The Indigo Twins

The Indigo Twins
Keusilan Angkasa



Angkasa melihat ku yang sedang sibuk menanam buah stroberi, senyum jahil terukir di wajahnya, tangan Angkasa masuk ke dalam air, menampungnya sedikit lalu melemparkan ke wajah ku.


"Sial" pekik ku kaget.


"Hahaha" tawa Angkasa senang karena telah berhasil mengerjai ku.


Aku melihat wajah Angkasa yang tertawa bahagia dengan tatapan mematikan.


Kedua tangan ku memegang ember yang berisikan air lalu menutup wajah Angkasa dengan ember.


"Haha" kekesalan ku terbayarkan saat melihat ekspresi wajah Angkasa yang mengundang tawa orang yang melihatnya.


Angkasa menempelkan tangannya pada tanah lalu mengolesinya ke wajah ku.lalu berlari keluar dengan tawa nyaringnya.


"Wah kurang ajar, aku tidak terima penghinaan ini" kata ku.


"Oh sini kau yah" teriak ku mengejar pemuda itu.


Dengan cepat aku menuruni anak tangga.


Angkasa berlari ke arah kolam ikan.


"Owh tidak, kenapa tidak ada jalan lain sih, matilah aku, bocah itu pasti akan melakukan hal yang tidak-tidak" batin Angkasa tegang.


Senyuman terukir di wajah ku saat Angkasa berdiri di pinggir kolam ikan, tak bisa lagi leluasa pergi kemana-mana.


"Apa yang gadis itu pikirkan saat ini, kenapa aku tidak bisa mendengarnya, apa mungkin dia tidak bergumam, bagaimana ini, apa yang harus aku lakukan" batin Angkasa ketar-ketir.


Dengan senyuman yang tidak dapat di artikan, aku melangkah mendekati Angkasa.


"Matilah aku, kenapa Aliza tersenyum tapi tidak bisa di artikan seperti itu, kenapa dia tidak bergumam hah, aku kan nanti bisa tau apa yang akan dia lakukan kalau kayak gini" batin Angkasa.


Angkasa menoleh kebelakang yang tak lain adalah kolam tempat para ikan berada.


Aku semakin mendekat dan kini aku sudah berada di depan Angkasa dan-


Byurr!


Aku mendorong Angkasa dan terjatuh di kolam ikan.


"Bhuahaha"


Tawa ku terbahak-bahak kala melihat Angkasa yang di kerumuni oleh ikan-ikan peliharaan ku.


"Ish sialan tuh anak, licik sekali dia, iih kenapa ikan-ikan ini tidak mau menyingkir, kenapa mereka tidak bisa di ajak berkompromi sih, kau bahagia ya melihat ku begini hmm kau main-main dengan ku Aliza, sini kau" batin Angkasa menatap ku.


"Bantuin" tintah Angkasa dengan mengulurkan tangannya dengan di sertai wajah yang di melas-melasin.


Aku masih tak berhenti tertawa, aku meraih uluran tangan Angkasa dan-


Byurr!


"Hahaha" tawa Angkasa.


"Makan tuh kau ya, akhirnya aku bisa membalaskan apa yang telah kau lakukan pada ku" batin Angkasa tersenyum puas.


"Ketawa-ketawa ku makan kau nanti ya" ancam ku, namun Angkasa masih tidak berhenti.


"Jangan ketawa" teriak ku dengan memukul dada Angkasa bertubi-tubi.


"Iih menyebalkan sekali nih anak, bisa-bisanya aku tertipu sama dia, dasar raja drama" batin ku.


"Bhuahaha"


Bukannya berhenti Angkasa semakin mengeraskan tawa.


"Aaauw sakit" bohong Angkasa.


"Ampun-ampun, sakit za" pekik Angkasa dengan tawanya.


Aku tidak percaya dengan ucapannya.


Aku berhenti memukulinya.


"Kok nih ikan pada ngerumuni kaki aku sih, kenapa gak ngerumuni kaki kamu aja" kata Angkasa.


"Ya karena aku yang telah memelihara mereka dari kecil, mereka tau diri sedangkan kamu orang baru yang tidak kenal sama mereka" jawab ku.


"Aaah tega amat" kata Angkasa memegang kedua dadanya yang pura-pura tersakiti.


"Dasar raja drama" kata ku.


Angkasa tertawa kecil.


