
Aku bernapas lega saat dukun beranak itu tidak melakukan apa-apa yang membuat kami kesusahan, dia hanya berdiri di tempatnya tanpa pergerakan.
"Untung dia gak ngikutin kita" senang ku yang benapas lega.
Senyuman yang tadi merekah di bibir ku langsung sirna saat mata ku menangkap nenek-nenek misterius yang tadi ku lihat saat mau berangkat sekolah tengah berdiri di pinggir jalan.
"Sa"
"Kamu jangan takut, ada aku di sini" Angkasa menenangkan ku yang ketakutan saat melihat nenek-nenek misterius itu yang seperti memiliki rencana jahat pada kami.
Aku membenamkan wajah ku pada punggung Angkasa karena aku tidak mau melihat wajah seramnya lagi.
Angkasa melajukan motor melewati nenek-nenek itu.
Reno yang berada di barisan paling belakang terkejut saat melihat nenek-nenek itu yang bergitu seram sekali.
"J-jadi nenek-nenek ini yang Dita maksud" batin Reno teringat pada peristiwa keanehan Dita saat di meja makan.
"Seram banget" batin Reno yang melihat tatapan maut yang terus nenek-nenek itu berikan padanya.
Alisa merasakan keberadaan makhluk halus di dekatnya, ia terus membenamkan wajahnya tanpa mau melihat seperti apa wajah makhluk halus itu.
Reno melajukan motor dengan kecepatan tinggi setelah melewati nenek-nenek itu.
Mereka berdua terus menambah kecepatan agar segera sampai di rumah.
Tak berselang lama dari itu motor berhenti tepat di depan rumah.
Aku langsung bernapas lega saat sudah sampai di rumah.
"Sana kalian masuk gih ke dalam kamar" suruh Angkasa.
Aku mengangguk."Za aku malam ini tidur bareng kamu ya"
"Ya udah ayo"
Alisa tersenyum senang lalu mengikuti ku masuk ke dalam kamar.
"Kalian dari mana saja?" Reno dan Angkasa menoleh ke arah Ustadz Fahri yang keluar dari dalam kamar karena mendengar suara motor.
"Kami habis nyelesain kasusnya Andin tadz" jawab Reno.
"Gimana selesai gak, dia itu meninggal kenapa, kenapa dia terus ngikutin kalian?" penasaran Ustadz Fahri.
"Di bunuh tadz, tapi kami masih belum tau siapa yang sudah bunuh dia" jawab Reno.
Ustadz Fahri mengerutkan alis."Katanya kalian sudah nyelesain kasusnya Andin, tapi kenapa kalian masih gak tau siapa pelakunya"
"Kami masih belum nyelesain semuanya, kami tadi hanya mencari jasadnya dulu, masalah pelakunya besok kami akan cari lagi, tadi itu waktunya gak cukup, nanti keburu larut malam kalau kami tetap maksain nyari pelakunya, bisa-bisa Andin gak di makamim karena kemalaman" jawab Angkasa.
"Oh jadi kalian pulang malam itu karena masih ikut nganterin Andin ke pengistirahatan terakhirnya" Ustadz Fahri sedari tadi cemas karena mereka masih belum pulang saat dia sampai di rumah.
"Iya tadz, mangkanya agak lama" jawab Reno.
"Ya sudah sana kalian istirahat gih, ini udah malam" suruh Ustadz Fahri.
Mereka mengangguk lalu masuk ke dalam kamar setelah menaruh motor di garasi.
Roy yang sedang kacau melajukan motornya menuju rumah.
Di sepanjang perjalanan ingatan tentang pertengkarannya dengan tante Dara terus berputar-putar di benak Roy.
"Kenapa tante Dara jahat banget, apa salah ku, kenapa dia gak suka sekali pada ku, aku tidak pernah melakukan hal yang membuatnya marah, tapi kenapa dia terus menerus berusaha untuk misahin aku sama Andin, dan sekarang kami beneran berpisah, berpisah untuk selamanya" batin Roy yang tak menyangka jika kini ia tidak akan bisa bertemu lagi dengan orang yang ia cintai.
"Andin kenapa kamu ninggalin aku, apa salah ku" batin Roy.
Air mata terus mengalir di sepanjang perjalanan.
Roy menyetir motor dengan tidak fokus karena ingatan di mana pertemuannya dengan Andin dan moment-moment penting yang ia lewati bersama Andin terus berputar di pikiran Roy.
