
"Ya udah kita lewat jalan yang gelap itu, yang gelapnya melebihi gelapnya hutan, karena tidak ada jalan lagi untuk kita tempuh selain jalan yang di tengah itu" kata ku yang melihat jalanan itu yang gelap gulita seperti di malam hari.
"Kita baca doa dulu sebelum jalan, semoga aja jalan yang kita tempuh ini tidak salah lagi dan mungkin saja jalanan yang berbeda dari yang di kanan dan kiri ini adalah jalanan yang bisa membuat kita kembali ke rumah lagi" kata Angkasa.
"Iya kamu mimpin doa" suruh ku.
Angkasa memimpin doa, kami bergitu berharap semoga kali ini kami bisa pulang kembali ke rumah.
"Bismillah pulang" teriak kami bertiga kompak.
"Ayo kita jalan" ajak ku.
"Ayo" jawab kami penuh semangat.
Kami bertiga berjalan dengan langkah pasti.
Kami melangkah ke dalam jalanan yang gelap dan sunyi, tak ada satupun bunyi yang terdengar dari hewan-hewan dan penghuni-penghuni jalan lainnya.
Tak ada sinar rembulan yang menerangi jalanan ini, sungguh jalanan ini benar-benar gelap.
Kami masih terus berjalan dalam kegelapan, hanya suara langkah kaki kami yang memecah keheningan, jalanan ini begitu panjang dan sangat sepi sekali.
"Gelap banget jalanan ini, perasaan tadi matahari sudah terbit, kenapa ketika masuk ke dalam jalanan ini tak ada sinar matahari yang menerangi?" tanya ku.
"Aku juga gak tau, jalanan ini begitu misterius, melewati jalanan ini serasa sama kayak melewati hutan yang gelap kayak tadi, tapi ada perbedaannya jalanan ini dengan hutan tadi" jawab Angkasa.
"Emang apa bedanya?" tanya ku.
"Jalanan ini sunyi, sepi kayak memang cuman kita yang berada di sini, berbanding terbalik dengan hutan yang gelap dan seram sekali, apalagi banyak sekali pergerakan di dalamnya" jawab Angkasa.
"Iya, kenapa jalanan ini sepi sekali, jangankan makhluk halus, hewan saja gak ada yang berbunyi sedikitpun, benar-benar aneh" kata ku sadar akan hal itu.
"Udah gak usah kamu pusingin, kita jalan aja terus, karena gak ada jalanan lain lagi yang bisa kita lewati" jawab Angkasa.
Kami terus berjalan tanpa henti di dalam jalanan yang gelap dan sunyi ini.
Namun entah kenapa tidak ada rasa merinding yang menyerang kami meskipun jalanan ini tampak gelap gulita seperti di tengah malam.
"Kita istirahat dulu sa, aku capek, kaki aku udah sakit banget, gak bisa di tahan-tahan lagi" tintah ku.
"Iya kita istirahat sebentar dulu, baru kita lanjut jalan lagi" jawab Angkasa.
Kami duduk di pinggir jalanan yang gelap sekali untuk istirahat karena sudah sejak tadi berjalan namun masih tak kunjung menemukan jalan keluarnya.
"Rasanya kaki aku mau patah, sumpah nih kaki seperti habis lari maraton aja pegelnya dan juga kita gak pake sandal lagi, makin sakit lah kan jadinya" kata ku dengan meluruskan kaki ku yang sudah pegal karena sudah sejak tadi berjalan tanpa henti.
"Andai aja kita larinya tadi pake sandal mungkin kaki ini tidak sesakit ini" jawab Angkasa.
"Orang tadi kita udah panik banget saat ngelihat wajah seram jemaah masjid itu, mana bisa kita masih memikirkan sendal, gak di kejar sama jemaah hantu tadi udah beruntung banget" kata ku.
"Nanti setelah sampai di rumah kita tanyain sama Ustadz Fahri, aku yakin beliau pasti tau tentang apa yang terjadi pada kita hari ini" jawab ku.
"Ya udah ayo kita lanjut jalan lagi, biar cepat pulang, kalau kita istirahat terus kapan nyampenya" ajak Angkasa.
"Ayo kita harus semangat untuk keluar dari jalanan gelap dan sunyi serta sepi ini" kata ku dengan penuh semangat.
"Iya kak, Arif juga sudah tidak sabar lagi untuk segera keluar dari sini" jawab Arif.
"Ayo kita jalan" kata Angkasa.
Kami terus saja berjalan walaupun tak ada cahaya yang bisa menerangi langkah kami.
Begitu jauh, begitu panjang, begitu lelah sungguh segalanya terasa di dalam tubuh kami yang sudah sejak tadi terus menerus di ganggu oleh hantu dengan berbagai varian.
"Kok jalanan ini panjang banget, di mana ujungnya ini, kenapa tidak ketemu juga?" tanya ku yang sudah gelisah karena tak kunjung sampai di ujung jalanan ini.
"Kita jalan aja lagi za, bentar lagi pasti kita akan ketemu sama jalan keluarnya" jawab Angkasa.
"Gimana kalau semisal jalanan ini bukan jalan keluarnya, aku gak mau tersesat lagi sa" kata ku yang takut hal itu terjadi.
"Kita yakin aja dulu kalau jalanan ini adalah jalanan yang dapat membawa kita menuju rumah, jika semisal jalanan ini bukan jalan keluarnya, kita harus cari jalanan lain lagi yang dapat membawa kita pulang ke rumah" jawab Angkasa.
"Capek sa, udah sejak tadi kita salah jalan terus dan bertemu dengan hantu-hantu yang seram-seram, aku gak mau di ganggu lagi sama hantu, aku udah capek banget, aku pengin segera istirahat" kata ku yang sudah sangat lelah karena sudah sejak tadi berjalan tanpa henti di tempat yang benar-benar aneh dan asing ini.
"Ya mau bagaimana lagi za, gak ada pilihan lain, kita harus tetap jalan, gak bisa diam aja di sini, udah yakin aja kalau jajanan ini dapat membawa kita pulang ke rumah, kamu jangan berpikir negatif dulu, kita telusuri di mana ujungnya, baru kita akan tau jika jalanan ini adalah jalan keluar yang kita cari-cari atau bukan" jawab Angkasa terus menenangkan aku yang sudah tidak bisa diam.
Aku menghembuskan napas berat.
Kami terus berjalan di dalam jalanan yang gelap dan sunyi, langkah kaki kami terdengar nyaring di jalanan ini.
"Sunyi dan sepi, di seluruh jalanan yang sudah kita lewati, hanya jalanan ini yang paling berbeda, kamu ngerasa gak?" tanya ku.
"Ngerasa, mangkanya aku nolak untuk melewati jalanan yang sebelah kiri dan kanan, karena menurut aku jalanan ini yang paling aman, namun kendalanya hanya satu, yaitu seluruh jalanan ini yang gelap gulita bagaikan di tengah malam" jawab Angkasa.
Aku tidak mendengarkan apa yang Angkasa katakan barusan.
Penglihatan ku terus tertuju pada secarik cahaya yang terbang, yang tak jauh dari posisi kami berdiri.
"Apa itu sa?" tanya ku menunjuk ke arahnya.
Angkasa dan Arif melihat apa yang aku tunjukkan.
"Kok ada cahaya yang terbang, cahaya apaan itu?" tanya Angkasa yang juga masih belum tau cahaya apa yang beterbangan itu.
"Kayaknya itu kunang-kunang deh, hanya dia satu-satunya hewan yang memiliki cahaya" jawab ku.