
Mereka berdua ngebut-ngebutan di jalan sedangkan Roy terus melajukan motornya dengan tenang tanpa gangguan sedikitpun.
Setelah cukup lama berkendara, akhirnya Roy berhenti di depan rumah warga.
"Kita udah sampai"
Roy berbalik badan menghadap ke belakang.
"Loh kemana mereka semua, kenapa gak ada di belakang aku" terkejut Roy saat tak menemukan keberadaan kami berempat.
"Apa mereka tersesat, gawat, kalau mereka sampai tersesat bahaya ini" Roy di serang rasa panik yang teramat sangat, ia dengan cepat mengambil hp di sakunya.
"Astaga kenapa ada banyak sekali panggilan tak terjawab dari Alisa" terkejut Roy saat tau itu semua.
"Aku harus hubungi dia" Roy menghubungi Alisa dengan rasa panik yang tiba-tiba menyerang.
tutt
tutt
tutt
"Ayo angkat dong sa" tintah Roy yang panik campur cemas memikirkan keadaan kami yang tiba-tiba hilang.
"Arrrrgghh kenapa gak di angkat sih" pekik Roy.
Seorang ibu-ibu mendekati Roy yang tak tenang karena tak menemukan kami.
"Adeknya nyari siapa?"
"Saya nyari rumahnya Andin bu, apa ibu tau?" Roy melihat ke arah ibu-ibu yang berusia sekitar 42 tahunan itu.
"Oh rumahnya Andin, rumahnya Andin yang itu, yang chat biru itu dek" tunjuk ibu-ibu itu pada rumah yang sederhana namun rapih dan bersih.
Roy melihat ke arah rumah yang ibu-ibu itu tunjukkan."Oh yang itu, terima kasih bu udah ngasih tau saya tentang rumahnya Andin"
"Iya sama-sama, adek siapanya Andin, kenapa sampe ke sini segala?" penasaran ibu-ibu itu pada Roy yang amat asing di matanya.
"Saya temannya bu, saya ke sini karena mau nyari informasi tentang Andin sebab dia itu udah lama gak masuk sekolah, mangkanya saya khawatir takut ada apa-apa sama dia" jawab Roy.
"Ibu tau gak Andin pergi kemana selama ini?"
"Kalau hal itu ibu kurang tau dek, karena Andin itu jarang bersosialisasi, mangkanya saya tidak tau apa-apa tentang dia" jawab ibu-ibu itu.
"Oh begitu, terima kasih bu"
"Sama-sama dek, saya permisi dulu" pamit ibu-ibu itu.
Roy membalas dengan senyuman di sertai anggukan.
"Kalau tetangganya gak tau Andin pergi kemana percuma aku datang ke sini jauh-jauh"
"Oh ya aku harus hubungi mereka lagi, mereka masih belum sampai di sini, aku takut mereka tersesat" Roy menekan kembali nomor Alisa.
tutt
tutt
tutt
Suara dering telepon itu tak terdengar di telinga Alisa karena Reno terus ngebut-ngebutan di jalanan yang sepi itu.
"Kenapa Alisa gak angkat, ada apa sama dia sebenarnya, apa ada yang terjadi padanya" khawatir Roy yang mulai tidak tenang.
"Mereka sebenernya pergi kemana, kenapa tiba-tiba menghilang kayak gini, tapi tadi itu aku lihat mereka ngikutin aku, tapi kenapa saat udah sampai di sini, mereka malah gak ada, pergi kemana mereka, perasaan jalanan di sini hanya ada satu arah, masa mereka melewati jalanan yang lain, kan gak mungkin" Roy merasa aneh tentang kami yang tiba-tiba menghilang begitu saja.
"Apa aku susul aja mereka ya?" bingung Roy pada apa yang harus ia lakukan saat ini.
"Susul aja deh" Roy hendak menyusul kami namun tak jadi sebab ia melihat kami yang mendekat.
"Itu mereka" lega Roy saat melihat kami mendekatinya.
Kami berhenti tepat di depan Roy.
