
"Kita langsung aja selidiki dokter Gladis, soalnya aku sudah penasaran sekali apa penyebab utama mereka meninggal dan kenapa mereka mengikuti dokter Gladis" usul Angkasa.
"Bentar bunda cari kursi roda dulu, Angkasa bisa jalan kan nak?" tanya bunda.
"Bisa kok Bun, keadaan Angkasa sudah lebih baik dari pada kemarin, kini Angkasa cuman kekurangan darah merah doang" jawab Angkasa.
"Bunda mau cari kursi roda dulu, awas jangan kemana-mana tunggu bunda kembali" perintah bunda.
"Iya Bun tenang aja" jawab keduanya.
Bunda melangkah meninggalkan kamar perawatan ku dan Angkasa.
"Kamu tadi liat apa sampai gemetaran kayak gitu?" tanya ku penasaran.
"Aku liat patahan-patahan peristiwa yang sudah terjadi di kehidupan dokter Gladis" jawab Angkasa.
"Apa yang kamu lihat?" tanya ku semakin penasaran.
Angkasa menatap lurus ke depan.
"Kamu nanti juga tau" jawab Angkasa
Wajah Aliza cemberut saat Angkasa tak ingin memberi taunya.
"Gak tau orang lagi penasaran tingkat dewa apa nih orang" batin ku.
Angkasa tersenyum manis saat melihat wajah ku yang cemberut.
"Jangan suka mengumpat, gak baik" kata Angkasa yang dapat mendengar suara hati ku.
Aku tak menggubris perkataan Angkasa.
"Dasar tukang ngambekkan" batin Angkasa yang melihat wajah ku terus di tekuk.
Pintu terbuka.
Bunda masuk dengan membawa kursi roda yang di dorongnya, bunda mendekati ku.
"Sini bunda bantu" kata bunda.
Pelan-pelan bunda mendudukkan ku di kursi roda yang telah di bawanya.
Angkasa melepas infusnya, dia membuang selimut yang menutupi tubuhnya lalu turun dari brankar.
"Yuk kita mulai, bisa gak sa?" tanya bunda.
"Bisa kok Bun" jawab Angkasa.
Kami bertiga melakukan penyelidikan tanpa ayah dan kedua sejoli yang sedang berada di sekolah.
Bunda mendorong kursi roda ku, kami semua saat ini sedang mencari keberadaan dokter Gladis.
"Ke mana dokter Gladis kok gak ada sih?" tanya ku celingukan mencari keberadaan dokter Gladis.
"Bunda coba mau tanya dulu ke suster, kalian tunggu di sini sebentar" kata bunda.
"Baik Bun" jawab kami.
Bunda melangkah meninggalkan mereka berdua.
"Eh sa itu bukannya ibu hamil salah satu pengikut dokter Gladis" tunjuk ku kepada ibu hamil yang berdiri di samping life.
"Iya itu salah satu pengikut dokter Gladis, yuk kita samperin moga aja dia bisa memberitahu apa yang saat ini kita inginkan" jawab Angkasa.
Angkasa mendorong kursi roda ku untuk mendekati ibu hamil itu.
"Tolongin aku hiks" teriak kesakitan sosok ibu hamil.
Belum sempat aku dan Angkasa bertanya sosok ibu hamil itu langsung menghilang.
"Loh kok ngilang, kenapa tiba-tiba ibu-ibu hamil itu menghilang saat kita sampai di sini" tak mengerti Angkasa.
"Kok aku makin penasaran ya sama sosok ibu hamil itu, belum juga kita bertanya apapun tentang kematiannya dia malah langsung pergi" kata ku.
"Kita akan cari tau tentangnya sampai kita mendapatkan informasi yang kita inginkan" jawab Angkasa.
"Itu harus, ayo kita kembali ke tempat yang tadi dan tunggu bunda kembali" ajak ku.
Angkasa mendorong kursi roda ketempat yang tadi.
"Hei udah lama nungguinnya?" tanya bunda menghampiri kami berdua.
"Gimana Bun udah nanya dokter Gladis ada di mana?" tanya ku tanpa menjawab pertanyaan bunda.