"Kamu jangan dekati anak saya lagi" ingatan di mana tante Dara yang mengusir Roy saat ia mengantarkan Andin pulang ke desanya masih tersimpan rapi di pikiran Roy.
"Andin itu tidak butuh kamu" ingatan kejadian tadi kembali berputar-putar.
Di jalanan itu banyak sekali motor dan mobil yang satu arah dengan Roy.
Tiba-tiba ada truk pengangkut batu bara yang oleng.
"Awassss" teriak supir truk.
"Arrrrgghh"
Brukk
Truk itu menghantam tubuh Roy membuatnya terguling-guling di jalanan, dan berakhir menghantam trotoar hingga kepala Roy mengeluarkan darah.
"Andin" dalam keadaan seperti ini Roy masih sempat-sempatnya menyebut nama orang yang ia sayang.
"Andin j-jangan t-tinggalin aku" pandangan Roy mulai kabur, pelan-pelan kegelapan menyergapnya.
Tangisan dan teriakan terus terdengar akibat kecelakaan dahsyat itu.
Hening, tidak ada kebisingan yang terdengar di telinga lagi, semua orang memejamkan mata karena tak dapat menahan rasa sakit lagi.
Aku dan Alisa masuk ke dalam kamar lalu langsung merebahkan tubuh yang sudah lelah sekali di kasur.
Baru beberapa detik kami memejamkan mata telinga kami tak sengaja mendengar suara tangisan.
Hiks hiks hiks
Kami langsung membuka mata.
"Za kenapa ada suara orang nangis di tengah malam kayak gini?" Alisa menempelkan tubuhnya ke arah ku karena ketakutan.
"Jangan-jangan itu hantu" overthinking Alisa.
"Jelas itu hantu, ayo kita cari siapa hantu yang nangis itu dan apa yang dia inginkan sehingga datang ke sini"
"Gak mau, aku takut, kamu aja gih sana"
"Udah ayo" aku menarik paksa Alisa untuk ikut ngecek pemilik asal suara tangisan itu.
"Enggakkk"
"Ayo"
"Ih Liza aku kan gak mau, aku mau tidur gak mau ngurus hantu-hantuan lagi, aku capek"
"Udah jangan berisik ayo ikut" aku menyeret paksa Alisa ke balkon.
Hiks hiks hiks
"Andin"
Terkejut kami saat tau jika pemilik suara tangisan itu adalah Andin.
"Andin kenapa kamu nangis, ada apa?"
"Tolongin Roy"
"ROY, kenapa dengan Roy?"
"Roy kecelakaan hiks hiks hiks"
"APA"
Shock kami saat tau hal itu.
"Kenapa Roy bisa kecelakaan?"
"Dia kecelakaan di mana?"
"Di jalan kenangan, cepat kalian tolongin dia" tintah Andin.
Kami mengangguk lalu turun ke bawah dengan terburu-buru.
"Angkasa, Reno" teriak kami manggil mereka.
"Ada apa?" mereka terkejut ketika mendengar teriakkan kami dan langsung bergegas menghampiri kami.
"Roy kecelakaan"
"APA"
Terkejut mereka yang shock berat.
"Kok bisa Roy kecelakaan, kalian tau dari mana?"
"Andin barusan bilang sama kami kalau Roy kecelakaan di jalan kenangan, kita harus tolongin dia"
"Iya ayo"
"Kalian mau kemana?" Ustadz Fahri juga ikut keluar kamar ketika mendengar teriakan kami.
"Roy kecelakaan tadz, kami mau nolongin dia" jawab Reno.
"Ya sudah ayo kita tolongin dia"
Kami setuju lalu masuk ke dalam mobil, kemudian Ustadz Fahri melajukan mobil menuju tempat Roy kecelakaan.
"Za kenapa Roy bisa kecelakaan, apa dia ugal-ugalan di jalan" cemas Alisa.
"Aku juga gak tau sa"
"Aku dari tadi udah khawatir banget kalau Roy pulang sendiri, kalau tau hal ini akan terjadi, aku gak akan biarkan dia pulang sendiri dalam keadaannya yang kacau seperti itu" sesal Angkasa yang tak menyangka jika hal ini akan terjadi.
"Iya, tau gini kan tadi kita anterin Roy aja ke rumahnya, dan ini semua gak akan terjadi" Reno juga sangat menyesal telah membiarkan Roy pulang sendiri.
"Ini sudah terjadi, kita tidak bisa ngindarin lagi, kita doakan saja semoga Roy tidak apa-apa"
"Amin" jawab mereka.