The Indigo Twins

The Indigo Twins
Merayap-rayap



Aku langsung mematikan hp lalu memasukkan kembali ke dalam saku.


Tatapan om Tio dan tante Celina tertuju pada kaleng yang tergeletak di bawah.


Wajah kami berdua memucat.


Ketegangan terpancar di wajah kami yang tengah bersembunyi di bawah kolom meja.


Pelan-pelan om Tio mendekati kaleng bekas.


"Waduh bagaimana ini, ya Allah ku mohon jangan biarkan om Tio mengetahui keberadaan kami" batin ku memohon.


tap tap tap


Suara langkah kaki itu membuat keringat-keringat dingin bercucuran keluar dari tubuh kami.


Suara langkah kaki itu semakin mendekat membuat kami sangat tegang.


Tiba-tiba seekor kecoa merayap ke seluruh tubuh Angkasa.


Aku dengan cepat langsung menutup mulut Angkasa, takut dia berteriak di keadaan yang sangat Urgent ini.


"Sial, kenapa hewan ini terus merayap-rayap di tubuh ku sih, oh tidak aku sudah tak tahan lagi, aku mohon pergilah menjauh dari tubuh ku sana, hus hus hus pergilah cepat" batin Angkasa sungguh tertekan.


Om Tio mendekat semakin mendekat tiba-tiba seekor hewan keluar dari dalam kaleng bekas.


"Owh cuman tikus" kata om Tio melihat seekor tikus yang keluar dari dalam kaleng.


"Damn it, kenapa ada si kecil manis di sini juga, ya Rabb kau sungguh menyiksa ku, Aliza bisakah kau lepaskan tangan mu ini, aku sudah tidak tahan lagi untuk segera mengusir hewan menjijikan ini dari tubuh ku" batin Angkasa tak tenang.


Om Tio berjalan menjauhi kami berdua yang sudah tegang setengah mati.


"Mas kita balik aja yuk pengap disini, berdebu lagi" ajak tante Celina.


Om Tio melihat Devan.


"Ingat jangan pernah mimpi aku bakal lepasin kamu" tegas om Tio.


Mereka berdua berjalan keluar dari dalam kamar setelah memberi om Devan peringatan.


Setelah memastikan mereka benar-benar keluar, aku melepaskan tangan yang menutup mulut Angkasa.


"Aman" syukur ku kembali bisa bernafas lega.


Angkasa langsung menepis kecoa yang ada di lengannya dengan jijik.


Kami berdua keluar dari persembunyian.


"Sumpah rasanya aku mau mati saat dua hewan paling aku benci ada di dekat ku, iiih jijik" kata Angkasa.


Aku terkekeh kecil mendengar hal itu.


Pandangan ku tiba-tiba beralih melihat om Devan yang sedang di sekap.


"Kita langsung aja lepasin om Devan, jangan menunda-nunda lagi" ajak ku.


"Ayo kita harus cepat-cepat keluar dari sini, sebelum om Tio sama tante Celina balik lagi ke sini, bisa-bisa seluruh rencana kita akan gagal total" jawab Angkasa.


Aku dan Angkasa mendekati om Devan yang duduk di kursi dengan tubuh yang di ikat dengan tali.


"Mulai dari mana ini, liat tuh tubuh om Devan penuh dengan tali-tali yang mengikatnya" kata ku.


"Kamu punya pisau atau benda tajam yang bisa memutus tali ini gak? kita gak akan bisa memutuskan tali-tali ini tanpa ada bantuan dari benda-benda tajam" kata Angkasa.


"Enggak ada, kita cari aja mungkin di sekitaran sini ada, kamu buka lakban yang menutup mulut om Devan, aku yang bakalan nyari pisau atau apalah itu yang bisa memutus tali-tali itu" jawab ku.


Aku mencari benda tajam di sekitaran sini.


Angkasa membuka lakban yang sudah menutup mulut om Devan.


