The Indigo Twins

The Indigo Twins
Bekerja



Reno dan Alisa yang menyaksikan kejadian itu hanya bisa menutup mata dan telinga.


"Iya, iya aku gak akan main rahasian lagi" teriak Angkasa yang tak tahan dengan jeweran yang ku daratkan.


Aku melepaskan tangan ku yang menjewer telinga Angkasa lalu pergi meninggalkan mereka tanpa mengucapkan sepatah katapun.


"Haha tak tau Liza udah ngamuk" kata mbk Hilda yang baru muncul dan malam memperkeruh keadaan.


"Udah sana kejar, biasa dia emang ngambekkan, sebelum tambah ngamuk lagi" kata Alisa.


Dengan cepat Angkasa langsung mengejar ku yang semakin jauh.


Aku masuk ke dalam kelas ia duduk di bangku ku.


"Jangan marah" rayu Angkasa yang melihat wajah ku yang di tekuk.


Aku mengembuskan napas kasar, mata ku menoleh kearah Angkasa dengan tatapan malas.


"Iya" jawab ku.


Angkasa tersenyum miring.


"Gak boleh marah nanti cepet tua" ejek Angkasa berlari setelah mengejek ku.


"Sialan" pekik ku bangun dari duduk dan berlari mengejar Angkasa.


Kami berlari-lari di koridor sekolah dengan di iringi tawa bahagia.


Kami berdua tak peduli dengan tatapan anak-anak di sekitar yang menatap aneh dan sebagainya.


Wussshhhh


Langkah kami di hentikan oleh sebuah kelebat bayangan hitam yang melintas di depan dengan sangat cepat.


Saat ini kami tengah berada di balkon sepi.


"Apa itu za, kok kayak ada yang lewat barusan?" tanya Angkasa.


Angkasa menoleh ke kanan dan kiri tetapi tak menemukan pemilik bayangan hitam tersebut.


"Gak tau juga, mungkin tadi itu ada makhluk penghuni sekolah ini yang lewat begitu saja" jawab ku.


"Ruangan laboratorium" kata Angkasa membaca tulisan di depan ruangan berkaca tersebut.


Mata Angkasa tertuju ke dalam ruangan laboratorium yang penuh dengan berbagai cairan-cairan berwarna-warni tersebut.


"Ayo kita kembali ke kelas saja" ajak ku menarik paksa Angkasa yang fokus mengamati ruangan laboratorium.


"Gak mau nyari pemilik bayangan hitam tadi?" tanya Angkasa.


"Enggak, gak ada kerjaan juga, besok kita harus bantuin Dava, kasihan dia, dia pasti sangat merindukan papanya, kalau bayangan hitam itu tak akan menganggu kita, dia cuman makhluk halus yang sedang melintas saja" jawab ku.


"Siap, ayo kita kembali ke kelas" kata Angkasa.


Aku mengangguk, kami lalu berjalan menuju kelas.


Di taman.


Keduanya masih duduk manis di sana dengan di temani Tiger dan mbk Hilda.


"Yaah tinggal 10 menit lagi, aku kan belum makan, ish ini semua gara-gara Dava, aku kan gak bisa datang ke taman tepat waktu, sebel sebel sebel" kesal Alisa.


"Udah makan aja dulu, aku tungguin kok, telat gpp yang penting kamu makan, nanti kamu bisa gak fokus ikut pelajaran jika belum makan" jawab Reno.


Alisa mengangguk ia memakan bekalnya, ia tak khawatir karena di sampingnya ada Reno yang menemaninya makan.


"Dava itu teman sekelas mu apa gimana?" tanya Reno.


"Iya dia teman sekelas ku, tadi pagi itu aku sempat di siram sama air yang di campur dengan tepung oleh anak-anak, tapi Dava bantuin aku, mangkanya aku bisa kenal sama dia hanya karena hal itu" jawab Alisa.


"Pantas saja" batin Reno.


Entah kenapa Reno menjadi tak tenang kala tau ada lelaki lain dekat dengan Alisa.