"Kalian dari mana aja, kenapa baru nyampe?" penasaran Roy sekaligus lega saat kembali ia lihat lagi.
"Kami itu tadi berhenti saat sampai di gapura karena di sebelah kanan gapura tepatnya di bawah pohon beringin ada kingkong" jelas Alisa.
"Kamu gak bisa liat orang kingkong yang kami maksud itu sejenis genderuwo bukan kingkong yang biasanya ada di dalam kebun binatang" jawab Reno.
"Pantas aja kalau aku gak lihat dia, tapi kalian gak di ganggu sama dia kan?" khawatir Roy jika keterlambatan mereka sampai di desa ini karena ulah genderuwo itu.
"Enggak, kita gak di ganggu sama dia, dia itu lagi tidur, jadi dia gak bisa gangguin kita" jawab ku.
"Huft syukurlah kalau seperti itu" lega Roy.
"Roy di mana rumahnya Andin?"
"Itu, itu rumahnya Andin, barusan aku nanya sama ibu-ibu katanya dia gak tau Andin pergi kemana" jawab Roy.
"Kalau ibu-ibu itu gak tau Andin pergi kemana, terus kita ke sini itu buat nyari apaan?" Reno merasa berada di kampung ini tak ada gunanya jika di antara mereka tak ada yang tau kemana Andin pergi.
"Temannya Andin, Andin kan masih punya teman, aku yakin banget kalau temannya Andin itu tau kemana Andin pergi sebelum meninggal" yakin Roy.
"Ya udah ayo kita cari temannya Andin itu, kita gak boleh membuang-buang waktu" ajak Angkasa.
"Iya, ayo kita ke rumahnya Andin dulu, kita lihat apakah di sana ada Risa atau tidak" jawab Roy.
Kami mengangguk lalu mengikutinya dari belakang.
Kami berhenti tepat di depan rumah Andin, aku melihat ke arah rumah itu yang bagus dan terawat meski tidak terlalu besar.
"Kok rumah ini kayak sepi, seperti gak di tempati" Alisa melihat jika rumah tersebut seperti sudah menjadi rumah kosong yang tidak di tempati lagi.
"Kalau di liat-liat memang iya, tapi kita coba dulu ngetuk pintunya, kalau ada yang keluar berati ada yang ngejaga rumah ini selain Andin" jawab Angkasa.
"Roy kamu ketuk gih sana" suruh Alisa.
"Kenapa harus aku, ayo kita bareng-bareng aja" Roy tak mau mengetuk pintu rumah itu sendirian.
"Kalau bareng-bareng bukannya bertamu tapi berniat merobohkan" jawab Angkasa.
"Tapi kenapa harus aku yang di suruh?" Roy merasa kurang percaya diri, ia merasa gugup hanya karena di suruh untuk mengetuk pintu rumah itu, biasanya dia tidak seperti ini.
"Karena kamu kan temannya, mangkanya lebih baik kamu yang ngetuk pintunya, cepat sana, waktu kita gak banyak loh ya" suruh Alisa.
"Iya-iya" pasrah Roy yang pada akhirnya mau melakukan apa yang kami inginkan.
"Kalian tunggu di sini, biar aku yang akan ngetuk pintu rumah itu" perintah Roy.
"Iya, kami gak akan kemana-mana kok" jawab Angkasa.
Roy mendekati pintu dan mengetuknya.
tok
tok
tok
"Permisi"
tok
tok
tok
"Andin, aku Roy, kamu buka pintunya dong" tintah Roy yang tiba-tiba lupa jika Andin sudah meninggal.
Tidak ada jawaban yang Roy terima.
"Andin buka, kami mau main" teriak Roy lagi tapi tidak ada jawaban yang terdengar.
Roy berbalik badan menghadap ke arah kami kembali."Kayaknya Andin gak ada di dalam rumahnya"
"Roy, Andin udah meninggal"
Roy terdiam, ia begitu tak rela di tinggal pergi oleh temannya itu.
Wajah Roy nampak layu ketika teringat jika Andin temannya sudah meninggal dunia dan kematiannya masih belum jelas.