The Indigo Twins

The Indigo Twins
Ancaman genderuwo



Aku menatap kembali ke arah genderuwo itu yang menyunggingkan senyuman sinis.


"Apa yang dia inginkan, kenapa dia menatap ku seperti itu, aku harus waspada, aku tidak boleh diamin dia gitu aja" batin ku.


Genderuwo itu berjalan mendekati ku.


Aku langsung panik, aku tidak bisa mundur karena di belakang ku banyak anak-anak kecil itu yang berlindung.


"Jangan dekati aku!"


Seketika genderuwo itu menjadi tuli, ia terus mendekati ku dengan tatapan mautnya.


Aku menelan ludah pahit, aku tidak bisa mundur, anak-anak kecil yang berada di belakang ku menangis saat genderuwo jahat itu mendekat, aku tambah bingung harus melakukan apa.


"Apa yang harus aku lakukan, aku tidak bisa diam saja, aku tidak mau dia berbuat macem-macem pada anak-anak itu, apa lagi sampai buat mereka hilang, itu tidak boleh terjadi, aku harus lakuin sesuatu" batin ku.


Genderuwo itu menyunggingkan senyuman licik dan sinisnya.


Aku menutup mata ku.


"بسم لله الرحمن الرحيم ٱللَّهُ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلْحَىُّ ٱلْقَيُّومُ ۚ "


Seketika langkah genderuwo itu terhenti saat mendengar ayat kursi yang aku lantunkan.


Mata genderuwo itu menatap tajam ke arah ku, ayat kursi membuat tubuhnya perlahan-lahan memanas.


"لَا تَأْخُذُهُۥ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ ۚ لَّهُۥ مَا فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِى ٱلْأَرْضِ ۗ"


Genderuwo itu masih tetap diam, ia masih berusaha menahan panas yang pelan-pelan menjalar ke seluruh tubuhnya.


"مَن ذَا ٱلَّذِى يَشْفَعُ عِندَهُۥٓ إِلَّا بِإِذْنِهِۦ ۚ "


"Aaaaaarrrrrrgh!"


Teriakan panjang genderuwo itu saat merasakan tubuhnya yang terbakar api ketika telinganya mendengar lantunan ayat kursi.


"HENTIKAN! jangan di baca lagi"


Aku tidak mendengarkan dan terus membaca ayat kursi untuk membuatnya pergi dari sini.


"يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ ۖ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَىْءٍ مِّنْ عِلْمِهِۦٓ إِلَّا بِمَا شَآءَ ۚ "


"HENTIKAN, ku bilang berhati ya berhenti!"


"Kenapa kau masih lanjutin!"


"Arrrrgghh"


Genderuwo itu meraung, lantunan ayat kursi membuatnya seperti orang yang kesurupan.


"Berhenti, jangan lanjutkan!"


"وَسِعَ كُرْسِيُّهُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ ۖ وَلَا يَـُٔودُهُۥ حِفْظُهُمَا ۚ وَهُوَ ٱلْعَلِىُّ ٱلْعَظِيمُ"


"Arrrrgghh"


Teriakan panjang genderuwo itu.


Tiba-tiba ia berhenti berteriak, ia menatap tajam ke arah ku, matanya melotot tajam, terpancar kemarahan di wajahnya.


Aku menelan ludah pahit, ayat kursi itu sudah selesai ku baca, tetapi tetap saja genderuwo itu tidak pergi.


"Kenapa dia tidak pergi, kenapa dia kebal sekali, biasanya makhluk halus yang lainnya akan pergi setelah ku bacakan ayat kursi, tapi kenapa dia tidak" batin ku yang ketar-ketir saat di tatap dengan tajam oleh genderuwo itu.


"SUDAH BACAAN MU HAH!"


Aku terkesiap, bentakan keras genderuwo itu berhasil membuat tubuh ku terguncang dahsyat.


Aku menelan ludah saat matanya tambah seram, aku bingung harus melakukan apa lagi setelah ini.


"Sekarang giliran ku menyerang mu!"


Aku ketar-ketir, ancaman genderuwo itu tidak bisa di entengkan, wajah ku memucat saat tangan genderuwo itu memegang kayu yang besar.


"Matilah aku, apa yang harus aku lakukan" batin ku kebingungan.


