
"Tungguin aja dulu za, mungkin mereka masih berada di perjalanan" jawab Angkasa yang tampak tenang.
"Ayah sama bunda kemana sih kok masih belum sampai di masjid, aku sudah lama berada di sini" batin ku resah.
Angkasa yang dapat mendengar suara hati ku juga sebenarnya merasakan kekhawatiran yang sama.
"Kemana yang lain, mereka nyasar di mana kok sampai saat ini masih belum tiba di Majid" batin Angkasa.
Ketika kami berdua sedang larut dalam pikirkan masing-masing tiba-tiba Angkasa melihat sesuatu yang menarik perhatiannya.
Senyuman langsung terukir di wajahnya.
"Za ada orang" kata Angkasa.
Seketika aku langsung bangun.
"Mana-mana, oh ya" kata ku.
Senyum mengambang di wajah ku saat ada beberapa warga yang datang ke masjid.
Salah satu warga mengumandangkan adzan, satu persatu warga-warga memasuki masjid untuk mendirikan ibadah.
Mereka semua sholat subuh di masjid ini.
"Kok bukan Ustadz Fahri ya imamnya, apa mungkin ada warga lain yang di tugaskan oleh Ustadz Fahri untuk mengimami sholat subuh doang, mungkin aja sih, ya udah ah aku sholat aja" batin ku lalu mendirikan sholat.
Sholatpun selesai di dirikan, semua yang ada di dalam masjid ini mendadak diam.
"Kok gak ada dzikir seperti biasanya saat selesai sholat, kok mereka rata-rata berwajah pucat, mereka kenapa, lagi sakit atau gimana, eh tunggu-tunggu kok semua jemaah pake baju putih-putih, gak ada yang bermotif ataupun berwana lain sedikitpun, wah gak beres ini" batin Angkasa mengamati sekelilingnya.
Aku melihat sekeliling mendadak aku menelan ludah pahit kala menyadari sesuatu.
"Kenapa di antara mereka tidak ada satupun yang aku kenali, kenapa hati ku menjadi gak enak gini, bunda di mana, Aliza di sini" batin ku mencari keberadaan bunda.
Angkasa yang berada di barisan ketiga menoleh ke belakang, aku memberi isyarat dengan kedipan mata lalu kami dengan kompak berdiri dari duduk.
Tiba-tiba semua jemaah langsung menatap kami dengan tatapan aneh tanpa berkedip.
Pelan-pelan wajah pucat mereka berubah menjadi hancur, tatapan mata melotot mereka membuat ku menelan ludah, apalagi di antara mereka ada yang matanya sampai meluncur keluar lantaran saking fokusnya memoloti kami.
"Arrrrgghh" teriak kami lalu berlari keluar dari dalam masjid.
Tatapan tajam mereka membuat kami semakin ketakutan, apalagi wajah mereka yang hancur dengan di sertai senyuman sinis yang menambah menyeramkan.
"Ayo sa kita pergi" teriak ku panik.
Angkasa dengan cepat menyusul ku.
Aku dan Angkasa berlari secepat kilat keluar dari dalam masjid.
Saking paniknya kami sampai lupa untuk memakai sandal.
Kami masih terus berlari untuk menjauhi masjid dengan kepanikan yang terus merajalela.
Setelah cukup jauh kami kemudian berhenti di dekat pohon yang tampak ada tanda X berwarna hitam.
"Huft untung mereka tidak mengejar kita" syukur ku.
Nafas ku tersengal-sengal akibat berlari.
"J-jadi mereka bukan manusia, gak nyangka kita sholat bareng hantu" kata Angkasa.
"Kok bisa kita gak sadar kalau mereka semua itu hantu" kata ku.
"Mereka jin islam za, mereka tidak langsung menampakkan wajah seramnya mangkanya kita gak sadar" jawab Angkasa.
"Untung kita bisa keluar" kata ku.
"Iya, aku sudah takut banget kalau mereka akan ngejar kita" kata Angkasa.
