
"Hantu pak Jarwo, pak Jarwo kan sudah meninggal, kenapa dia bisa jadi hantu" merasa aneh Ustadz Zaki.
"Sepertinya pak Jarwo jadi hantu, ini bahaya, kita gak bisa biarin gitu aja, karena khawatir pak Jarwo bakal buat desa ini jadi desa angker, kita harus hentikan ulahnya" sahut Ustadz Fahri.
"Caranya gimana tadz?"
"Sama seperti cara yang saya gunakan saat ingin membuat dukun beranak berhenti mengganggu warga, kamu masih ingat kan seperti apa caranya" aku mengangguk, aku masih ingat betul cara yang Ustadz Fahri gunakan waktu itu.
"Tapi saya merasa aneh" kami bertiga menatap ke arah Ustadz Fahri dengan tatapan aneh.
"Aneh? aneh gimana tadz?" penasaran Alisa.
"Aneh, biasanya kalau orang yang jadi hantu keluarnya ketika matahari terbenam, tapi ini tidak, dia keluar di saat siang hari, saya rasa dia bukan pak Jarwo, melainkan jin yang sudah menyerupai pak Jarwo" jawab Ustadz Fahri.
"Tapi seram tadz, walaupun dia bukan pak Jarwo yang asli, tapi seramnya bukan main, aku takut banget sama dia tadz, ayo kita keluar dari sini, di sini angker" ajak Alisa.
"Kita harus cari Rani, kita harus bisa temuin dia" jawab Ustadz Fahri.
"Tapi tadz aku takut, aku gak mau berada di sini, di sini banyak hantunya" ngotot Alisa yang ketakutan kala teringat kembali pada hantu pak Jarwo.
"Kamu jangan takut, ada kami di sini, ayo kita cari Rani bareng-bareng aja, kita harus pastiin di sini ada Rani apa tidak" ajak Ustadz Zaki.
Kami mengangguk lalu mencari Rani bersama-sama.
Ustadz Zaki membuka pintu semua kamar yang berada di rumah pak Jarwo.
"Gak ada apapun, kamar-kamar yang ada di sini kosong, di mana pak Jarwo sembunyiin Rani" Ustadz Fahri terus mencari keberadaan Rani, namun tetap saja tidak ada.
"Kayaknya bukan pak Jarwo yang sudah nyulik Rani tadz" dugaan Alisa.
"Kalau bukan pak Jarwo siapa lagi?" Ustadz Zaki hanya curiga pada pak Jarwo saja.
"Bisa jadi orang yang bersekongkol dengannya, ingat tadz pak Jarwo itu sudah meninggal sebelum Rani hilang, gak mungkin pak Jarwo yang sudah bikin Rani hilang" jawab Alisa.
Ucapan Alisa ada benarnya, kami semua diam dan merasa kalau memang benar bukan pak Jarwo yang menjadi dalangnya.
"Kalau bukan pak Jarwo siapa lagi?" bingung Ustadz Fahri.
"Pak Tejo, dia kan orang yang dekat sama pak Jarwo, dan dia juga satu frekuensi sama pak Jarwo, aku yakin pasti dia yang sudah nyulik Rani, dia yang gantiin posisi pak Jarwo, aku yakin itu" jawab Alisa.
"Gak mungkin pak Tejo yang sudah bikin Rani hilang" bantah Ustadz Zaki.
"Kenapa Ustadz yakin sekali, di kampung ini yang kami curigai hanya ada dua orang, yaitu pak Jarwo sama pak Tejo, kalau pak Jarwo kan sudah fiks gak mungkin, tapi kalau pak Tejo bisa jadi"
"Bukan pak Tejo yang jadi dalangnya, karena pak Tejo itu sudah masuk ke dalam jeruji besi jauh sebelum pak Jarwo meninggal, kalau dia ada di dalam penjara, untuk apa dia masih nyulik Rani" jawab Ustadz Zaki.
