The Indigo Twins

The Indigo Twins
Tidak mengerti



Angkasa mendongak ke atas.


"Udah mau magrib, kita pulang yuk, nanti jalanan pulang ke buru gak terlihat lagi jika sampai matahari keburu terbenam" ajak Angkasa.


"Ya udah ayo, aku juga ingin segera pulang ke rumah, pengen segera istirahat, karena udah cepat banget sejak tadi tersesat dan bertemu hantu-hantu yang seram-seram" jawab ku menyetujuinya.


"Ayo Arif kita pulang" ajak Angkasa.


Arif mengangguk lalu pulang bersama kami.


Ikan besar yang sudah Arif tangkap di pegang oleh Angkasa karena Arif tak akan bisa membawanya sendiri.


"Arif rumahnya di mana?" tanya ku.


"Aku gak tau kak, aku lupa jalan pulang" jawab Arif.


"Kamu gak inget sama sekali jalan pulang?" tanya Angkasa.


"Enggak, aku gak inget sama sekali" jawab Arif.


"Ya udah gak apa-apa, kamu sementara tinggal di rumah kakak aja, nanti kita cari orang tua kamu" kata ku.


"Makasih kak" jawab Arif.


"Ayo jalan lagi" ajak ku.


Kami terus berjalan menuju rumah yang tak seberapa jauh itu.


"Sumpah capek banget rasanya muter-muter sejak tadi, untung kita bisa nemuin jalan pulang juga" kata Angkasa.


"Iya sungguh tempat-tempat yang tadi kita lewati benar-benar sangat asing, sampai saat ini aku belum tau kita terjebak di mana sebenarnya sehingga bertemu dengan mereka yang serem banget" jawab ku.


"Nah mangkanya itu, aku juga bingung ada apa yang sebenarnya terjadi pada kita sehingga kita bisa kayak gini" kata Angkasa.


"Nanti pas kita sampai di rumah, kita ceritain pada Ustadz Fahri, mungkin beliau tau tentang ini semua" jawab ku.


"Za ayo kita percepat langkah, kita harus segera sampai di rumah" kata Angkasa yang tiba-tiba panik.


Aku merasa aneh dengannya yang tiba-tiba berubah draktis.


"Emang kenapa?" tanya ku penasaran.


"Soalnya aku ngerasa ada yang ngamatin kita" jawab Angkasa setengah berbisik.


Aku melihat ke belakang ku, sekilas aku melihat ada bayangan yang melintas di bukit tepat kami keluar dari jalanan gelap itu.


"Iya sa, aku juga ngerasa gitu, ayo kita lebih cepat lagi, aku gak mau di ganggu sama mereka lagi, udah cukup seharian kita di ganggu sama mereka, kali ini jangan lagi, aku udah gak kuat buat lari lagi" jawab ku.


Angkasa setuju kami terus berjalan dengan terburu-buru menuju rumah.


Dari atas bukit terlihat ada kuntilanak yang tadi mengganggu kami tengah berdiri di sana dengan menatap punggung kami yang semakin menjauh.


"Ayo za lebih cepat lagi, kita harus segera sampai di rumah sebelum matahari terbenam dengan sempurna" kata Angkasa yang di serang rasa panik.


Kami bertiga mempercepat langkah, rasa tegang kembali muncul sebab ada makhluk halus yang tengah mengamati kami dari kejauhan.


Air-air dari baju menetes sepanjang jalan, kami lewat jalanan kecil yang di kanan dan kirinya terdapat semak-semak yang setinggi tubuh ku.


Langkah demi langkah telah


kami lakukan hanya karena ingin segera sampai di rumah.


Kami terus berjalan tanpa melihat ke belakang hingga akhirnya kami sampai di depan rumah.


"Akhirnya kita sampai di rumah juga" syukur kami senang.


"Finis za, kita sekarang sudah sampai pada finis yang sudah kita tunggu-tunggu sejak tadi" jawab Angkasa yang terengah-engah karena terus berjalan dengan terburu-buru sejak tadi.


