The Indigo Twins

The Indigo Twins
Hilangnya Laras



Mbk Rinda mendekati dapur dengan wajah yang terlihat cemas.


"Ada apa mbk, kenapa kayak cemas gitu, apa yang udah terjadi?" Alisa merasa ada sesuatu yang terjadi pada mbk Rinda sehingga ekspresinya berubah total.


"Itu non mbk barusan dengar anaknya pak Rahmat hilang" jawab mbk Rinda.


"HILANG?"


Terkejut kami ketika apa yang Dita katakan kemarin benar-benar terjadi.


"Iya non, barusan mbk dengar dari warga kalau anaknya pak Rahmat yang sebaya dengan Dita hilang, bu Romlah sampai-sampai jatuh pingsan setelah tau anaknya hilang" jelas mbk Rinda.


"Hilang gimana mbk?"


"Mbk juga gak tau, mbk cuma dengar kalau anaknya pak Rahmat hilang gitu aja, gak tau hilang karena apanya" jawab mbk Rinda.


"Kita harus ke sana, kita harus cari tau kenapa anaknya pak Rahmat hilang" mereka mengangguk lalu bangun dari duduk dan keluar dari dalam rumah lalu menuju ke rumah pak Rahmat.


"Apa benar anak pak Rahmat di culik sama mbah Gamik?" curiga Alisa karena hanya mbah Gamik orang yang saat ini yang patut ia curigai.


"Gak tau juga, kemungkinan besar memang mbah Gamik orang yang sudah nyulik anaknya pak Rahmat"


"Ayo kita cepat-cepat ke sana saja, biar kita tau kronologis kejadian hilangnya anaknya pak Rahmat" ajak Reno.


Kami setuju lalu mempercepat langkah menuju rumahnya pak Rahmat yang tidak terlalu jauh dari rumah ku hanya berjarak beberapa rumah saja.


Setelah beberapa menit berjalan kami akhirnya sampai di tempat yang kami tuju.


Di rumah pak Rahmat banyak sekali warga yang memenuhinya, tangisan ibu Romlah terus terdengar.


Aku mendekat ke arah warga-warga bersama yang lainnya.


"Ada apa ini bu, kenapa banyak orang di sini?"


"Ini anaknya bu Romlah hilang" jawab bu Hanung yang berada di sebelah ku.


"Kok bisa hilang bu?" merasa aneh Alisa dengan hilangnya anaknya bu Romlah.


"Enggak tau juga, kata bu Romlah saat udah pagi ia ngecek ke kamar Laras namun Laras sudah tidak ada di kamarnya, dia sudah mencari Laras ke seluruh rumah namun tidak ada juga, kemungkinan Laras itu di culik sama makhluk halus" jawab bu Hanung.


Angkasa yang mendengar hal itu tiba-tiba teringat pada selendang hitam yang hinggap di atas atap rumah pak Rahmat tadi malam.


"Apa hilangnya Laras ada hubungannya sama selendang hitam itu, tapi kan dia selendang biasa, mana mungkin bisa nyulik Laras" batin Angkasa yang masih ragu apakah selendang hitam itu ada hubungannya atau tidak.


"Laras kamu di mana nak, kamu pergi kemana huhu" tangis bu Romlah yang sangat kehilangan anak semata wayangnya.


"Pak tolong cari Laras, dia harus ketemu" titah bu Romlah dengan air mata yang terus mengalir.


Pak Rahmat hanya diam, ia masih terpukul dengan hilangnya anak semata wayangnya yang tidak di ketahui kemana perginya.


"Pak cepat cari Laras, ibu mau dia kembali, ibu tidak mau kehilangan dia" histeria bu Romlah namun pak Rahmat hanya bisa diam, ia tak tau harus mencari Laras di mana.


