The Indigo Twins

The Indigo Twins
Berita buruk



Sementara itu.


Seorang pria yang berprofesi sebagai pedagang mendekati ibu-ibu yang lagi berkumpul, pria itu berasal dari desa sebelah, yakni desa Penari.


"Ibu-ibu" panggilnya panik, ia menghentikan motornya di depan ibu-ibu yang berada di gazebo, tempat tongkrongan mereka selama ini.


"Ada apa pak?" penasaran bu Hanung yang berada di antara mereka.


"Ada anak di desa ini yang kecelakaan" pria bernama Ubay memberitahukan hal itu pada mereka semua.


"Kecelakaan?"


"Kecelakaan di mana pak?"


Ibu-ibu langsung panik khawatir sanak saudara mereka yang menjadi korbannya.


"Kecelakaan di depan showroom bu" jawab Ubay.


"Di tabrak apa pak?" penasaran bu Weni.


"Sesama motor bu, motornya sampai rusak parah" jelas Ubay.


"Ya Allah kasihan sekali" prihatin bu Romlah.


"Siapa namanya pak, apa bapak kenal?" penasaran bu Retno.


"Kalau gak salah namanya Izza" jawab Ubay.


"Izza, apa Izza cucunya mik Juari?" langsung panik bu Hanung yang berdiri dari duduk.


"Mungkin bu, dia sama temannya gak sendirian" jawab Ubay.


"Ya Allah masa Izza cucunya mik Juari yang kecelakaan" shock bu Weni yang kenal dekat dengan mik Juari dan rumahnya juga bersebelahan.


"Ada apa bu, kenapa nama saya di bawa-bawa?" pandangan mereka semua langsung tertuju pada seseorang yang baru datang.


"Loh kok kamu ada di sini, terus siapa yang kecelakaan" kaget bu Weni saat melihat mbk Izza yang menepikan motornya karena mendengar namanya di sebut-sebut.


"Kecelakaan? saya gak kecelakaan bu" jawab mbk Izza.


"Kalau bukan Izza terus siapa lagi yang di maksud bapak ini" mulai penasaran bu Hanung.


"Gak tau bu, saya dengarnya namanya Izza" jawab Ubay.


"Apa mungkin Aliza ya" bu Retno langsung teringat pada ku.


"Aduh iya, kayaknya memang Aliza yang kecelakaan, karena tadi sekitar jam 10 saya liat Aliza sama Alisa keluar, gak tau kemana" jawab bu Hanung.


"Coba pak sebutin ciri-cirinya, barang kali memang benar kalau Aliza yang kecelakaan" titah bu Weni yang takut salah orang.


"Saya gak sempat lihat wajahnya bu karena seluruh wajahnya di tutupi darah, temannya saja saya gak bisa lihat karena banyak orang yang berkerumun" jawab Ubay.


"Ayo kita ke rumah bu Diana saja, kita pastikan kalau Aliza ada di rumahnya apa enggak biar semuanya jelas" ajak bu Romlah.


"Iya ayo" setuju mereka semua.


Mereka semua dengan terburu-buru mendatangi rumah ku.


"Bu Diana, bu Diana" panggil mereka dari kejauhan.


"Bu Diana, bu Diana di mana" teriak para ibu-ibu yang sedang panik.


"Ada apa ibu-ibu, kenapa teriak-teriak?" mbk Rinda mendekati ibu-ibu yang panik, ia sampai keluar dari dalam rumah bersama yang lainnya, yakni Dita, Arif, Rani dan juga Reno, teruntuk pak Heru, tante Zera dan Zidan sudah pulang.


"Rinda di mana bu Diana?" bu Weni langsung menanyakan bunda yang tak terlihat di matanya.


"Keluar bu, ibu sama bapak lagi ada pertemuan sama klien di luar" jawab mbk Rinda.


"Aliza kemana Rinda, dia ada di rumah tidak?" khawatir bu Hanung.


"Lagi ke restoran bu, kenapa emangnya?" penasaran mbk Rinda yang melihat wajah-wajah mereka semua yang tengah panik.


"Rinda Aliza kecelakaan" tutur bu Weni.


"APA KECELAKAAN!"


Mereka semua terkesiap mendengar hal itu.


"Iya, Aliza kecelakaan di depan showroom" jawab bu Hanung.


"Sendiri apa gimana bu?" mulai khawatir Reno.


"Berdua, sama teman wanitanya" jawab Ubay.


"Apa itu Alisa" panik Reno.


