The Indigo Twins

The Indigo Twins
Kematian pak Jarwo



Pak Jarwo di serang rasa panik, kini semuanya telah ketahuan dan ketahuannya tepat di depan semua orang.


"Gawat, aku harus pergi dari sini" batin pak Jarwo.


"Berhenti jangan lari!" teriak para warga yang melihat pak Jarwo berlari keluar dari mereka semua.


"Cepat kejar dia" perintah pak RT yang langsung panik saat pak Jarwo melarikan diri.


Sebagain warga-warga langsung mengejar pak Jarwo yang berlari kencang di bantu dengan polisi dan juga pak RT, sedangkan kami masih tetap berada di rumah pak Jarwo.


"Pak Jarwo berhenti, jangan pergi!"


Pak Jarwo semakin di serang rasa panik."Gawat, mereka ngejar aku, aku harus pergi dari sini, aku gak mau masuk penjara, aku tidak mau terkurung di dalam penjara, aku tidak mau, lebih baik aku mati saja dari pada masuk penjara"


Pak Jarwo terus berlari, warga-warga mengejarnya dari belakang.


Rasa panik dan tegang menyelimuti tubuh pak Jarwo saat dirinya tengah di kejar-kejar oleh warga-warga.


"Pak Jarwo jangan lari!"


"Berhenti pak!"


Pak Jarwo tidak mendengarkan dan terus berlari.


Mata pak Jarwo melotot tajam saat di depannya ada truk.


"Arrrrgghh"


Brukkk


Tubuh pak Jarwo terlempar jauh dan menghantam batu, darah langsung mengalir dengan deras di kepala pak Jarwo.


Orang-orang yang melihat pak Jarwo di tabrak berhenti berlari, mereka terkejut ketika melihat wajah pak Jarwo yang penuh dengan darah.


Truk itu berhenti, supir truk langsung keluar dan meminta maaf karena tak sengaja menabrak pak Jarwo.


Warga tidak ada yang bisa memutuskan, apakah supir truk itu bersalah atau tidak.


Mereka saat ini berjalan mendekati tubuh pak Jarwo yang sudah penuh dengan darah.


"Pak coba cek apa pak Jarwo masih hidup atau tidak" titah bu Weni.


Pak Rahmat meriksa denyut nadi pak Jarwo."Innalilahi wa innailaihi roji'un, pak Jarwo sudah meninggal"


Mereka semua menutup mulut tak percaya, orang yang barusan mereka kejar kini sudah menjadi mayit.


"Innalilahi wa innailaihi roji'un"


"Pak tolong bawa pak Jarwo ke rumahnya lagi" titah pan RT.


"Baik pak RT"


Warga mengangkat jenazah pak Jarwo yang matanya masih melotot tajam, agak ngeri melihat jenazah pak Jarwo yang matanya masih melotot tajam seperti itu.


Orang-orang yang berada di rumah pak Jarwo tertegun saat melihat pak Jarwo yang sudah tidak bernyawa dan tubuhnya penuh dengan darah.


"Kenapa dengan pak Jarwo pak RT?" penasaran Alisa langsung mendekati warga-warga itu yang meletakkan pak Jarwo di ruang tamu.


"Pak Jarwo di tabrak truk, sekarang dia sudah meninggal" jawab pak RT.


"Innalilahi wa innailaihi roji'un" terkejut kami ketika tau hal itu.


"Bapak-bapak tolong urus jenazah pak Jarwo, malam ini kita harus makamin beliau, kasihan jenazah beliau kalau tidak segera di makamin" titah pak RT.


"Baik pak RT" setuju para warga.


Sebagian warga khususnya yang berjenis kelamin laki-laki berangkat menuju kuburan untuk menggali kuburan, sebagiannya lagi mengurus jenazah pak Jarwo.


Di saat semua warga pada sibuk, mata ku melihat ke arah mbk Indri palsu yang wajahnya tampan marah ketika semuanya kini telah terungkap.


Dia melototkan matanya ke arah ku kemudian menghilang begitu saja.


Aku tidak mengatakan apapun, aku hanya diam, orang-orang yang ada di rumah pak Jarwo juga tidak ada yang melihat apa yang barusan aku lihat.