"Emang kenapa?" tanya Alisa.


"Enggak apa-apa kok, aku cuman nanya doang, cepat kamu habisin, sebelum bel berbunyi" jawab Reno.


Alisa mempercepat proses menyantap makanannya.


Setelah selesai makan keduanya pergi meninggalkan mbk Hilda dan Tiger yang berada di taman.


Tiger mengangguk, mereka berdua kemudian menghilang dari sana.


Bel berbunyi.


Kami semua menemui Tiger dan mbk Hilda.


"Ayo kita ke restoran, hari ini kan Reno sama Angkasa mau kerja juga" kata Alisa.


"Iya ayo kita langsung ke restoran saja, kita makan siang di sana aja" jawab ku.


Kami berangkat ke restoran bersama-sama.


Sampai di sana.


"Assalamualaikum ayah bunda" salam kami.


"Wa'alaikum salam" jawab mereka.


Kami menyalami punggung tangan ayah dan bunda.


"Kalian makan dulu yuk, setelah itu baru mulai kerja" ajak bunda.


"Baik Bun" jawab kami.


Kami makan siang bersama di restoran, setelah itu kami memulai berkerja dengan senang.


Malam tiba.


Kami semua duduk di kursi pengunjung karena waktu berkerja sudah habis.


"Bun kata mbk kasirnya ada chef yang berhenti barusan" kata ku.


"Iya bunda sudah tau tentang hal itu, bagaimana ini, restoran butuh chef" jawab bunda.


"Bunda tenang saja, sekitar 2 hari lagi akan ada anak dari teman ayah yang mau menggantikan posisi chef yang berhenti barusan, kita tunggu saja kedatangannya" kata ayah.


"Untung ada pengantinnya, bunda sudah khawatir sekali kalau sampai kekurangan chef, apalagi saat ini suasana restoran ramai terus, kasihan kan chef yang kewalahan menghadapi banyaknya pesanan" jawab bunda.


"Besok kita yang mau menyelamatkan om Devan sehabis pulang sekolah saja" usul ku.


"Siapa lagi om Devan itu?" tanya bunda.


"Itu Bun ayahnya Dava temannya Alisa, om Devan itu di sekap sama istri dan temannya, kita mau bantuin, boleh kan Bun" jawab ku.


"Boleh, tapi hati-hati jangan sampai kalian terluka" kata bunda.


"Siap Bun" jawab kami.


"Kita masih belum tau seperti apa rumahnya Dava, kita harus melihat dulu bentuk rumahnya agar kita bisa memikirkan rencana untuk membebaskan om Devan" kata Angkasa.


"Iya juga, kamu chat Dava sa, biar dia besok membawa potret rumahnya ke sekolahan, kita bahas rencana saat istirahat saja" jawab ku.


"Iya aku akan chat Dava" setuju Alisa.


Alisa melakukan apa yang keinginan.


Bunda melirik jam yang sudah menunjukkan pukul 12 malam.


"Sudah malam nih, ayo kita pulang saja, besok kalian harus berpetualang lagi, lebih baik kita pulang saja biar besok tidak kesiangan bangunnya" ajak ayah.


"Sebelumnya beresin kursi-kursi yang ada di depan itu, bawa masuk ke dalam" kata bunda.


"Siap Bun" jawab kami.


Kami membawa masuk kursi-kursi dan meja ke dalam restoran, setelah selesai kami pulang ke rumah.


Sepanjang perjalanan aku menenggelamkan wajah ku ke punggung Angkasa, karena takut mereka yang tak kasat mata melihat ku dan mengikuti ku.


Motor terus melaju di keheningan malam yang sepi, sampai motor itu berhenti di depan rumah.


"Sudah nyampe, turun gih aku mau naruh motor di garasi dulu" kata Angkasa.


"Oke" jawab ku.


Aku turun dan masuk ke dalam kamar ku.


Aku menuju kamar mandi untuk menggosok gigi dan mencuci kaki setelah itu merebahkan tubuh ku di atas kasur.