Tiba-tiba senyuman yang terukir di wajah ku menghilang kala melihat ke arah rumah.


"Loh kok banyak orang, ada apa ini sebenarnya?" tanya ku yang melihat ada banyak sekali warga yang berada di rumah ku.


"Entah lah, yuk kita masuk aja" jawab Angkasa.


Angkasa membuka pagar dengan perlahan-lahan.


Seketika semua orang yang mendengar suara pagar yang terbuka, menatap kami bertiga dengan tidak percaya dan sedikit kaget.


Kami diam mematung kala melihat mereka semua yang menatap aneh karena kami tanpa berkedip.


"Ada apa ini, kenapa mereka semua natap aku kayak gitu" batin ku.


Aku masih bingung dengan segalanya tiba-tiba.


"Aliza" teriak bunda yang langsung memeluk tubuh ku dengan air mata yang mengiringi.


Aku diam masih tidak mengerti tentang apa yang sudah terjadi sebenarnya sehingga bunda nangis saat melihat ku pulang.


"Ada apa ini, apa yang sudah terjadi" batin ku tidak paham kala melihat bunda yang terus menangis dengan memeluk tubuh ku.


Angkasa melihat mereka semua yang menatap tak percaya.


"Kenapa mereka semua melihat aku dan Aliza dengan tatapan aneh, perasaan aku gak berbuat salah apa-apa" batin Angkasa yang merasa aneh.


Bunda menciumi wajah ku dengan bertubi-tubi, air mata terus mengalir di pelupuk matanya.


"Kamu dari mana aja nak, kenapa kamu gak pulang" tangis bunda tersedu-sedu.


Aku mengernyitkan dahi mendengar ucapan bunda barusan.


"Pergi, perasaan aku gak pernah pergi kemanapun" batin ku.


"Bawa mereka masuk dulu Bun, kasihan pasti mereka kelelahan" suruh ayah.


"Ayo nak masuk" ajak bunda.


Kami mengikuti bunda dari belakang.


Kami masih tetap tak mengerti dengan apa yang sebenarnya telah terjadi.


Warga-warga pulang ke rumahnya masing-masing setelah melihat kami pulang.


"Kalian mandi dulu gih sana, baru nanti ke ruang tamu, ada hal yang ingin bunda tanyakan" suruh bunda.


"Baik Bun" jawab kami.


"Hal, hal apakah itu, kok aku jadi penasaran, kenapa bunda gak bergumam gitu, kan aku bisa dengar dan gak akan sepenasaran ini" batin Angkasa.


Kami berdua meninggalkan ruang tamu dan masuk ke dalam kamar masing-masing.


Aku membersihkan tubuh ku yang seperti sudah berhari-hari tak mandi.


Selesai mandi, aku berganti baju lalu turun ke bawah, di sana sudah ada Arif dan Angkasa.


"Bunda" kata ku.


"Duduk di sini" tintah bunda.


Aku menurutinya lalu duduk di samping bunda.


"Kalian dari mana aja selama ini, kenapa menghilang bagaikan di telan bumi?" tanya bunda yang sangat risau dengan hilangnya kami berdua dan pulang-pulang membawa anak kecil.


"Pelan-pelan aja Bun, mereka pasti masih bingung" kata ayah.


"Kalian dari mana aja?" tanya bunda mengulangi pertanyaannya.


"Aliza gak tau Bun, tempat yang Aliza datangi saat itu tidak sama sekali Aliza kenali" jawab ku.


"Kok bisa gak kenal, emang kalian pergi kemana?" tanya ayah.


"Kami cuman pergi ke masjid, tapi anehnya penghuni masjid itu beda, nah dari situlah banyak kejanggalan saat kami melewati tempat-tempat yang aneh hanya karena ingin mencari jalan menuju rumah" jawab ku.


"Bunda masih gak ngerti, coba kalian cerita deh, biar kami tau apa yang membuat kalian hilang selama ini" suruh bunda.


Aku dengan di bantu Angkasa menjelaskan segalanya secara detail, tak mengurangi atau menambahkan kejadian yang telah kami alami di tempat yang aneh tadi.