
Dengan secepat kilat motor itu melaju meninggalkan rumah.
"Za pelan-pelan kamu mau nyari mati apa gimana" Alisa menepuk pundak ku yang sangat takut ketika aku membawa motor itu dengan kecepatan tinggi.
"Diam lah, aku ini sedang berusaha untuk sampai tepat waktu di sekolah, aku gak mau di hukum kamu diam aja"
Alisa memeluk ku dengan begitu eratnya karena sepanjang perjalanan aku terus ngebut-ngebutan di jalan.
Setelah beberapa menit berlalu kami akhirnya sampai di sekolahan.
"Alhamdulillah akhirnya aku sampai juga di sekolahan, ya Allah terima kasih kau telah menyematkan hamba kali ini" syukur Alisa yang lega sekali sampai di sekolah dengan keadaan selamat.
Tubuh Alisa menjadi dingin seperti es batu karena gemetaran sedari tadi.
"Ayo turun, aku mau parkir dulu" .
"Iya" Alisa menurut dan turun dari motor.
"Ayo cepat kita ke kelas masing-masing, sebelum pak satpam itu nutup gerbang, oh no lihatlah pak satpam mau nutup gerbang" panik ku saat melihat gerbang itu yang akan di tutup.
"Ayo kita ke sana"
Kami berdua berlari ke sana sebelum gerbang di tutup oleh satpam itu.
"Stop pak" teriak kami.
"Kalian ini kenapa datangnya telat" omel pak satpam yang tak bersahabat sama sekali pada kami.
"Jalannya terputus" aku menarik tangan Alisa untuk berlari masuk ke dalam.
"Jalan terputus, apa maksud mereka" pak satpam diam mematung memikirkan misteri dari kata yang aku ucapakan barusan.
"Anak nakal, mereka mau membodohi ku, dasar mereka ini, awas saja sampai mereka telat lagi, tak akan aku biarkan mereka masuk ke dalam" kesal pak satpam setelah sadar segalanya.
Kami berdua terus berlari sambil bergandengan tangan.
Brukk
Tubuh kami terjatuh ke bawah karena tak sengaja menabrak seseorang.
"Waduh" wajah ku langsung panik ketika melihat sepasang sepatu yang ada di depan kami.
"Ini sepatu biasanya di pakai oleh pak guru, siapa yang sudah kita tabrak, kenapa kamu malah narik-narik tangan aku, lihat kita kena masalah" pelan Alisa yang mengenali sepatu itu.
"Aku kan cuman mau bantuin kamu buat bisa lolos dari satpam tadi, gimana kamu ini, sudah di bantu malah nyalahin aku"
"Khem khem" suara itu membuat kami berdua mendongak.
"Salam pak" kompak kami berdua langsung kembali berdiri.
"Salam" jawab pak Abi.
"Kenapa kita menjadi orang India begini" Alisa menyenggol lengan ku.
"Aku juga gak tau, kamu jangan nanya sama aku, ini salah kita berdua"
"Sudah berdebatnya?" pak Abi menatap dengan tatapan serius.
"Sudah" jawab kami dengan senyuman semanis mungkin.
"Sekarang kalian berjemur di lapangan sana, kalian sudah telat masuk kelas dan juga sudah nabrak saya" perintah pak Abi.
"Kita cuman telat satu menit doang pak"
"Maupun satu detik yang namanya telat tetap telat, sana berdiri di lapangan sampai istirahat tiba" suruh pak Abi.
"Tega sekali bapak ini, kenapa bapak menjadi guru yang sangat garang sekali, apa bapak tidak melihat perjuangan kami yang ngebut-ngebutan di jalan hanya ingin sampai di sekolah tepat waktu, kita ini dari desa pak bukan dari kota, letak desa kami jauh tau pak dari sini" omel Alisa berharap dapat membuat kami tak jadi di hukum.
Wajah kita cemberut, dengan langkah termalas kita melangkah menuju lapangan.
Kita berdiri di panasnya sinar matahari yang menyengat itu.
"Sekolahan apaan ini, hukumannya terlalu nyiksa batin dan raga, katanya sekolahan favorit, tapi ini apa tidak berperasaan sama sekali" omel Alisa yang kepanasan.
"Sudah telat masuk sekolah pakai ceramah, wah kalian ini memang patut di hukum, dari pada kalian berdiri bagaikan patung yang tidak berguna, lebih baik kalian bersihin halaman sekolah itu, tanam bunga-bunga itu setelah selesai kalian boleh masuk kelas" suruh pak Abi yang tak sengaja mendengar omelan Alisa.