"Tadi malam, pak Heru yang sudah nangkap beliau, beliau tertangkap basah tengah menuangkan bensin ke area restoran, pak Heru langsung bertindak cepat dan berhasil nangkap dia" jelas Ustadz Zaki.
"Apa pak Tejo sendirian yang di tangkap?"
"Iya, pak Tejo sendirian, kata pak Heru ada dua orang, cuman satunya berhasil melarikan diri" jawab Ustadz Zaki.
"Siapa ya kira-kira teman pak Tejo itu, kalau pak Jarwo gak mungkin, karena kemarin malam pak Jarwo berada di rumah ini, dia gak keluaran rumah sama sekali" penasaran Alisa pada sosok yang masih menjadi misteri itu.
"Sepertinya dia itu si gembul yang kita lihat di dalam rumah pak Tejo, dia pasti orang yang juga bersekongkol dengan pak Jarwo"
"Iya aku tau, apa mungkin Rani di culik karena perintahnya" curiga Alisa.
"Kayaknya iya, kita harus cari tau siapa dia, kita harus bisa tangkap dia dan tanyain di mana dia nyembunyiin Rani, dia pasti tau Rani di sembunyiin di mana"
"Tapi kita mau nyari kemana za, masa kita datangin satu persatu rumah-rumah warga yang berada di desa ini, lalu kita geledah satu-satu gitu, gak mungkin za" sahut Alisa.
"Kita coba berpikir di mana sekiranya tempat yang bisa di jadiin untuk nyembunyiin anak-anak yang di culik sama hantu, Ustadz tau gak tempat-tempat seperti itu?"
"Biasanya di sembunyiin di dalam hutan, goa, ataupun di tengah-tengah pohon bambu" jawab Ustadz Zaki.
"Kalau hutan di desa ini banyak tadz, kita sudah coba hutan yang di yakini angker itu, tapi gak ada apa-apanya, aman-aman aja, kalau goa, di sini ada goa, tapi goa itu di tempati sama burung-burung aja, gak mungkin ada anak-anak kecil di sana, karena goa itu sering Aliza kunjungi, tapi kalau untuk pohon bambu, di desa ini banyak sekali pohon-pohon bambu yang tubuh liar"
"Za kamu ingat gak sama hutan yang berada di belakang rumah pak Jarwo" Alisa membuat ku terkejut dengan pukulannya.
"Iya, emang kenapa dengan hutan yang ada di belakang rumah pak Jarwo?"
"Waktu itu pak Jarwo sama pak Tejo masuk ke sana, aku rasa di sana ada apa-apanya, kamu ngerasa gitu gak?" aku mengangguk cepat.
"Iya aku ngerasa gitu juga, dulu aku pas masuk ke sana, aku sempat dengar suara orang nangis, tapi pas di cari gak ada, aku bisa keluar dari sana karena di ajakin sama salah satu kingkong alias genderuwo yang baik, dia yang sudah anterin aku keluar dari hutan itu"
"Suara orang nangis, suara tangisan itu milik anak kecil apa orang dewasa?" penasaran Ustadz Zaki.
"Anak kecil, tapi anehnya saat di cari gak ada, mangkanya aku agak ragu apakah suara itu milik manusia apa tidak, kata kingkong itu suara tangisan itu milik anak jin, mangkanya aku gak berani nanya lagi dan ikut keluar dari dalam hutan bersamanya"
"Tapi kenapa saya merasa kalau suara yang kamu dengar itu bukan suara tangisan anak jin" kecurigaan Ustadz Zaki.
"Aliza juga ngerasa gitu tadz, tapi pas di cari gak ada, itu yang membuat Aliza percaya saat itu"
"Gimana kalau kita ke sana saja, kita cari tau kebenarannya, apakah di sana memang ada sesuatu yang kita cari-cari atau tidak" usul Ustadz Fahri.
"Boleh tadz, ayo kita ke sana"