"Kalian siapa?" tanya om Devan.


Mendengar kata Dava om Devan tidak bisa menahan air matanya.


"Kalian temannya Dava?" tanya om Devan tak percaya.


"Iya om kami temannya Dava" jawab Angkasa.


"Ya Allah sudah berapa la hamba berada di sini sampai-sampai anak hamba sudah dewasa tanpa hamba ketahui, ya Rabb kapan hamba mu ini bisa terbebas dari penjara yang lebih penyiksaan ini" batin om Devan sudah tak tahan.


"Dava seusia kita kok om, tenang aja om in sya Allah kita bakalan bebasin om dari sini" kata Angkasa yang bisa mendengar suara om Devan.


Om Devan tertegun sejenak, di dalam hatinya bertanya-tanya kenapa anak laki-laki di sampingnya bisa mendengar suara hati yang di katakannya barusan.


Angkasa berusaha melepaskan tali yang mengikat im Devan.


"Ish kok gak bisa sih di bukannya, susah bener nih tali lepasnya" pekik Angkasa.


"Sa ini ada pisau" teriak ku yang begitu senang kala menemukan benda yang sudah lama aku cari-cari sejak tadi.


Dengan cepat Angkasa menoleh ke asal suara yang berteriak dengan sangat keras hingga hampir memecahkan gendang telinganya.


Angkasa mendekati ku.


"Gak usah teriak-teriak juga kali, bisa-bisa om Tio sama tante Celina bakalan balik lagi ke sini" larang Angkasa.


"Maaf kelepasan" jawab ku.


"Mana pisaunya?" tanya Angkasa.


"Tuh ambil gih, aku gak bisa meraihnya, tangan aku pendek" tunjuk ku kepada pisau yang ada di bawah lemari paling ujung.


"Heleh alasan" kata Angkasa lali berjongkok dan berusaha mengambil pisau yang ada di bawah kolom lemari.


Aku tersenyum mendengar hal itu.


Angkasa menggeser-geser tangannya hingga benda yang dia inginkan bisa juga dia dapatkan.


"Akhirnya dapat juga" kata Angkasa lalu melangkah mendekati om Devan kembali.


Angkasa memotong tali yang mengikat om Devan dengan pelan-pelan takut benda yang tajam itu melukai kulit om Devan.


Angkasa di bantu oleh ku melepaskan tali yang mengikat om Devan.


"Alhamdulillah akhirnya selesai" syukur ku saat melihat om Devan sudah terbebas dari tali-tali yang mengikatnya selama ini.


Om Devan berdiri setelah beberapa tahun dirinya duduk di kursi dengan tali-tali yang mengikatnya.


"Kita langsung aja pergi dari sini, sebelum om Tio sama Tante Celina ke sini lagi" ajak Angkasa.


"Iya ayo" jawab ku.


Kami melangkah mendekati pintu.


Baru beberapa langkah kami berjalan,


tiba-tiba pintu terbuka dengan lebar dan menampakkan om Tio dan Tante Celina yang berdiri di sana.


Wajah kami tercekat.


"Gawat, mereka belum pergi ternyata, sial bisa-bisanya mereka berhasil menipu ku dengan pura-pura pergi dari ruangan ini" batin Angkasa.


Senyum bengis terukir di wajah kedua pasangan suami istri yang sangat rakus akan harta tersebut.


"Dugaan ku benar, ternyata ada dua bocah tengil yang ingin membebaskan Devan" suara om Tio terdengar marah.


Sebelum pintu terbuka Angkasa sudah menyembunyikan pisau tajam itu di belakang tubuhnya untuk berjaga-jaga, takut sewaktu-waktu bisa di gunakan.


"Iya kita ingin membebaskan om Devan kenapa kau, mau ngancam kita hah, oke akan aku lawan kalian dengan senjata ini" batin Angkasa yang akan berusaha melindungi kami berdua.