Dengan cepat Reno langsung mengemudikan motor menuju tempat kejadian.


"Reno" teriak mbk Rinda yang juga sedang panik ketika tau hal itu.


Reno tidak mendengarkan, ia terus melajukan motor dengan paniknya.


"Gimana keadaan Aliza pak, dia gak parah kan?" panik mbk Rinda.


"Aliza kecelakaan tadz, Reno lagi nyusul ke sana" jawab mbk Rinda.


"Kecelakaan?"


"Iya tadz"


"Kecelakaan di mana mbk?" langsung panik Ustadz Fahri.


"Di depan showroom tadz, cepat Ustadz susul mereka, saya akan telpon bapak sama ibu" suruh mbk Rinda.


Tanpa menjawab Ustadz Fahri kembali melajukan motor menuju tempat kejadian bersama Ustadz Zaki.


Mbk Rinda menghubungi bunda.


tutt


tutt


tutt


"Angkat bu, saya mohon"


Mbk Rinda mondar-mandir ke sana kemari saat panggilan telpon itu tak kunjung bunda angkat.


tin


tin


tin


Tatapan mbk Rinda tertuju pada mobil putih yang memasuki halaman rumah.


Mbk Rinda dengan cepat langsung mendekati mobil putih itu bersama para ibu-ibu lainnya.


"Ada apa ini Rinda, kenapa pada ngumpul di sini?" tak mengerti bunda.


"Ibu Aliza kecelakaan" tutur mbk Rinda.


"APA KECELAKAAN!" shock bunda saat tau hal itu.


"Iya bu, Aliza kecelakaan di depan showroom" jawab mbk Rinda.


"Sebentar-sebentar kenapa Aliza bisa kecelakaan, siapa yang nabrak dia?" panik ayah.


"Motor juga pak, orang yang nabrak satunya masuk ke sungai, satunya lagi tidak sadarkan diri" jawab Ubay.


"Terus bagaimana dengan keadaan anak saya yang pak?" khawatir bunda.


"Anak ibu meninggal sedangkan temannya sekarat" jawaban itu membuat bunda terguncang.


"Ya Allah"


Teriak semua orang saat mendengar hal itu, mereka semua shock berat.


"Ayah ayo kita ke sana, bunda mau lihat Aliza ayah" langsung pecah tangisan bunda ketika mendengar kabar buruk itu.


Ayah terdiam sebentar, ia tak kalah shocknya saat mendengar berita tak menyenangkan itu.


"Ayo ayah kita ke sana, bunda mau lihat keadaan mereka, bunda pastiin langsung"


"Ayo bun"


Ayah dan bunda kembali masuk ke dalam mobil lalu berangkat ke tempat kejadian.


"Pak yang benar saja kalau Aliza meninggal?" agak tak percaya bu Weni.


"Yang namanya Izza itu sudah gak bergerak bu, karena darah dari hidung dan telinga terus keluar, apa lagi darah dari kepalanya yang sampai menutupi wajah saking banyaknya, satu orangpun gak ada yang berani mendekatinya, saya tadi dengar-dengar kalau dia sudah di kabarkan meninggal, tapi kalau untuk temannya masih sekarat" jelas Ubay.


Mereka semua yang mendengarnya langsung mengelus dada.


"Terus bagaimana dengan lawannya pak, apa keadaan mereka juga parah?" penasaran bu Hanung.


"Tidak terlalu parah bu, lebih parah yang di tabrak, orang motornya Izza itu hancur parah" jawab Ubay.


"Ya Allah kasihan sekali Aliza"


"Pak ayo anterin saya ke sana, saya mau liat langsung" titah bu Hanung.


"Saya phobia sama darah bu, tadi saja saya cuman sekedar lewat gak sempat lihat langsung, saya cuman dengar cerita dari mulut ke mulut tentang keadaan mereka" jawab Ubay.


"Tapi saya mau lihat pak, saya penasaran apa itu beneran Aliza apa bukan, tapi dia benar orang kampung sini kan pak?" bu Hanung memastikan kembali.


"Iya bu, Izza itu warga di kampung ini, mangkanya saya rela-relain lewat di kampung ini untuk ngasih tau" jawab Ubay.


"Saya ingin sekali ke sana pak, bagaimana ini" bingung bu Hanung.


"Ayo kita ke sana, saya juga penasaran ingin lihat keadaan mereka" ajak bu Weni.


"Ayo bu" setuju bu Hanung.


Bu Weni dan bu Hanung berangkat ke tempat kejadian.