
"Ayo kita jalan lagi" ajak Angkasa tanpa aba-aba langsung berlari dari duduknya.
Aku terkejut mendengar itu semua.
"Kita mau jalan kemana sa, di sini aja, kita tungguin bus lewat, dari pada jalan, lebih baik naik bus, biar gak terlalu capek" jawab ku.
"Apa iya nanti bakal ada bus yang lewat di sini, liat aja jalanan ini seperti jalanan mati tau, tidak ada tanda-tanda akan ada bus atau orang yang lewat, lebih baik kita jalan aja lagi" kata Angkasa tak yakin.
"Gak mau, kita tunggu aja dulu bus yang lewat, aku udah capek jalan terus sa, kaki aku sakit" jawab ku.
"Emang ada bus yang lewat nantinya?" tanya Angkasa yang masih tidak yakin.
"Mungkin aja, kita tungguin aja dulu, kalau sampai tak ada bus yang datang, terpaksa kita harus jalan lagi agar bisa segera pulang ke rumah" jawab ku.
Angkasa menuruti ku, ia kembali duduk di samping ku.
"Matahari kok gak muncul-muncul ya, sku ngerasa jika subuh ini gak selesai-selesai, biasanya kan waktu subuh singkat, gak sepanjang ini?" tanya Angkasa yang merasa sangat aneh dengan segalanya.
"Iya, aku juga ngerasa gitu, sebenarnya kita ini ada di mana sih, kenapa aneh sekali, di antara banyaknya tempat-tempat yang sudah kita lewati, gak ada satupun yang aku kenali, semuanya sangat-sangat asing" jawab ku.
"Gimana ini, kalau kayak gini terus, kita gak akan bisa sekolah hari ini" kata Angkasa yang masih memikirkan tentang sekolahan.
"Jangankan sekolah, kita bisa pulang ke rumah saja sudah bersyukur sekali" kata ku.
"Tapi za, aku mau sekolah, aku gak mau ketinggalan pelajaran" kata Angkasa.
"Aku juga gak mau sa, tapi mau bagaimana lagi, kita harus tetap diam di sini nungguin bus, biar kita bisa minta anter ke rumah" jawab ku.
"Oke kita tunggu aja bus datang dulu, kalau gak datang-datang kita tunggu matahari terbit, baru kita lanjut jalan lagi agar kita tidak semakin tersesat" setuju Angkasa.
Kami berdua melihat ke arah langit yang masih gelap gulita seperti masih pukul 12 malam.
"Kenapa aku ngerasa kalau saat ini masih jam 12 malam ya" kata ku.
"Aku juga ngerasa gitu, tapi anehnya kita sudah sholat subuh, namun sampai sekarang masih belum ada tanda-tanda matahari akan terbit" jawab Angkasa.
"Sebentar-sebentar aku mau nanya" kata ku.
"Nanya apaan?" tanya Angkasa.
"Pas kamu berangkat ke masjid kamu ngelihat ada orang gak di jalan?" tanya ku.
"Enggak, jalanan menuju masjid sepi banget, kagak ada satu orang pun yang aku lihat" jawab Angkasa.
"Kamu gak merasa curiga gitu?" tanya ku.
"Awalnya ada, tapi tadi itu aku berpikir kalau mereka itu masih belum bangun, ya udah aku lanjut jalan lagi dan menemukan kamu lagi sholat sendirian di masjid, awalnya aku berpikir kamu itu hantu, mangkanya aku megang bahu kamu buat mastiin" jawab Angkasa.
"Tega banget kamu berpikir kayak gitu, orang udah jelas-jelas tadi itu aku yang bangunin kamu, masa masih berpikir aku hantu" kata ku tak terima Angkasa ngatain aku hantu.
"Ya aku mana tau, aku kira kamu gak ke masjid gitu, mangkanya aku waspada" jawab Angkasa.
"Kamu ngerasa gak kalau jalanan menuju ke masjid berubah?" tanya ku.
"Kok masa sih kayak yang aku alami, aku awalnya ngerasa aneh dengan jalanan yang benar-benar sepi, aku kira warga sudah pada berada di masjid, tapi saat aku sampai di sana gak ada satu orangpun, aku tanpa berpikir apapun menunaikan sholat tahajud, pas aku sujud, ada orang yang ikut suhud di belakang aku" kata ku sangat terkejut kala ingat dengan kejadian itu.
"Kamu lihat gak wajahnya?" tanya Angkasa.
"Lihat, wajahnya itu putih banget kayak tepung, pas dia sujud, pelan-pelan tubuhnya menghilang sedikit demi sedikit, kamu tau gak siapa dia" jelas ku.
"Siapa lagi kalau bukan syaiton" jawab Angkasa.
"Gak ada yang lain sih, memang dia yang pasti gangguin aku pas sholat" kata ku.
"Untung kamu gak di cekik sama hantu yang ikut sholat bareng kamu" kata Angkasa.
"Yah gak mungkin lah sa, aku kan gak gangguin dia, dia tidak akan melakukan itu pada ku" jawab ku.
"Kalau sumpamanya dia punya dendam pribadi sama kamu dan ngelakuin itu semua, apa yang akan kamu lakukan?" tanya Angkasa.
"Aku cekik balik apa susahnya sih" jawab ku.
"Emang kamu berani, tadi aja dengar suara kuntilanak udah teriak, gak yakin aku kalau kamu bisa nyekik hantu itu" kata Angkasa meremehkan.
"Berani, aku gak takut sama dia, aku akan berusaha sekeras mungkin menahan rasa takut ku demi nyawa ku" jawab ku.
"Halah gak yakin aku" kata Angkasa masih meremehkan diri ku.
"Aku berani, aku berani, aku berani" kata ku memukul dadanya biar dia tau rasa.
"Adooi sakit" pekik Angkasa dengan di iringi tawa.
Aku terus memukul dadanya, aku sudah geram sejak tadi karena dia terus menerus mengganggu ku yang membuat emosi ku terus naik.
"Cukup, cukup, sakit za, hentikan" tintah Angkasa.
Aku berhenti, wajah ku cemberut karena kesal sekali dengannya yang terus menghina ku.
"Jangan ngambek, aku cuman bercanda kok" kata Angkasa.
"Iya" jawab ku.
"Kok masih belum ada tanda-tanda ada orang dan bus yang lewat?" tanya Angkasa yang sudah mulai lelah berada di tempat ini sejak tadi.
"Gak tau juga, kita tunggu aja dulu" jawab ku.
Kami berdua duduk diam di tempat dengan terus menunggu kedatangan bus yang kami harapkan.
Lambat laun rasa bosan mulai menghampiri kami.
Kami duduk di kursi, duduk di bawah, duduk di tengah jalan sudah kami lakukan tapi tetap saja tidak ada bus yang datang.
"Ish capek, kemana sih tuh bus, kok gak lewat-lewat, aku sudah lelah dengan keadaan ku saat ini, oh matahari kemana kau, segera datang lah, aku gak gigit kok, aku gak akan marah plis datanglah, aku mau pulang capek" teriak ku yang sudah lelah menungggu tanpa kepastian seperti saat ini.
"Sabar za, bukan kamu doang yang capek, aku juga, tapi ya mau gimana lagi, tak ada jalan keluar apapun, aku juga ingin sekali cepat-cepat sampai rumah, tetapi aku sudah lelah berjalan kaki karena pastinya di jalan kita akan kembali bertemu lagi dengan hantu-hantu yang akan membuat kita tambah lelah lagi nantinya" jawab Angkasa trauma dengan gangguan yang tak kunjung berhenti juga.