The Indigo Twins

The Indigo Twins
Misteri di balik angka 4,6,8



Mereka melihat ke arah pohon dan benar saja jika di sana ada gadis pucat yang menatap lurus ke depan.


"Ayo kita samperin dia sebelum dia keburu ngilang" ajak Alisa.


Kami mengangguk lalu berlari mendekati gadis pucat itu yang masih diam di tempat.


"Siapa kamu, kenapa kamu selalu ngikutin kami dan kenapa kamu bisa meninggal, apa yang sebenarnya terjadi pada mu?" tanya Alisa yang begitu sangat penasaran pada hal itu.


"4,6,8"


Angka itu kembali gadis pucat itu lontarkan, ia mengatakan hal itu dengan pandangan lurus ke depan.


"4,6,8, apa yang kamu maksud sebenarnya, kenapa dari kemarin kamu terus ngucapin angka-angka itu?" tanya ku yang penasaran sekali ada misteri apa di balik angka itu.


"Pecahkan misteri di balik tiga angka itu, jika kalian bisa mecahinnya maka kalian akan tau segalanya" jawab gadis pucat itu.


"Apa di balik angka itu terdapat misteri dari kematian mu?" tanya Angkasa memastikan.


"Tentu saja, segalanya akan terungkap jika kalian bisa mecahin misteri di balik angka itu" jawab gadis pucat.


"Kenapa kau memberi kami misteri seperti ini, cepat katakan saja apa yang terjadi pada mu sehingga kamu bisa meninggal" kata Alisa.


"Jika aku langsung bilang pada kalian, maka akan ada korban lagi yang akan tewas, cepat pecahin misteri itu sebelum dia meninggal" jawab gadis pucat kemudian menghilang begitu saja.


"Loh kemana dia, kenapa dia pergi gitu aja, aku belum selesai bertanya" kata Alisa yang mencari-cari keberadaannya namun tidak ketemu juga.


"Kita harus cari dia, kita harus tau apa maksud dari angka yang ia ucapkan barusan" kaga Angkasa.


"Iya, ayo kita cari dia" ajak Reno.


"Berhenti" kata ku.


"Ada apa za?" tanya Angkasa dengan mengerutkan alis.


"Tadi gadis pucat itu bilang cepat pecahin misteri di balik angka itu sebelum dia meninggal, pertanyaannya siapa dia yang gadis pucat itu maksud" jawab ku.


"Iya juga, kenapa dia bilang seperti itu, apa yang sebenarnya terjadi" kata Angkasa yang juga tersadar akan kata-kata yang barusan gadis pucat itu ucapakan.


"Sepertinya ada seseorang yang berada di ambang hidup dan mati sehingga gadis pucat itu menyuruh kita buat pecahin teka-teki di balik angka 4, 6, 8 itu" feeling Reno.


"4,6,8 kemarin 4,6,7 kenapa sekarang berubah menjadi 4,6,8?" tanya Alisa.


"Itu yang aku bingungkan, kenapa angka 7 berubah menjadi angka 8, apa maksud dari angka itu" kata ku yang juga tau apa yang gadis pucat itu maksud.


"4,6,8" kata Angkasa mulai berpikir untuk memecahkan misteri di balik angka itu.


Beberapa saat kami terdiam karena memikirkan misteri di balik angka yang gadis pucat itu sebut barusan.


"Akkkh gak tau puyeng" kata Alisa.


"Lebih baik sekarang kita selidiki teman sekelas Andin yang tadi ngambil absensi kelas mu saja, masalah angka itu belakangan" kata Angkasa.


"Iya, ayo kita ke kelas sebelah, kita tanyain pada mereka, buat apa mereka ngambil absensi itu" setujua Alisa.


Kami berjalan menuju kelas IPS untuk melakukan penyelidikan.


"Mana sa kelasnya?" tanya ku.


"Gak tau juga, aku cuman dengar kalau dia anak sebelah saja, gak tau kelas B berapanya" jawab Alisa.


"Terus gimana ini, masa kita muter-muter di sini terus?" tanya Angkasa.


"Kita cari aaj dulu ke sana, semoga saja di sana adalah kelas Andin" jawab Alisa dengan menunjuk ke arah kelas yang paling pojok.


Kami berjalan ke arah kelas yang paling pojok itu.


Bugh


Kelikir kecil terlempar dan mengenai pintu salah satu kelas.


Pandangan kami melihat ke arah kelikir itu yang kini tergeletak di bawah.


"Siapa yang udah ngelempar kelikir ini, gak ada kerjaan banget" kata Alisa memunguti kelikir itu dan melemparkannya ke bawah.


"Kelas 10 B6" kata ku membaca tulisan di atas pintu itu.


"Coba kita masuk ke dalam kelas ini, moga-moga aja di dalam kelas ini memang kelasnya Andin" kata ku.


"Gak mungkin za, ayo kita ke kelas B10 saja, jangan di sini, aku ngerasa di sini bukan kelasnya Andin" jawab Alisa.


"Kita coba cek aja dulu, apa salahnya kita coba cek" kata ku.


"Iya, kalau di sini ternyata bukan kelasnya Andin, baru kita cek kelas B10 itu" setuju Angkasa.


"Ya udah ayo kita cek kelas ini" jawab Alisa.


Alisa membuka pintu kelas itu yang di tutup.


"Permisi" kata Alisa.


"Kok gak ada orang ya" kata Alisa.


"Masa sih gak ada orang?" tanya ku.


"Iya beneran gak ada orang" jawab Alisa.


"Coba kita masuk aja ke dalam, kita harus periksa kelas ini mumpung gak ada orangnya juga" kata Angkasa.


Kami setuju lalu masuk ke dalam kelas itu.


"Sepi banget, kenapa gak ada satupun anak gitu yang ada di kelas, masa mereka pada keluar semua" kata Alisa merasa tak wajar.


"Tapi ini baik untuk kita sa, kalau mereka gak ada di dalam kelas kita bisa leluasa mencari tau ada apa saja di dalam kelas ini" jawab Reno.


"Eh itu bukannya absensi" tunjuk Angkasa pada absensi yang banyak sekali dan kini tengah di tumpuk di atas meja.


"Iya itu absensi yang kita cari-cari, ayo kita cek absensi kelas mana aja yang udah mereka ambil" kata ku.


Kami mendekati absensi itu dan semua absensi itu ternyata absensi kelas IPS saja.


"Ini kelas IPS semua, artinya teman-teman sekelasnya Andin itu cuman ngumpulin absensi kelas IPS saja, tapi masalahnya buat apa" kata Reno.


"Itu masalahnya kita juga masih namun tau apa yang mereka inginkan sebenarnya sehingga mereka ngumpulin semua absensi hingga sebanyak ini" jawab Alisa.


"Ayo kita cek saja dan cari nama Andin, kita harus lihat udah berapa lama dia gak masuk" kata ku.


"Tapi za yang namanya Andin itu gak cuman satu, pasti ada banyak, masa kita cari satu-satu sih" kata Alisa.


"Ya mau gimana lagi, kita harus cari sampai ketemu, karena hanya itu yang bisa kita lakukan, ayo sekarang cepat cari nama Andin, dan lihat udah berapa lama dia gak masuk, baru kita gabungin apakah ketidak hadirnya Andin ada hubungannya dengan gadis pucat itu atau tidak" suruh ku.


Mereka setuju lalu membuka setiap absensi yang namanya ada unsur Andinnya.


Setelah menemukan nama yang memiliki unsur Andin, mereka mencatat berapa lama Andin tidak masuk agar nanti bisa kami cocokkan.