"Arrrrgghh" teriak ku dengan menutup mata saat kayu itu akan mendarat di tubuh ku.


Brukk


Aku membuka mata, aku merasa aneh saat tubuh ku baik-baik saja tidak terkena kayu yang besar itu.


Aku menatap takjub ke arah kingkong yang tiba-tiba berdiri di depan ku, dia yang telah melindungi ku sehingga kayu besar itu tidak membuat ku terluka.


"Tobe kenapa kau berada di sana, minggir!"


"Tidak, aku tidak akan pernah minggir" jawab Tobe tegas.


"Oh jadi sekarang kau berpihak pada mereka, aku paham-paham" genderuwo besar itu tampak menganggut-anggut, ia sekarang paham mengapa Tobe rela tubuhnya terkana kayu yang ia lempar.


"Apa mungkin kau juga yang sudah membawa gadis kecil itu ke sini?"


"Iya aku yang sudah membawanya, kenapa kau!"


"Tobe kau benar-benar telah berkhianat, kau tidak takut di hukum sama taun apa!"


"Tidak, untuk apa aku takut padanya, mulai hari ini aku tidak mau lagi menjadi budaknya, aku sudah muak melihat dia yang makin hari makin serakah karena kekayaannya, dia tidak pernah mikirin perasaan anak-anak kecil yang tidak berdosa yang sudah dia jadikan tumbal, aku sudah lelah melihatnya yang semakin hari semakin tamak!"


"Hei kau, apa yang sudah kau lakukan pada teman ku, kenapa kau buat dia seperti ini" genderuwo besar itu menatap ke arah ku dengan tatapan tajam.


"Dia tidak ada hubungannya dengan hal ini, jangan kau coba-coba buat dia sengsara"


"Jelas ini semua ada hubungannya dengannya, kalau tanpa adanya dia, kau tidak akan berkhianat Tobe"


"Tone cukup, aku berkhianat bukan karena dia, aku hanya kasihan pada anak-anak kecil yang tak berdosa yang selama ini di kurung oleh tuan mu itu, telinga ku sakit saat mendengar tangisannya, ingin rasanya aku membantu mereka sejak dulu, dan keinginan ku terkabulkan hari ini"


"Tidak Tobe, kau berkhianat karena dia, dia yang patut di salahkan!" tegas Tone dengan menunjuk ke arah ku.


"Aku akan bikin dia sengasara, tak akan aku biarkan dia hidup tenang, dia sudah membuat kedua tuan ku hancur, akan aku balaskan dendam mereka, kau tunggu saja hari pembalasan itu!"


Aku diam, ancaman Tone membuat ku ketakutan, aku tidak bisa menyepelekan ancamannya, ia saat ini benar-benar marah besar pada ku.


Tiba-tiba kayu terangkat ke udara, aku ternganga melihat kayu itu.


"Arrrrgghh"


Brukk


Sekali lagi Tobe melindungi ku, ia menggunakan tubuhnya untuk melawan serangan dari Tone yang merupakan temannya.


"Tone sudah cukup, pergi kau dari sini!"


"Tidak, aku tidak mau pergi dari sini, kau siapa nyuruh-nyuruh aku untuk pergi dari sini"


Wajah Tobe marah, ia memberikan tatapan tajam ke arah Tone.


Aku melihat mereka dengan sangat ketakutan, aku menjauhkan sedikit tubuh dari mereka yang tengah adu mulut.


"Arrrrgghh" teriak ku saat tiba-tiba ada kayu yang terlempar tepat ke arah ku.


Aku terduduk di bawah, aku memegangi dada ku yang terkena lemparan itu.


Tobe melihat ke arah ku yang langsung lemas dengan terus meringis menahan rasa sakit.


"Aliza"


Aku meringis, dada ku sangat sakit, lemparan itu berhasil membuat ku terluka.


Tobe beralih menatap ke arah Tone dengan tatapan tajam dan mematikan.


"KAU!"


"Kenapa Tobe, apa kau tidak terima, apa kau akan balas dendam?"


Tobe mengepal kuat tangannya, ia memberikan tatapan tajamnya pada Tone yang tampak bahagia saat melihat ku terluka.


"Ini masih permulaan Tobe, akan aku buat dia hancur, sehancur-hancurnya"