
Ustadz Fahri berjalan menuju makam dukun beranak dengan membawa kendi.
Jarak antara makam tersebut dari rumah lumayan jauh, makam itu terletak di penghujung jalan yang jarang orang lewati karena ke angkernya.
Di saat suasana sekitar mulai menggelap Ustadz Fahri masih terus berjalan dengan membawa kendi itu, meskipun hari sudah mulai menggelap hal itu tak membuat semangatnya berkurang sama sekali.
"Tadz mau kemana, kok ke arah sana?" seorang bapak-bapak menghampiri Ustadz Fahri.
"Saya mau ke makam dukun beranak itu pak"
"Buat apa Ustadz ke sana, jangan ke sana tadz, nanti Ustadz di ganggu sama hantu-hantu di sana" larang bapak-bapak itu.
"Saya ada urusan pak, InsyaAllah hal itu tidak akan terjadi, mari pak" bapak-bapak itu mengangguk dengan tersenyum kemudian Ustadz Fahri kembali melanjutkan perjalanan menuju makam dukun beranak itu.
Ustadz Fahri mendongak menatap ke arah langit yang pelan-pelan berwarna hitam.
"Aku harus segera sampai di makam dukun beranak itu, sebelum dia keburu keluar dari dalam makamnya" Ustadz Fahri dengan terburu-buru berlari menuju tempat makam dukun beranak.
Setelah beberapa menit akhirnya Ustadz Fahri sampai di makam dukun beranak itu yang berada di bawah pohon bambu yang terlihat sangat menyeramkan.
Suara bambu-bambu yang di tiup oleh angin terdengar menyeramkan namun Ustadz Fahri berusaha menahan rasa merinding yang mulai menjalar ke seluruh tubuhnya.
Ustadz Fahri berjongkok dengan memandangi makam dukun beranak itu yang di sekitarnya perlahan-lahan mulai menggelap, ia menaruh kendi itu di pusaran makam tersebut.
Rasa merinding semakin terasa saat langit sudah benar-benar berganti menjadi warna hitam, suara adzan pun berkumandang, namun Ustadz Fahri masih terus menatap makam itu, ia tak bisa berjemaah di masjd hari ini karena ia ingin menyelesaikan masalah dukun beranak ini yang sudah meresahkan masyarakat akhir-akhir ini.
Suasana semakin tambah mencekam ketika Ustadz Fahri merasakan pergerakan makhluk halus yang keluar masuk dari pohon bambu yang ada di sekelilingnya.
Makam itu terletak di tengah-tengah pohon bambu dan di kiri Ustadz Fahri adalah jalan menuju desa sebelah yang jarang sekali orang lewati karena banyak bambu-bambu yang jatuh sehingga membuat warga harus menyingkirkannya dulu jika ingin melewati jalanan ini.
Keadaan semakin gelap, namun tak ada tanda-tanda akan keluarnya dukun beranak itu.
Ustadz Fahri nampak gelisah, cemas dan tak tenang saat masih belum ada tanda-tanda akan keluarnya dukun beranak sedangkan waktu magrib tidak banyak lagi.
"Kenapa dukun beranak itu tidak keluar, apa dia udah keluar sebelum aku datang" batin Ustadz Fahri yang mulai tidak tenang.
"Aku tunggu saja sebentar lagi, kalau isya' dia tidak keluar, maka dapat di simpulkan kalau dia sudah keluar sebelum aku datang ke sini" batin Ustadz Fahri.
Ustadz Fahri menunggu dukun beranak itu keluar, cahaya lampu di sana remang-remang yang membuat Ustadz Fahri semakin merasa merinding.
Tiba-tiba asap putih keluar dari dalam makam tepatnya di arah bagian kaki makam.
Ustadz Fahri melihat tanda-tanda akan keluarnya dukun beranak itu yang membuatnya kembali bersemangat.
Asap yang sebelas dua belas dengan asap rokok itu loncat ke arah kepala makam dan masuk ke dalam kendi yang Ustadz Fahri bawa.