"Sia-sia dong bunda ke sana, aku saat jni sudah tidak sabar lagi untuk mengetahui motif sosok-sosok yang mengikuti dokter Gladis" kata ku.
Mata Angkasa melihat sesuatu yang menarik perhatiannya.
"Eh itu bukannya dokter Gladis" tunjuk Angkasa saat melihat seorang dokter yang di ikuti sosok-sosok menyeramkan di belakangnya.
Bunda mengernyitkan kening.
"Mau ngapain dokter Gladis ke sana?" tanya bunda.
"Ikutin yuk, barang kali kita bisa mencari tau tentang dokter Gladis dari salah satu pengikutnya" usul Angkasa.
"Iya, jika kita tidak bisa mendapatkan informasi dari manusia, kita kan masih bisa mencari tau segalanya dari sosok-sosok yang mengikuti dokter Gladis" jawab Ki setuju.
"Eh itu ibu hamil tadi memberi kode" tunjuk Angkasa.
"Iya, ayuk cepat ke sana nanti mereka keburu hilang" ajak ku.
Bunda mendorong kursi roda.
"Kita ikutin dari kejauhan aja, takutnya nanti dokter Gladis curiga akan keberadaan kita di sini" kata bunda.
"Iya gpp Bun, yang penting itu kita tidak kehilangan jejak dokter Gladis" jawab ku.
Kami mengikuti dokter Gladis dengan hati-hati.
Terlihat dari kejauhan dokter Gladis tengah masuk ke dalam sebuah ruangan.
Para sosok yang mengikuti dokter Gladis masih terus berjalan hingga sampai ke pintu belakang yang sepi.
Mereka semua berbalik melihat ke arah kami berdua.
"Tolongin kami" tintah mereka berbarengan.
Kami bertiga mendekati sosok-sosok yang berhenti tepat di depan kamar mayat.
Angkasa memperhatikan mereka semua dengan seksama.
"Aneh, kenapa di seluruh tubuh mereka semua tidak di temukan luka bekas kekerasan seseorang, eh itu apa kok ada busa di mulut mereka, sebenarnya mereka meninggal kenapa sih" batin Angkasa tak mengerti.
Wajah mereka semua pucat, di tubuh mereka tidak terlihat noda-noda darah ataupun goresan belati yang menandakan kalau mereka meninggal karena di bunuh, hanya saja di ujung bibir mereka terlihat ada busa yang tidak tau dari mana asalnya.
"Siapa kalian?" tanya ku penasaran.
"Nama saya Suparto dan ini istri saya Gendis, kami adalah bapak dan ibu Gladis" jawab pak Suparto dengan mata menatap lurus ke depan.
"Terus yang lainnya anaknya bapak juga?" tanya ku.
Pak Suparto dan istrinya menggeleng cepat.
"Saya nenek Sun, ini cucu saya Ningsih" tunjuk nenek Sun pada wanita hamil.
"Kalau saya Nela, teman Gladis dan ini namanya Rio" tunjuk mbk Nela pada anak kecil berusia sekitar 4 tahunan.
"Kami semua adalah ko-
Perkataan mereka terpotong.
"Kalian ngapain di sini" teriak seseorang dari belakang.
Kami bertiga terkaget kala mendengar suara itu.
"Siapa yang ada di belakang ku" batin ku.
"Apa orang di belakang tau yang kami lakukan, aduh bisa berabe ini" batin Angkasa gelisah.
Perlahan-perlahan kami berbalik menatap suara yang sudah menghancurkan segalanya.
"Eh dokter Gladis" senyum bunda.
"Kalian ngapain di sini?" tanya dokter Gladis kembali.
"Kita ke sini lagi mau melihat jasad saudara saya yang baru meninggal dua jam yang lalu dokter" alasan bunda berharap dokter Gladis memercayainya.
"Owh silahkan kalau mau melihatnya" suruh dokter Gladis.
Dokter Gladis masih berdiri di tempat menunggu kami semua masuk ke dalam kamar mayat.
Aku merasa dokter Gladis sama sekali tidak percaya dengan apa yang bunda katakan.