"Eh jangan remehkan aku" kata Angkasa.


Aku tak menggubrisnya.


Angkasa terkekeh, ia mencubit gemas hidung ku.


"Ishh" kata ku lalu menepis tangan Angkasa.


"Nanti apa?" tanya ku dengan berkacak pinggang.


Angkasa tersenyum manis.


"Enggak, gak jadi" kata Angkasa.


"Beh nih anak makin lucu aja kalau ngambek kayak gini, iih pengen ku cubit lagi tapi nanti malah makin mengamuk, lagi bisa-bisa aku di makan habis olehnya" batin Angkasa.


"Masya Allah kalian ini ckckck" kata seseorang yang saat familiar.


Kami menoleh ke asal suara.


"Bunda" kata kami kompak.


"Aaaah Rani mau ikut" kata Rani.


"Heiii" teriak mereka.


Alisa langsung menarik kerah baju Rani yang hampir saja menceburkan dirinya ke kolam ikan.


"Kenapa?" tanya Rani.


"Jangan, udah mau magrib, Rani kan udah mandi, kalau ikut mereka nanti baju Rani basah, bau amis lagi" jawab Alisa.


"Rani kok gak boleh, kakak Aliza sama kakak Angkasa kok boleh, lihat tuh mereka sedang asik bermain dengan ikan-ikan mas" kata Rani.


"Yaa mereka itu lagi berlakon, Rani gak usah tiru, gak baik, Rani masih kecil jangan coba-coba masuk ke dalam kolam ikan ataupun kolam renang tanpa sepengetahuan kakak dan yang lainnya oke" jawab Alisa


"Oke, akak Aliza Rani mau makan ikan itu boleh gak?" tanya Rani.


"Boleh kok, nanti kakak akan tangkap ikan-ikan ini buat kita makan, aku juga ingin merasakan lezatnya daging ikan mas yang sudah aku pelihara sejak masih kecil hingga beranak-pinak seperti saat ini" jawab ku.


"Udah ayok naik, udah mau magrib, gak baik main air, nanti kalian sakit lagi" kata bunda.


"Iya bunda" jawab kami lalu keluar dari kolam ikan.


"Mandi ganti baju sana, nanti kalian masuk angin" kata ayah.


"Iya ayah" jawab kami lalu masuk ke dalam kamar masing-masing.


Malam yang sudah di tunggu-tunggu oleh Rani akhirnya tiba juga.


Gadis cilik itu tak henti-hentinya mengukir senyum dan tawa bahagia saat apa yang dia inginkan dapat tercapai juga.


"Akak Rani mau ikan mas yang di pegang kakak Angkasa" kata Rani yang melihat ikan mas paling besar yang saat ini tengah di bersihkan oleh Angkasa.


"Iya nanti kalau udah matang Rani boleh kok makan sampai habis, kalau kurang nanti kakak bakal tangkap lagi" jawab ku.


"Asyik" kata Rani tertawa kecil sambil bertepuk tangan tanda gembira.


"Rani duduk sama Dita sana" suruh Angkasa.


"Baik kak" jawab Rani lalu mendekati Dita dan duduk di dekatnya.


"Udah selesai belum?" tanya ku pada Angkasa yang sedang membersihkan sisik ikan.


"Dikit lagi akan selesai" jawab Angkasa.


"Ren ambilin piring sebentar lagi ikan mas akan segera bisa di makan" kata Alisa.


Dengan cepat Reno. mengambil piring lalu memberikannya ke Alisa.


"Nih" jawab Reno.


Alisa mengangkat ikan bakar dan meletakkannya di piring.


"Nih za udah selesai" kata Angkasa


"Mana" tintah ku.


"Hmm enak banget baunya, Rani sudah gak sabar deh untuk merasakan empuknya daging ikan mas itu" kata Rani.


"Sabar sebentar lagi juga matang" jawab Dita.


"Kasa ambilin ayam itu" tintah ku.


Angkasa lalu mengambil ayam yang ku minta.


"Nih" jawab Angkasa.


"Letakkan di situ" tunjuk ku ke samping ikan mas.


Angkasa meletakkan ayam di tempat yang aku tunjukkan.


Angkasa membolak-bakikkan tubuh ayam bakar agar matang sempurna.


Setelah cukup lama kami membakar ikan dan ayam kini semuanya sudah selesai dan siap untuk di makan.