The Indigo Twins

The Indigo Twins
Shock



"Jadi anak kami meninggal gara-gara perbuatan dokter Gladis selama ini?" tanya ibu Ningsih shock.


"Iya Bu" jawab kepala RS.


Air mata tak terbendung lagi, setelah bertahun-tahun mencari kejelasan dari kematian Rio, kini mereka mengetahui segalanya.


Sungguh mereka sama sekali tak berfikir jika dokter Gladis yang sudah membuat anaknya pergi menghilang untuk selamanya.


"Rio" lirih Bu Ningsih shock.


Bu Ningsih tak bisa menahan rasa sakit yang menusuk dadanya, saat dirinya kembali teringat dengan Rio sang anak yang sudah meninggal beberapa tahun yang lalu.


Pak Rafi memegang erat tubuh ibu Ningsih yang kehilangan keseimbangannya.


"Maafkan pihak rumah sakit atas kelalaian seorang dokter yang sudah membunuh anak tercinta kalian berdua, kami meminta maaf yang sebesar-besarnya, kami berharap kalian bisa memaafkan dokter Gladis agar bisa meringankan beban almarhumah yang kini juga sudah berpulang" kata pihak rumah sakit.


"Tidakk kami tidak mau memaafkan pembunuh itu huhu" tegas Bu Ningsih merasa sangat terpukul mendengar hal itu.


Pak Rafi mengusap lembut punggung yang istri yang kini sedang di serang kesedihan yang teramat dalam.


"Kami mohon pak Bu tolong maafkan almarhumah atas segala kesalahan yang sudah di lakukannya, karena sesungguhnya orang yang pemaaf itu pahalanya sangat besar, saya mohon maafkan lah, ketahuilah Allah itu maha pemaaf lagi maha pengampun, Allah bisa memaafkan hamba-hambanya yang berdosa, entah itu dosa kecil hingga dosa besar, masa kita makhluknya yang tidak ada apa-apanya di mata Allah, tidak bisa memaafkan kesalahan orang lain, saya tau kalian sangat terpukul atas kepergian Rio, tetapi lambat laut kita juga akan mengalami yang namanya kematian, semua itu sudah menjadi ketetapan sang ilahi, kita tidak bisa menghindarinya, kematian itu akan datang dengan sendirinya" kata pak Ustadz.


Mereka berdua mencerna baik-baik ucapan pak Ustadz.


Cukup lama mereka larut dalam pikiran masing-masing.


"Iya Ustadz kami memaafkan almarhumah" kata pak Rafi.


"Alhamdulillah, terimakasih pak Bu sudah memaafkan dokter Gladis" jawab pihak RS.


"Iya pak, kami juga tau kalaupun kami tidak memaafkan dokter Gladis, anak kami Rio juga tidak akan bisa kembali hidup lagi di dunia ini" kata pak Rafi.


"Kalian yang tabah in syaa Allah, Allah akan membalas segala kebaikan kalian yang sudah berkenan untuk memaafkan kesalahan dokter Gladis, semoga kalian juga di karunia seorang anak yang Sholeh dan Sholehah" kata pak Ustadz.


"Amin pak ustadz" jawab keduanya.


Proses pemakaman berjalan dengan lancar setelah mendapatkan maaf dari kedua orang tua Rio meski bau busuk masih tercium, tapi setidaknya kata maaf dari orang tua Rio bisa mengurangi beban dokter Gladis saat berada di dalam alam barzah setelah ini.


"Gitu ceritanya" kata ayah menceritakan panjang lebar tantang kejadian demi kejadian di acara pemakaman dokter Gladis hari ini.


"Kualat memang tuh dokter, wajar aja kayak gitu, kena azab itu pasti, sungguh terbuat dari apa hati dokter Gladis yang tidak mempunyai rasa iba sedikitpun pada Ningsih yang jelas-jelas saat itu sedang hamil besar loh, huft bunda tak mengerti dengan jalan pikirannya" kata bunda yang sangat kesal dengan dokter Gladis.


"Awas muncul orangnya loh Bun" kata ku menakut-nakuti bunda, baru kali ini aku melihat bunda segeram ini pada seseorang.


