
"Pantas saja kunci ruangan rahasia ini hilang satu, jadi rupa-rupanya kalian yang sudah mencurinya" tuduh tante Celina.
"Ya Allah lindungilah Aliza dan juga orang-orang baik yang ada di sini, hamba mohon jagalah kami semua" batin ku yang hanya bisa berdoa dalam keadaan runyam seperti ini.
Om Tio dan tante Celina mendekati kami.
Mendadak wajah kami tegang saat tatapan keduanya menatap tajam ke arah kami.
"Jangan mendekat" kata Angkasa dengan mengarahkan pisau tajam kehadapan mereka yang semakin mendekatinya.
Mereka berdua berhenti dengan wajah yang sangat terkejut.
"Wah sungguh berani pemuda ini mengancam kita" kata om Tio tersenyum penuh makna tersirat di dalamnya.
"Om jangan berani-beraninya mendekat atau enggak, aku akan menusukkan pisau ini ke tubuh om" ancam Angkasa dengan penuh keberanian.
"Owhh enggak, om gak akan dekati kamu kok" jawab om Tio tersenyum menyeringai.
Wajah ku memucat bak orang yang tak punya darah sama sekali kala melihat tatapan om Tio.
Mata om Tio melihat seseorang yang akan bisa membuat keadaan terkendali.
Om Tio dengan cepat langsung mengeluarkan belati dari sakunya lalu berlari ke arah ku setelah itu mengarahkan belati itu ke jenjang leher putih ku, kedua tangan ku di pegang erat-erat oleh om Tio.
"Kasa" teriak ku yang kaget dengan apa yang di lakukan om Tio.
Om Tio tersenyum menyeringai.
"Letakan pisau itu, jika mau teman mu yang satu ini selamat" ancam om Tio yang akan membuat Angkasa tak bisa berkutik saat aku sudah berada dalam kendalinya.
"Jangan sa, jangan kamu turuti mereka karena pastinya setelah ini kita tidak akan bisa apa-apa lagi dan iblis ini bakalan bisa bertindak sesuka hatinya" cegah ku tak mau hal itu terjadi.
"DIAM BOCAH SIALAN" bentak om Tio.
Seumur-umur baru kali ini aku di bentak dengan sangat keras seperti ini.
"Sa apapun yang terjadi kamu gak boleh menuruti apa kata iblis ini" kata ku.
"Bagaimana ini, apa yang harus aku pilih, jika aku menuruti om Tio aku tidak akan bisa berbuat apapun lagi, tetapi jika aku menuruti keinginan Aliza, aku hanya takut jika om Tio akan melakukan sesuatu yang dapat membahayakan Aliza" batin Angkasa bingung.
"Aku yakin om Tio gak bakalan melakukan hal-hal di luar batas, percaya deh sama aku" kata ku menyakinkan Angkasa.
Om Tio tersenyum menyeringai.
"Owh kamu pikir aku hanya bisa menggertak saja iya, liat ini akan aku tunjukkan siapa aku
sebenarnya" kata om Tio.
Om Tio menempelkan belati tajam tepat di leher ku, menggeseknya sedikit hingga mengeluarkan darah segar.
Aku memejamkan mata saat benda tajam itu melukai leher ku.
"Liza" teriak Angkasa tak percaya.
Om Devan tercekat melihat om Tio benar-benar serius akan ucapannya.
"Ya Allah gimana ini, apa yang harus hamba pilih, di satu sisi hamba ingin menyelamatkan om Devan, tapi di sini lain hamba harus membantu Aliza agar dia tidak di celakai oleh om Tio lebih kejam lagi" batin Angkasa.
"Aaauw" rintihan ku yang berhasil membuat telinga Angkasa meledak-ledak mendengarnya.
"Oke om aku bakalan turuti apa yang om katakan, tapi om harus lepasin Aliza" kata Angkasa lalu secara perlahan Angkasa meletakan benda tajam di lantai, kedua tangannya mengangkat ke atas.
"Bagus, gitu dong dari tadi, mungkin saat ini teman mu yang cantik ini tidak akan terluka kalau kamu mau menuruti perintah om" kata om Tio tersenyum penuh kemenangan.
"Maaf za aku harus lakuin ini karena aku gak mau kamu terluka lebih dalam lagi" batin Angkasa.
"Devan, kamu lihat kan kedua anak ini akan celaka jika kamu berani melarikan diri dari sini" kata om Tio.
"Tio bebaskan mereka, aku rela hidup selamanya di sini hingga ajal menjemput ku, asalkan kedua anak-anak ini bisa terbebas dari sini" jawab om Devan.
"Enggak om, Aliza gak apa-apa, kita ke sini mau bantuin om, jangan buat pengorbanan kita sia-sia om, ayolah om jangan menyerah, kita harus yakin kalau kita bisa bebas dari ruangan ini" kata ku.
"Om percaya lah pada kami, in sya Allah kita akan bisa membebaskan om dari sin, om jangan menyerah dulu" kata Angkasa.
"Enggak anak-anak, om rela menghabiskan sisa waktu om di sini yang penting kalian bisa hidup dengan baik setelah ini, memang om sangat ingin bertemu dengan Dava, tapi om tidak bisa mengambil resiko, om tidak bisa egois, om titip salam buat Dava, katakan padanya kalau om sayang menyayanginya" jawab om Devan.
"Om pasti bisa keluar dari sini, aku yakin itu, om jangan berpikiran yang tidak-tidak dulu, yakin saja kalau kita bisa keluar dari sini" kata ku berusaha menyakinkan ok Devan.
"Devan katakan apa yang ingin kamu sampaikan kepada anak mu, sebelum mereka berdua pergi meninggalkan mu sendiri di sini" kata Celina.
"Nak katakan pada Dava bahwa om masih hidup, tetapi om tidak bisa ada di dekatnya, walaupun om masih bisa bernafas dengan baik, om titip salam buat Dava" kata om Devan dengan sangat tulus.
"Enggak om, kita pasti bisa bantuin om yang penting sekarang om jangan nyerah dulu sebelum berperang, kita usaha dulu untuk melawan kedua manusia berhati iblis ini" kata ku berusaha menguatkan om Devan agar tidak menyerah.
"DIAM mau aku tambahin hah, kenapa sedari tadi kau tidak mendengarkan ku" bentak om Tio.
Darah segar masih terus mengalir di leher ku.
Aku diam tak mengeluarkan sepatah katapun.
"Gimana ini ya Allah Aliza tidak bisa melawan karena Aliza takut jika om Devan akan semakin menyerah jika sesuatu terjadi lebih dalam pada Aliza" batin ku.
"Apa yang harus aku lakukan ini, aku tidak boleh diam saja, hmm mbk Hilda yah dia bisa membantu ku, aku harus panggil mbk Hilda" batin ku teringat sesuatu.
"Mbk Hilda oh mbk Hilda" batin ku memanggilnya.
"Alizaa" kata mbk Hilda yang baru muncul ia begitu terkejut kala melihat om Tio yang telah berhasil melukai leher ku.
"Kenapa kamu bisa terluka, siapa yang sudah melukai mu?" tanya mbk Hilda.
"Orang yang memegang belati yang sudah melakukannya, mbk aku mohon, tolongin aku" batin ku yang sedang kesakitan.
"Siap, kamu tenang saja, mbk akan bantuin kamu" jawab mbk Hilda.
Mbk Hilda mengepal kuat, matanya berubah menjadi merah darah, pelan-pelan mbk Hilda mendekati rekan kerja pak Heru yang bernama Abu yang saat ini tengah berada di ambang pintu.