The Indigo Twins

The Indigo Twins
Hantu pak Jarwo



Kami sampai di rumah pak Jarwo.


Gerbang rumah pak Jarwo tertutup rapat, keadaan di dalam rumah sepi, tidak ada seorang pun yang kami lihat, para pelayan yang bekerja di rumah pak Jarwo juga sudah tidak ada, mereka langsung pulang ke rumah masing-masing setelah pak Jarwo di makamim.


"Gak ada orang, apa kita langsung masuk aja?" Angkasa meminta pendapat yang lain.


"Langsung masuk aja, gak bakal ada orang yang marahin kita" jawab Alisa.


Kami semua setuju, lalu membuka pintu gerbang rumah pak Jarwo.


Setelah gerbang itu terbuka lebar, kami masuk ke dalam rumah pak Jarwo.


Aku menaburkan garam itu di halaman rumah pak Jarwo.


"Rani kamu di mana, Rani kamu ada di sini bukan, Rani ini kakak, kamu di mana dek" teriak Reno yang berusaha mencari Rani di halaman rumah pak Jarwo yang banyak barang-barang yang berserakan karena tak ada orang yang membersihkannya.


"Rani, kamu di mana"


"Rani, kamu ada di sini kan, kamu ada di mana"


"Rani"


Kami terus memanggil nama Rani berharap dapat menemukannya.


"Di sini gak ada tanda-tanda ada Rani, apa kita harus masuk ke dalam rumah pak Jarwo biar kita bisa tau apa di dalam ada Rani atau tidak?" Alisa merasa tidak yakin, ia melihat ke arah rumah pak Jarwo yang entah kenapa terlihat angker padahal baru aja di tinggal pemiliknya.


"Itu harus sa, kita harus cari Rani di rumah pak Jarwo juga, kita harus pastiin di sana ada Rani atau tidak" jawab Ustadz Fahri.


"Fahri" pandangan kami semua langsung tertuju pada seseorang yang berdiri di belakang Ustadz Fahri.


"Zaki, kenapa kamu ada di sini?" kaget Ustadz Fahri saat melihat Ustadz Zaki yang tiba-tiba berada di belakangnya.


"Aku mau nyari Rani juga, kalau masalah Indri ada mbk Rinda yang jagain dia, gimana apa kalian semua sudah berhasil nemuin Rani?"


Kami semua menggeleng kompak.


"Enggak tadz, Rani gak ketemu"


"Kalian sudah periksa di dalam rumah pak Jarwo?" penasaran Ustadz Zaki.


"Belum tadz, kami masih belum meriksa ke dalam" jawab Alisa.


"Ayo kita periksa ke dalam rumahnya, mudah-mudahan kita bisa bertemu dengan Rani" ajak Ustadz Zaki.


"Iya ayo" sahut Ustadz Fahri.


Angkasa membuka pintu rumah pak Jarwo, sepi dan sunyi, di rumah pak Jarwo benar-benar tidak ada siapapun, berbanding terbalik dengan keadaan tadi malam.


"Kok sepi ya" Alisa langsung memegang lengan ku, ia semakin ragu untuk masuk ke dalam rumah pak Jarwo.


"Di rumah ini memang sudah gak ada orangnya, jadi wajar kalau sepi, ayo kita masuk, kita harus cari Rani di dalam, kita harus bisa temuin dia" ajak Angkasa.


Kami semua melangkah masuk ke dalam rumah pak Jarwo yang sepi dan sunyi, hanya dentingan jam yang terdengar memecah keheningan.


"Rani, Rani kamu ada di mana" teriakan Reno memantul yang menandakan kalau rumah ini benar-benar kosong, tidak ada satupun orang yang berada di dalamnya.


"Rani kamu ada di mana, Rani kamu ada di sini kan" teriak Angkasa membantu Reno.


Tidak ada jawaban yang terdengar di telinga kami, rumah ini benar-benar sapi dan sunyi.


"Gak ada jawaban, apa iya Rani ada di sini?" tampak ragu Alisa yang terus memegang tangan ku.