Bu Romlah dengan air mata yang mengalir menatap ke arah Ustadz Fahri."Wa'alaikum salam, Ustadz tolong cari anak saya, saya ingin anak saya kembali"


"Saya akan berusaha ibu, namun saya hanya ingin tau kenapa anak ibu bisa hilang, dia pergi kemana bu, kenapa bisa tiba-tiba hilang?" Ustadz Fahri mengambil duduk di dekat pak Rahmat yang masih linglung.


"Dia tidak pergi kemana-mana tadz, dia ada di dalam rumah, saat malam saya cek dia masih ada di dalam kamarnya, tapi ketika pagi saya cek lagi, dia sudah gak ada tadz, saya sudah cari dia kemana-mana, namun dia tetap saja tidak ketemu" jelas bu Romlah yang bingung mau mencari Laras di mana lagi.


"Jadi Laras hilang di dalam rumah bu?" Ustadz Fahri merasa ada keanehan pada hilangnya Laras.


Bu Romlah mengangguk."Bener tadz, Laras hilang di dalam rumah, saya tidak tau dia pergi kemana, saya sudah mencari kemana-mana namun tetap saja tidak ada"


Ustadz Fahri tiba-tiba langsung diam.


"Ada apa tadz?"


"Enggak, saya hanya merasa hilangnya Laras ini gak wajar" jawab Ustadz Fahri.


"Palingan Laras di culik sama hantu bu" suara itu membuat kami terkejut.


Aku melihat ke arah pak Tono yang barusan mengatakan hal itu.


"Kemungkinan besar memang iya, karena hilangnya Laras ini benar-benar tidak wajar" jawab bu Hanung.


"Kita mau nyari kemana kalau memang benar Laras di culik sama hantu?" bingung Alisa yang memang tak pernah menyelidiki masalah beginian selama ini.


"Hutan, di hutan pasti ada Laras, palingan Laras di culik sama mbah Gamik, dia kan biang keroknya sama ini" sahut bu Weni.


"Ustadz saya mohon temuin anak saya, saya tidak mau kehilangan dia tadz, saya mohon sekali bawa dia kembali" titah bu Romlah yang tak mau kehilangan Laras, ia tidak mau anaknya bernasib sama seperti anak-anak warga lainnya yang hilang dan tidak pernah di temukan sampai saat ini.


"Saya akan berusaha bu, kami akan masuk ke dalam hutan, kami akan mencari Laras di sana, mudah-mudahan kami bertemu dengan Laras" jawab Ustadz Fahri.


"Jangan ke sana" cegah pak Tejo.


Aku menatap aneh ke arahnya."Kenapa pak, kenapa kami tidak boleh ke sana?"


"Karena kalian tidak akan bisa kembali lagi kalau nekat masuk ke dalam sana" jawab pak Tejo.


"Tapi kami yakin kami bisa kembali pak"


"Kamu ini ngeyel di bilangin, di suruh jangan ke sana masih aja nekat ke sana, terserah kamu mau ke sana apa enggak, yang jelas saya sudah bilang kalau siapa saja yang masuk ke dalam hutan pasti tidak akan bisa kembali lagi" marah pak Tejo karena aku tak mendengarkan perintahnya.


"Ustadz jangan nekat masuk ke sana, saya hanya tak mau ada apa-apa sama Ustadz dan yang lainnya" khawatir pak RT yang takut kami benar-benar tidak akan kembali.


"Saya yakin saya bisa kembali pak RT, pak RT tidak usah khawatir pada kami, sebisa mungkin kami akan kembali, pak RT doakan lah semoga kami bisa kembali dengan selamat" titah Ustadz Fahri.


"Kami pasti akan selalu mendoakan Ustadz, Ustadz berhati-hatilah saat masuk ke sana" jawab pak RT.


Ustadz mengangguk patuh."Ayo anak-anak kita siap-siap untuk nyari Laras, pak bu kami permisi dulu, assalamualaikum" pamit Ustadz Fahri pada mereka semua yang berada di rumah pak Rahmat.


"Wa'alaikum salam" jawab mereka semua.