The Indigo Twins

The Indigo Twins
Teror dari orang misterius



"Sepertinya perayaan itu memakan korban jiwa di setiap tahunnya, saya masih belum tau kemana perginya anak-anak kecil yang hilang setiap tahun, saya yakin mereka ada di salah satu tempat dan tempat itu di jamin tidak akan ada yang tau ataupun di tempati warga" feeling Ustadz Fahri.


"Apa mungkin hilangnya Laras ada hubungannya dengan perayaan itu?" Reno teringat kembali pada Laras yang hilang dan namun sampai sekarang masih tidak ketemu juga.


"Kayaknya memang iya, masalahnya Laras itu di sembunyiin di mana, di dalam hutan gak ada, apa mungkin di rumah pak Jarwo?" pikir Alisa.


"Gak mungkin di rumah pak Jarwo, pasti akan langsung ketahuan kalau Laras di sembunyiin di sana" jawab Reno.


Craangg!


"Allahu Akbar" kami semua terkejut saat mendengar suara kaca yang pecah.


Kami langsung mendekati kaca yang pecah berkeping-keping.


"Kenapa kaca ini bisa pecah?"


"Siapa yang udah mecahinnya?" penasaran Angkasa.


"Sepertinya ada orang yang neror kita deh" firasat Alisa.


Tatapan ku tertuju ke arah depan rumah, tiba-tiba aku menangkap seorang laki-laki yang masuk ke dalam kegelapan.


"Siapa itu?"


Tidak ada jawaban yang ku dengar.


"Siapa za, kamu lihat apa?" penasaran Angkasa yang melihat ku terus menatap ke luar.


"Aku lihat ada orang yang masuk ke dalam kegelapan, kayaknya dia orang yang udah berani mecahin kaca ini"


"Kamu gak lihat wajahnya?" aku menggeleng cepat saat Angkasa mengajukan pertanyaan itu.


"Enggak, dia makai penutup wajah, jadi aku gak bisa ngenalin siapa dia"


"Sepertinya dia memang ingin neror keluarga ini" curiga Ustadz Fahri dengan menatap ke luar yang kosong.


"Tapi apa maksudnya dia ngelakuin ini semua tadz?" tak habis pikir Reno pada orang jahat itu.


"Kayaknya dia tau kalau keluarga ini lagi berusaha mengungkap habis misteri di balik perayaan itu" jawab Ustadz Fahri.


"Apa dia orang suruhannya pak Jarwo selaku orang yang sudah ngadain perayaan itu?" firasat Angkasa.


"Bisa jadi, selain pak Jarwo masih ada pak Sabeni, mereka berdua itu satu paket, mereka pasti sudah tau kalau mbk Indri ada di rumah ini, untuk itu kita harus waspada, kita gak boleh biarkan orang-orang suruhan pak Jarwo dan pak Sabeni membawa mbk Indri kembali ke alam gaib" jawab Ustadz Fahri.


Kami semua mengangguk patuh.


"Ini sudah malam, kalian istirahatlah, jangan keluar dari rumah walau apapun yang terjadi" suruh Ustadz Fahri.


"Baik tadz, kami gak akan keluar dari kamar" jawab Reno.


"Za kamu kau kemana?" teriak Alisa saat melihat ku berjalan mendekati tangga.


"Ke kamar, aku mau tidur, ini sudah malam"


"Aku mau tidur sama kamu ya" aku membalas dengan dehaman saja.


Alisa yang senang langsung mengikuti ku dari belakang, ia masih tidak berani tidur sendiri.


Mereka bertiga membubarkan diri dari ruang tamu dan masuk ke dalam kamar masing-masing.


Aku menaiki tangga bersama Alisa, sebelum masuk ke dalam kamar aku melihat ke kanan dan kiri.


"Pergi kemana dia, kenapa susah tidak ada di sini" batin ku yang tengah mencari keberadaan bayangan hitam yang tadi aku lihat.


"Kenapa diam za, apa yang kamu cari?"