Warga-warga mulai memandikan jenazah pak Jarwo.


Badrul, Selamat dan Hamid adalah ketiga orang yang memang menjadi tukang memandikan jenazah di desa selama ini.


Badrul menatap ke arah pak Jarwo yang matanya melotot tajam, walaupun terus berusaha di tutup, tetapi tetap saja tidak bisa.


Darah yang keluar dari mulut, hidung dan juga telinga terus mengalir membuat mereka bertiga sedikit ngeri saat ingin memandikan jenazah pak Jarwo, apalagi saat ini tengah gelap, dan itu semua membuat mereka menjadi merinding.


Badrul menelan ludah pahit saat melihat mata seram milik pak Jarwo."Apa yang sebenarnya pak Jarwo lihat ya, kenapa matanya gak bisa di tutup?"


"Kayaknya dia melihat neraka, dia kan orang jahat, buktinya banyak sekali mayat-mayat yang berada di rumahnya, sekarang palingan dia lagi melihat neraka yang akan ia tempati" sahut Selamet yang geram sekali pada pak Jarwo.


"Sudah, jangan pada bahas pak Jarwo, dia sudah meninggal, jangan di omongin lagi" lerai Hamid.


"Tapi mid pak Jarwo itu sudah keterlaluan, dia sudah nyembunyiin banyak mayat di rumahnya sampai-sampai ada yang sudah berubah menjadi tengkorak saking lamanya berada di rumah pak Jarwo" kesal Selamet.


"Kalian curiga gak siapa saja mayat-mayat itu?" mereka berdua mulai berpikir ketika mendengar ucapan Badrul.


"Mereka pasti warga di desa ini juga" sahut Hamid.


"Tapi siapa, di antara kita gak ada yang kenal sama mayat-mayat itu?" mereka berdua kembali berpikir saat mendengar ucapan Selamet.


"Apa mungkin mayat-mayat itu adalah warga-warga yang hilang di hutan, kan pak Jarwo orang yang pertama kali bilang kalau siapa saja yang masuk ke dalam hutan tidak akan bisa keluar, kalian masih ingat kan pada ucapan pak Jarwo?" curiga Badrul.


"Iya, tapi masa pak Jarwo yang sudah bikin mereka semua meninggal" merasa tak percaya Selamat.


"Bisa aja, dia kan jahat, kalau dia gak jahat dia gak bakal nyimpen mayat-mayat itu di rumahnya" sahut Hamid.


Tiba-tiba Badrul berhenti mengobrol.


"Ada apa drul, kenapa kamu tiba-tiba diam?" penasaran Hamid.


"Kalian dengar bau kembang gak?"


Mereka berdua mencoba mengendus keadaan sekitar.


"Iya, ada bau kembang di sekitar sini" jawab Selamet.


"Tadi dari mana asalnya?" penasaran Hamid.


Mereka berdua tidak menjawab dan terus saja mengendus untuk mencari tau di mana asal bau kembang itu.


Mereka bertiga terbelalak saat melihat dua pak Jarwo, satunya masih terbaring di pemandian, satunya lagi berdiri di pojok pemandian dengan mata melotot.


"P-pak J-jarwo" tergagap Badrul yang tiba-tiba gemetaran.


Pak Jarwo memberikan tatapan terserapnya pada mereka, darah yang mengalir di wajah membuat mereka menelan ludah pahit.


"Arrrrgghh hantu" teriak mereka bertiga kompak.


Mereka langsung berlari menjauh dari pemandian.


"Hantu"


"Arrrrgghh"


Mereka terus berteriak membuat warga-warga yang mendengar langsung berkerumun.


"Ada apa, kenapa kalian teriak?" kaget pak RT yang langsung mendekati pada mereka.


"P-pak RT, pak Jarwo jadi hantu" jelas Badrul dengan gagap.


"Jadi hantu, itu tidak mungkin, pak Jarwo saja belum di makamin masa langsung jadi hantu" tak percaya pak RT.


"Beneran pak RT, pak Jarwo jadi hantu, kami melihat dengan jelas penampakan pak Jarwo" Selamet gemetaran, ia benar-benar takut pada hantu pak Jarwo yang baru saja di lihatnya.