"Aku yakin dia pasti ada di sini, ayo kita cari saja" jawab Angkasa.


"Gini aja, kita lebih baik pencar, kamu ke sana sama Reno, Ustadz Fahri sama Ustadz Zaki ke sana, aku sama Alisa biar ke sana"


"Aku gak setuju" jawab Alisa cepat.


"Kenapa, kenapa kamu gak setuju?"


"Ini masih siang sa, gak akan ada apa-apa kok, takut ataupun tidak, kali ini kita harus bisa lawan rasa takut itu, ini demi Rani sa"


"Iya deh aku setuju" jawab Alisa.


"Ayo kita pencar, kalau di antara kalian ada yang berhasil berjumpa dengan Rani, langsung kabarin" perintah Ustadz Zaki.


"Baik tadz" jawab kami semua kompak.


"Ayo kita pencar" ajak Ustadz Fahri.


Kami semua berpencar, aku dan Alisa mencari ke sebelah barat, Reno dan Angkasa ke utara, sedangkan Ustadz Fahri dan ke timur.


Aku mencari Rani bersama Alisa, aku membuka satu persatu kamar yang berada di dalam rumah pak Jarwo.


"Kosong, kok kamar ini kosong, di mana sebenernya pak Jarwo nyembunyiin Rani?"


"Za ini bukan pak Jarwo yang nyembunyiin Rani lagi, tapi hantunya, inget pak Jarwo sudah meninggal, kamu jangan sebut-sebut dia, nanti dia datang" pelan Alisa yang terus melihat sekeliling untuk berjaga-jaga.


"Enggak akan sa, pak Jarwo gak akan mun-


Perkataan ku tiba-tiba terhenti, wajah ku langsung memucat, aku menelan ludah pahit.


"Mun apa, kenapa kamu berhenti, apa yang kamu lihat?" penasaran Alisa.


"I-itu" tunjuk ku ke arah pak Jarwo yang memakai baju berwarna putih yang penuh dengan darah tengah berdiri di dekat pintu yang berjarak sekitar 2 meter dari posisi kami berdiri.


Alisa melihat ke arah apa yang aku tunjukkan, bertapa terkejutnya ia saat melihat darah yang keluar dari hidung, telinga, mulut dan kepala pak Jarwo.


"Arrrrgghh!"


Teriak kami yang berlari terbirit-birit meninggalkan pak Jarwo yang menatap tajam ke arah kami.


"Arrrrgghh tolong ada hantu!" teriak Alisa yang ketakutan.


"Arrrrgghh, tolong"


Langkah Ustadz Fahri langsung terhenti saat mendengar suara teriakan kami.


"Itu kayak suatanya Alisa sama Aliza"


"Arrrrgghh, tolong!"


"Iya, itu memang suara mereka, ada apa sama mereka ya?"


"Enggak tau, ayo kita samperin mereka" ajak Ustadz Zaki.


Ustadz Fahri setuju lalu berlari mencari kami.


"Arrrrgghh tolong!"


"Ada apa ini, kenapa kalian pada teriak-teriak?" penasaran Ustadz Fahri yang menangkap wajah kami yang ketakutan.


"U-ustadz tolong kami, t-tolong kami" aku dan Alisa berlindung di belakang Ustadz Fahri dan Ustadz Zaki.


"Ada apa, kenapa kalian kayak habis ketemu sama hantu?" merasa aneh Ustadz Zaki saat kami berdua bersembunyi di belakangnya.


"Tolong kami tadz, tolong kami" itu yang terus Alisa katakan sedari tadi.


"Maksud kalian apa, cepat kalian jelasin?" titah Ustadz Fahri.


"Tadz barusan kami ketemu sama pak Jarwo, dia seram banget, aku takut tadz" jawab Alisa dengan tergagap, tubuhnya bergetar karena ketakutan.


"PAK JARWO?"


Kedua Ustadz itu terkejut mendengar apa yang kami katakan.


"Iya tadz, di sana ada hantunya pak Jarwo, kami takut, dia seram banget" tunjuk ku ke arah barat yang di mana kami bertemu dengan hantu pak Jarwo yang menyeramkan.