Dengan cepat Ustadz Fahri menutup kendi itu dengan menggunakan bambu yang sudah ia potong menjadi kecil dan dapat di jamin isi di dalam kendi itu tidak akan keluar.
"Dapat, akhirnya dia keluar juga, aku sudah nungguin dia sekali lama di sini, tapi gak apa-apa, yang penting usaha ku berhasil buat dia gak bisa berkutik lagi" senang Ustadz Fahri saat melihat kendi itu yang kini di dalamnya berisikan dukun beranak.
Ustadz Fahri bergegas pulang ke rumah, sepanjang perjalanan pulang Ustadz Fahri merasa ada seseorang yang mengikutinya.
"Kenapa aku merasa ada yang ngikutin aku, tapi pas di cek gak ada siapa-siapa, sebenarnya siapa yang sudah berani ngikutin aku" batin Ustadz Fahri terus melihat ke belakang.
Tiba-tiba bayangan hitam melintas cepat di belakang Ustadz Fahri.
"Aku harus cepat-cepat sampai di rumah" Ustadz Fahri dengan terburu-buru berjalan menuju rumah ia kini sadar ada makhluk halus yang mengikutinya pulang.
Sepanjang perjalanan Ustadz Fahri masih merasakan keberadaan makhluk halus itu, namun ia tetap berjalan pulang menuju rumah, ia tak sama sekali berusaha untuk mengusirnya terlebih dahulu.
"Ustadz"
"Allahu Akbar" terkejut Ustadz Fahri kala mendengar panggilan dari dua Kun, mbk Hilda dan juga dua makhluk penjaga kami.
"Kenapa kalian ngagetin saya, untung saya gak punya penyakit jantung" Ustadz Fahri memegangi dadanya yang shock berat.
"Maaf tadz, kami kira Ustadz gak akan terkejut, kami gak ada niatan ngagetin Ustadz kok" jawab mbk Hilda.
"Iya, saya maafin" jawab Ustadz Fahri.
"Ustadz dari mana aja, kok bawa kendi?" penasaran mbk Gea.
"Iya, kendi apa itu?" mbk Santi juga merasa penasaran pada isi yang ada di dalam kendi itu.
"Saya baru kembali dari makam dukun beranak itu, di dalam kendi ini sudah ada dia" jawab Ustadz Fahri.
"Jadi Ustadz nangkap dukun beranak itu?" terkejut mbk Santi yang mendengar hal itu.
"Iya, saya masukin dia ke dalam kendi ini dan menutupnya rapat-rapat, lalu saya akan buang kendi ini ke laut, biar dukun beranak itu gak akan berkeliaran lagi di desa ini, apa kalian ada yang mau nemenin dukun beranak ini di lautan?" mereka semua langsung ketar-ketir.
"Enggak" jawab mereka kompak.
"Kami gak mau di kurung, apalagi di buang ke laut, selamanya kami pasti gak akan bisa keluar dari dalam kendi itu" Ustadz Fahri tersenyum, ia tau kalau mereka tidak akan mau masuk ke dalam kendi itu.
"Kalau gak mau masuk ke dalam kendi, jangan gangguin orang, kalau kalian ketahuan gangguin orang, saya gak akan segan-segan masukin kalian ke dalam kendi ini biar kalian gak berulah lagi" ancaman Ustadz Fahri membuat mereka semua menelan ludah pahit.
"Enggak tadz, kami gak akan lakukan hal itu, kami ini hantu baik, kami gak akan gangguin orang" jawab mbk Hilda.
"Bagus kalau seperti itu, kalian jagalah di sini, saya mau masuk dulu" mereka mengangguk kompak.
"Tunggu" Ustadz Fahri menghentikan langkahnya ketika mendengar suara itu.
Ustadz Fahri menatap ke arah Tiger."Ada apa Tiger?"
"Kenapa kamu bawa dia ke sini juga" marah Tiger dengan menatap tajam ke depan.