Aku menatap angkasa dari atas hingga ke bawah.
"Angkasa ini benaran manusia atau jin yang menjelma menjadi Angkasa, apa iya Angkasa di depan aku ini bukan manusia" batin ku meragukan Angkasa.
Angkasa memasang wajah datar.
"Kenapa? mau nganggap aku hantu iya?" tanya Angkasa.
Aku mendekati Angkasa, menyentuh wajah, tangan, hingga ke rambut Angkasa.
"Kayaknya ini beneran Angkasa yang asli, bukan Angkasa kaleng-kaleng" batin ku.
"Kamu beneran Angkasa?" tanya ku memastikan.
"Bukan, aku jelangkungnya" jawab Angkasa dingin.
Aku terkekeh mendengar jawabannya.
"Bisa-bisanya nih bocah nganggep aku hantu, gak lihat apa orang ganteng kayak gini masih di sangka hantu" batin Angkasa.
"Maaf, aku cuman takut kejadian tadi terulang kembali gitu, mangkanya aku waspada" kata ku.
"Iya, ayo kita balik, capek juga kita lari sejak tadi" ajak Angkasa.
"Yuk aku juga capek" jawab ku.
Aku memegang erat tangan Angkasa, kejadian barusan membuat ku merinding hingga sampai sekarang.
Angkasa melirik ku yang terus waspada melihat ke kanan dan kiri.
"Kamu takut?" tanya Angkasa.
Aku mengangguk.
"Lembek, sama hantu saja takut haha" hina Angkasa.
Telinga ku menjadi panas mendengar hinaan itu.
"Habisnya hantu tadi seram banget, gak kayak bisanya, mangkanya aku bisa takut" kata ku.
"Mereka jin islam, mereka tidak menampakkan wajahnya seramnya terlebih dahulu pada kita, mangkanya tadi aku kaget banget pas lihat wajah hancur mereka" jawab Angkasa.
"Tapi aneh tau, kok bisa ya di masjid ada hantu, padahal sebelum-sebelumnya gak ada tuh" kata ku merasa aneh.
"Gak tau juga, ayo kita pulang aja" ajak Angkasa.
Aku mengangguk, kami lalu melangkah menuju rumah.
Kami terus berjalan dengan bergandengan tangan.
Di perjalanan pulang tak ada satupun orang yang kami temui, jalanan ini begitu sepi dan sunyi.
"Kenapa jalanan ini sepi sekali, biasanya kan warga pada bangun dan sholat ke masjid, kenapa hari ini gak ada yang keluar sama terlihat sama sekali, pergi kemana mereka, apa mereka masih tidur?" tanya ku.
"Gak tau juga, ayo kita lanjut jalan lagi, nanti kita tanyain pada Ustadz Fahri barang kali beliau tau prihal jin islam yang kita temui tadi" jawab Angkasa.
Kami terus berjalan tanpa henti.
Lambat laun aku menyadari sesuatu.
"Loh ini bukannya tempat waktu pertama kali kita berhenti?" tanya ku melihat pohon yang ada tanda X berwarna hitam.
"Iya, kok bisa kita kembali ke tempat ini lagi, masa kita nyasar di desa ini sih?" tanya Angkasa.
"Gak mungkin, aku sudah hafal banget jalanan di desa, tak mungkin kita nyasar, coba kita jalan lagi, aku mau memastikan apakah benar kita kesasar atau tidak" ajak ku.
"Tapi nyatanya kita masih terus kembali ke jalanan ini za" kata Angkasa.
"Kita gak boleh nyerah, kita harus bisa sampai di rumah, aku gak mau berada di sini lebih lama lagi" kata ku.
Angkasa mengangguk, kami kembali berjalan.
Sepanjang perjalanan aku melihat ke kanan dan kiri yang memang benar-benar berubah, tak sama seperti jalanan di desa pada umumnya.
"Kenapa jalanan ini berbeda sekali, kok bisa tiba-tiba berubah begini, ada apa ini sebenarnya" batin ku merasa aneh.