Bunda seketika langsung diam.


Aku dan yang lain tergelak melihat bunda yang tiba-tiba diam tak lagi mengamok tak jelas.


"Assalamualaikum" salam seseorang yang mengentikan tawa kami.


Terlihat Alisa dan Reno yang muncul, mereka berdua kemudian menyalami punggung tangan ayah dan bunda.


"Udah pulang" kata bunda.


"Udah dong Bun, gimana dengan proses pemakaman dokter Gladis, lancar gak?" tanya Alisa.


"Jangan deh, aku gak mau di datangin sama dokter Gladis, aku tak akan bisa melawannya nanti" jawab Alisa.


"Dasar penakut" kata ku menertawakannya.


"Biarin, yang penting aku gak di ganggu sama dokter Gladis yang kejam itu, aku takut dia berubah menjadi hantu gentayangan karena terlalu banyak dosa, iih ngeri" jawab Alisa.


Kriet


Pintu terbuka dan terlihat dokter Kevin yang masuk ke dalam, dokter Kevin tersenyum ramah kepada ayah dan bunda.


"Dok saya kapan di bolehin pulang, Aliza sudah tak sabar untuk pulang secepatnya?" tanya ku.


Dokter Kevin mengamati luka ku yang sudah mengering.


"Besok pagi juga boleh pulang, kalau untuk Angkasa hari ini sudah di perbolehkan untuk pulang" jawab dokter Kevin.


Senyum mengambang di wajah Angkasa.


"Akhirnya aku bisa pulang juga, aku sudah tidak betah berada di rumah sakit yang di kelilingi para makhluk tak kasat mata, khususnya dua kunti itu beh menyebalkan sekali mereka berdua" batin Angkasa bahagia.


"Sa nanti kamu pulang ikut ayah ya, istirahat di rumah saja tak perlu menjaga Aliza di rumah sakit oke" kata bunda.


"Iya Bun" jawab Angkasa.


Dokter Kevin pergi meninggalkan kamar dan berganti dengan kedatangan pihak berwajib.


Pak Heru menatap ku yang sudah berulah kembali.


"Di bilangin bandel, kamu itu masih sakit jangan ngurusin mereka dulu, stoplah sebentar saja gak bisa apa" kata pak Heru hanya bisa mencubit pipi ku.


"Gak bisa om, ini itu udah menjadi darah daging, tidak bisa di hentikan walau sedikitpun, om jangan khawatir, aku pasti baik-baik saja kok" jawab ku.


Pak Heru hanya bisa geleng-geleng kepala.


"Om ngapain ke sini, tak mungkin kan om ke sini tidak mempunyai tujuan?" tanya Alisa.


"Ini om lagi minta keterangan terkait kasus dokter Gladis pada kepala rumah sakit, orang tua Rio sudah melaporkan kasus ini ke jalur hukum beberapa tahun yang lalu, tapi pihak kepolisan masih belum menyelesaikannya karena tak ada bukti, semuanya bersih hilang tak bekas, pihak kepolisian terus saja mengusut kasus ini tapi masih belum ada hasilnya dan kini semuanya sudah terungkap" jawab pak Heru.


"Kenapa om tidak bilang saja pada kami, kami kan bisa menyelidiki kasus ini, kami bisa menyelesaikannya tanpa menghabiskan waktu yang lama" kata ku.


"Kalian waktu itu masih terlalu kecil, bahaya berurusan dengan kasus seperti ini, tidak mau kalian yang terluka, bisa-bisa bunda kalian akan langsung menerkam om hidup-hidup kalau ada apa-apa sama kalian" jawab pak Heru melihat bunda yang menatap tajam ke arahnya.


Kami terkekeh mendengar hal itu.


"Oh ya om, di rumah dokter Gladis tepatnya di belakang rumahnya itu ada kerangka kedua orang tuanya dan juga mbk Nela, tolong om makamkan kerangka mereka dengan layak" kata ku.


"Iya nanti om ke sana" jawab pak Heru.


"Terimakasih om" kata ku.


"Sama-sama" jawab pak Heru.