoga perjalanan kami di lancarkan, itu aja"


"Bunda selalu doain kalian, tapi lebih amannya lagi kalian berangkat dan pulang pake mobil, nanti bunda akan carikan supir untuk antar jemput kalian" jawab bunda.


"Gak usah bun, Angkasa bisa kok nyetir mobil" sahut Angkasa.


"Untuk sementara kamu bunda izinin nyetir mobil, tapi bunda akan tetap pake jasa supir biar lebih aman lagi, sekarang kalian berangkat sekolah, dan kamu hati-hati, jangan ngebut-ngebutan" tunjuk bunda pada Angkasa.


"Baik bun, kami berangkat dulu assalamualaikum" salam Angkasa dan kami semua.


"Wa'alaikum salam" jawab bunda.


Kami masuk masuk ke dalam mobil bunda yang berwarna merah, Angkasa yang menyetir mobil itu.


Mobil itu meninggalkan rumah dan melaju menuju sekolahan yang masih sangat jauh, jarak antara sekolah dan rumah lumayan jauh.


"Kenapa ya bunda sampai segitunya khawatir sama kita?" tak habis pikir Alisa, karena pasca kecelakaan itu, ia menjadi cemas berlebihan seperti ini.


"Orang tua mana sa yang gak trauma saat dua anak kembarnya kecelakaan, untung aja kalian gak apa-apa, kalau sampai di antara kalian gak tertolong, mungkin bunda akan trauma seumur hidupnya" jawab Reno yang tau kenapa bunda seperti itu.


"Aku tau ren, tapi biasanya bunda gak sampai segininya khawatir sama kami, biasanya kalau ada apa-apa sama kami bunda cuman kasih peringatan aja, tapi tidak untuk kali ini, itu yang buat aku merasa tak bebas bantuin para arwah-arwah yang penasaran" sahut Alisa.


"Iya sih, kita harus terima walaupun berat, ini kita aja sudah mending di bolohin bantu-bantu arwah-arwah penasaran, kalau bunda tetap ngotot larang kita, pasti kita akan tambah tertekan lagi" Reno berusaha menerima keputusan bunda walaupun agak berat.


"Oh ya selama aku gak sekolah, gak ada apapun kan yang terjadi di sekolahan, semuanya baik-baik aja kan di sana?" selama 2 bulan hiatus, aku ketinggalan seluruh berita-berita yang ada di sekolahan.


"Iya semuanya baik-baik saja, enggak ada apapun yang terjadi, semuanya aman-aman aja, entah kenapa gak ada makhluk halus yang minta bantuan kita lagi, gak tau mereka pada kemana" jawab Angkasa dengan pandangan yang terus tertuju ke depan, ia masih terus fokus menyetir mobil.


"Syukurlah kalau gak ada apa-apa selama ini di sekolahan, semoga saja kedepannya gak ada masalah apapun yang terjadi di sekolahan"


"Amiiin" jawab mereka semua.


"Habis sekolah kita harus ke restoran kan?" Alisa meminta pendapat kami.


"Iya lah, kita harus bantu ayah dan bunda, kasihan mereka pasti sibuk, kamu bisa kan za kerja lagi, kalau gak bisa bilang, jangan di paksain nanti kamu makin parah" jawab Angkasa.


Mereka semua mengangguk, tak ada percakapan yang terjadi di antara kami setelah ini, semuanya mendadak hening.


Mobil melaju melewati jalanan desa yang seram dan menakutkan, suasana jalanan seperti yakni sepi dan sunyi, sangat jarang warga desa keluar masuk desa dan melewati jalanan ini, mereka kebanyakan lewat jalanan yang terhubung dengan jalanan desa sebelah.


Angkasa terus melajukan mobil menuju sekolah yang masih jauh.


"Tolong" panggil seseorang yang terdengar lirih di telinga namun masih sangat terdengar jelas.


Aku mencari asal suara itu, aku menatap ke kanan dan kiri, namun semuanya sepi, tidak ada satupun orang yang aku lihat di jalanan desa yang sepi ini dan banyak sekali pohon-pohon yang menjulang tinggi.


"Cari apa za?" Angkasa melirik ku yang celingukan sedari tadi, ia merasa ada sesuatu yang terjadi pada ku.


"Barusan aku dengar ada suara seseorang yang minta tolong, tapi pas di cari gak ada, kemana dia ya?"


"Minta tolong, kenapa kami gak dengar juga?" merasa aneh Alisa, telinganya sedari tadi tak mendengar apapun seperti yang aku dengar.


"Masa kalian gak dengar, padahal suara orang yang minta tolong berusaha itu jelas banget, aku yakin banget dia ada di sekitar sini, tapi anehnya gak ada siapapun yang aku lihat"


"Kayaknya kamu salah dengar deh za, di sini gak ada suara apapun" tambah Angkasa.


"Tapi bener sa, aku dengar suara orang yang minta tolong, dia ada di sekitar sini, coba kamu berhenti, aku mau cari dia dulu"


Angkasa menghentikan mobil, aku langsung keluar dari dalam mobil, mereka semua menyusul ku dari belakang, mereka juga ingin tau siapa pemilik suara minta tolong yang barusan aku dengar.


Aku melihat sekeliling jalanan desa yang sepi ini, tapi benar-benar tidak ada siapapun yang aku lihat, padahal barusan aku mendengar suara orang yang meminta tolong di sini.


"Mana pemilik suara orang yang minta tolong itu, kenapa gak ada, padahal aku jelas banget aku dengar suaranya, masa iya aku salah dengar" aku mencari pemilik suara itu di dekat jalanan, aku tidak berani masuk ke dalam hutan yang gelap itu hanya karena ingin mencari pemilik suara minta tolong itu.


"Gak ada za, percuma kamu nyari, gak bakal ketemu kok, ayo kita berangkat sekolah aja, sebelum telat" ajak Angkasa.


Aku menghembuskan napas, aku terpaksa masuk ke dalam mobil lagi, Angkasa kembali melajukan mobil menuju sekolah.


Aku terus celingukan mencari keberadaan pemilik suara itu, aku masih yakin kalau suara orang misterius yang dengar barusan itu nyata.


"Suara orang yang minta tolong itu perempuan apa laki-laki za?" pertanyaan itu di ajukan oleh Reno.


"Perempuan, tapi anehnya saat di cari gak ada, itu yang bikin aku penasaran sama sekali dengannya"


"Apa itu orang yang kamu maksud?" tunjuk Reno ke arah gapura yang sudah mulai mendekat.


Pandangan kami langsung tertuju pada seorang wanita yang berlumuran dengan darah berdiri di depan gapura.


Aku sontak langsung mengalihkan pandangan saat mata ku melihat darah-darah yang keluar dari sela-sela tangan dan juga lehernya.


Wajah perempuan itu sudah hampir tak terlihat karena saking banyaknya darah yang mengalir dari kepala.


"T-tolong aku" titah wanita itu ketika mobil melewatinya.


Telinga kami seakan tuli, Angkasa terus melajukan mobil tanpa ekspresi apapun meskipun hantu seram itu meminta tolong pada kami.