"Enggak ada, ayo kita masuk" kami melangkah masuk ke dalam kamar ku.


"Za kamu mau kemana?" teriak Alisa yang melihat ku membuka pintu balkon.


"Ke balkon sebentar, udah kamu tidur aja, aku ada di sini"


"Aku takut za"


"Gak akan ada yang gangguin kamu, orang aku ada di sini kok, udah tidur aja, nanti aku akan nyusul, kalau nanti ada yang gangguin kamu, tinggal teriak aja, aku yang akan urus dia" Alisa pun mengangguk dan mulai memejamkan mata.


Aku menatap ke arah langit yang gelap, tidak ada bintang dan bulan yang menghiasi malam ini.


Dari balkon aku mendengar suara gamelan yang pasti berasal dari rumah pak Jarwo.


"Kenapa kamu belum tidur" aku terkejut saat mendengar suara itu.


Dengan perasaan terkejut aku menatap ke arah kakek Denso yang tiba-tiba berada tepat di samping ku.


"Kakek"


"Iya ini kakek"


"Kenapa kakek ada di sini, apa akan ada bahaya?"


"Bahaya sedang mendekat, lihat itu" tunjuk kakek Denso ke arah bintang jatuh namun berwarna merah layaknya api, dia tidak seperti bintang jatuh pada umumnya.


Aku melihat ke arah api itu, namun tiba-tiba api itu langsung menghilang begitu saja.


"Loh kenapa api itu ngilang?"


"Karena kamu melihatnya" aku menatap tak percaya ke arah kakek Denso.


"Jadi siapa saja yang melihatnya, dia akan hilang?"


"Benar, itu panah santet, dia akan hilang saat ada orang yang melihatnya, orang yang sudah ngirim panah santet itu akan tau kalau dia gagal menyantet targetnya jika ada orang yang melihat panah itu"


"Emang siapa yang sudah ngirim panah itu kek?"


Kakek Denso diam, ia terus melihat lurus ke depan.


"Ada, mereka berdua saling bermusuhan, mereka tinggal di kampung ini, cepat atau lambat kamu akan tau siapa mereka"


"Kakek apa perayaan itu membawa dampak negatif?"


"Benar, perayaan itu membawa dampak negatif bagi desa ini, sedangkan orang yang sudah ngadain perayaan itu dapat keuntungan yang besar"


"Keuntungan apa kek?"


"Nanti kamu juga akan tau, jaga anak-anak di rumah ini, jangan biarkan mereka menjadi korban selanjutnya" setelah mengatakan hal itu kakek Denso menghilang begitu saja dari hadapan ku.


"Kakek, kakek di mana, kakek" aku terus memanggil nama kakek, namun tetap saja tidak ada, dia benar-benar pergi meninggalkan ku sendirian di balkon.


"Apa maksud kakek Denso, kenapa dia nyuruh aku buat jaga anak-anak di rumah ini, apa mungkin benar perayaan itu membuat anak-anak kecil di desa ini hilang?"


"Kalau seperti itu aku harus waspada, aku gak akan biarin Dita, Rani dan Arif hilang sama seperti Laras dan Intan"


"Besok aku akan bilang pada mereka bertiga untuk jangan main keluar rumah, aku tidak mau mereka bernasib sama seperti Intan yang hilang dan sampai saat ini masih gak ketemu juga"


Wussshhhh


Tiba-tiba aku menangkap bayangan hitam yang melintas di belakang rumah dengan sangat cepat.


"Kayaknya gak aman ada di sini lagi, aku harus masuk ke dalam, sebelum dia gangguin aku" dengan tergesa-gesa aku masuk ke dalam kamar, aku mengunci balkon agar dia tidak masuk ke dalam.


Rasanya lega saat sudah berada di dalam kamar.


Aku melihat ke arah Alisa yang sudah tidur nyenyak, aku mendekatinya dan merebahkan tubuh ku di sampingnya lalu mulai memejamkan mata sepertinya.