"Dengan senang hati, ayo sa kita laksanakan hukuman kita" aku menarik tangan Alisa ke sana.
Alisa terpaksa mengikuti ku, ia sungguh malas harus membersihkan halaman.
"Huft dasar anak itu" tak habis pikir pak Abi pada kami berdua.
Kami berdua melakukan hukuman yang di berikan pak Abi, Alisa menyapu halaman sedangkan aku menanam bunga-bunga di pot.
"Ish kenapa aku di jadikan babu seperti ini, aku kan ke sini mau sekolah, bukan menjadi tukang sapu" teriak Alisa yang saat kesal.
"Kenapa sih pak Abi itu pake acara hukum kita segala, gak tau apa kalau kita ini capek" marah Alisa.
"Sudahlah diam, kau laksanakan saja hukuman itu, biar cepat selesai, aku itu mau masuk ke kelas"
"Aku juga mau, tapi aku malas melaksanakan hukuman dari guru tidak berperasaan itu" pekik Alisa.
"APA tidak berperasaan" suara familiar itu membuat kami kembali panas dingin.
"Bodoh kenapa anak itu malah berkata seperti itu, nanti pak Abi malah nambahin hukuman bagaimana, aku gak mau" batin ku.
"Enggak kok pak, bapak cuman salah dengar doang, jangan masukin ke hati, biar tidak sakit hati" Alisa berusaha mengalihkan perhatian pak Abi agar beliau tidak menambah hukuman kami.
"Saya itu tidak tuli, telinga saya masih berfungsi dengan benar, kamu jangan nipu saya, sebagai tambahannya kalian berdua bersihin tempat itu sekalian" tunjuk pak Abi ke arah taman.
"Waduh kok di sana sih, bapak gak lihat di sana itu sudah ada makhluk yang melambai-lambaikan tangannya, gak mau lah pak, lihat noh kuntilanaknya sudah nunggu kedatangan kita dengan senyuman yang amat sangat manis, saking manisnya sampai enek melihatnya" Alisa melihat sosok kuntilanak di taman itu dari posisinya.
"Kuntilanak, apa anak ini bisa melihat mereka yang tak kasat mata, hmm hebat juga" batin pak Abi.
"Sudah jangan banyak ching chong, setelah ini bersihin taman itu, setelah itu balik ke kelas" perintah pak Abi.
"Baik pak" jawab kami.
Pak Abi meninggalkan kami berdua.
"Kamu ini pake acara ngomong sembarang, gak lihat apa ada banyak anak-anak di lapangan yang melihat kita berdua"
"Emang ada yang salah dengan apa yang aku katakan?" Alisa masih belum sadar letak kesalahannya.
"Secara tidak sengaja kamu sudah bilang kalau kita anak indigo, pak Abi itu gak bisa lihat kuntilanak yang duduk manis di pohon yang ada taman itu, sedangkan kamu kenapa pake ngomong hal itu segala"
"Lupa za, sudah lah kita hadapi dunia kita bersama-sama, serapih apapun kita nyembunyiin rahasia pada akhirnya rahasia itu akan terbongkar juga, udah lah kita gak usah main rahasiaan, terbuka saja sama khalayak umum, kalau mereka berani ngacau kehidupan kita, tinggal kita hajar balik saja gampang kan" jawab Alisa.
"Tidak semudah yang kamu pikirin, iya kalau yang menghina kita cewek kalau cowok gimana, mereka bisa melakukan hal-hal yang tidak-tidak"
"Tenang aja, ada aku yang akan jaga kamu, kamu tinggal bilang saja siapa saja yang ganggu kamu di kelas mu, aku nanti yang akan hajar, kamu gak usah khawatir, ayo cepat kita ke taman itu, aku mau cepat-cepat balik ke kelas, aku capek lama-lama berada di sini" ajak Alisa.
"Iya ayo"
Kami berjalan mendekati taman itu.
"Hai mbk kunti lagi ngapain?"
"Kamu gila apa, kenapa kamu malah nyapa dia, aku ini malas harus berurusan dengannya, kamu tau kan kalau sekaliannya dia marah susah untuk di ajak damai" tak habis pikir Alisa.
"Orang mbk kuntinya gak marah, ya kan mbk" .