
Angkasa dan Reno sedang sibuk mengangkat kursi dan meja makan dan di letakkan di samping kolam renang.
Aku dan Alisa meletakkan ikan bakar serta ayam bakar di atas meja.
Kami semua duduk di meja makan, aku duduk di samping Angkasa yang, aku mengambil ikan bakar yang sudah matang, mencubit sedikit daging ikan bakar lalu memasukkan ke dalam mulut ku.
Aku memejamkan mata saat tubuh ikan mas begitu sangat lezat dan empuk yang terasa di dalam mulut ku.
"Enak bangett, tak di sangka-sangka jika ikan mas yang sudah aku pelihara bisa selezat ini rasanya" kata ku.
"Iya" jawab Alisa.
Aku terkekeh melihat mulut Rani yang penuh dengan ikan hingga belepotan kemana-mana.
"Pelan-pelan nanti keselek" kata ku.
Rani tersenyum dengan mulut yang penuh dengan daging ikan di dalamnya.
Mata ku beralih pada Angkasa yang tengah mengambil paha ayam bakar.
"Berdua" kata ku langsung mengambil ayam yang baru saja Angkasa potong dan meletakkannya piring.
Mau tak mau Angkasa harus berbagi dengan nyonya besar di sampingnya.
"Iye" jawab ku.
Kami berdua makan dalam satu piring dengan sangat lahap.
"Halo-halo minta perhatiannya dulu" kata Alisa.
Kami semua menghentikan acara makan lalu menoleh ke asal suara.
Entah apa yang akan di lakukan oleh kembaran ku sehingga menghentikan acara makan-makan yang berlangsung.
Alisa berdiri sambil memegang kamera milik ku, kami semua menatap Alisa dengan penuh tanda tanya.
"Kita foto dulu" kata Alisa tersenyum melihat wajah kami.
"Ayo-ayo aku yang fotoin" kata Reno antusias ingin memfotokan kami semua dengan kamera yang saat ini di pegang oleh Alisa.
"Enggak kamu harus ikut juga" kata Alisa lalu meletakkan kamera di tongkat, menekannya lalu dengan cepat ia kembali duduk di samping Reno.
ckrik ckrik ckrik
"Berdiri" tintah Alisa.
Kami semua berdiri berjajar rapi, yang cewek berada di depan sedangkan yang cowok di belakang, mereka berganti-ganti pose sesuai yang Alisa suruh.
"Rani di depan" kata Rani.
Gadis cilik itu tak mau berada di samping Alisa, ia memilih berada di paling depan karena takut tidak kelihatan.
Aku dan Angkasa berpose dengan dua jari, terakhir mereka ber-selfie ala-ala lebaran idul Fitri dengan kedua telapak tangan menempel di depan dada.
Banyak foto telah di ambil di acara makan malam keluarga besar Qieansyah dan itu akan menjadi kenangan terbaik nantinya.
Suasana makan malam bertambah indah karena hari ini bulan hadir menemani kami dari atas langit di sertai dengan bintang bertaburan menghiasi langit.
Sungguh malam ini begitu indah bagi kami yang sedang bahagia.
"Akak Lisa Rani kurang" tintah Rani.
Alisa mengambilkan ikan bakar serta menambahkan nasi ke piring Rani.
"Nih makan yang banyak biar cepat besar" kata Alisa.
"Makasih akak" senyum Rani mengambang saat ikan bakar yang begitu lezat itu sudah ada lagi di piring kosongnya.
"Ayah mau nambah?" tanya bunda juga melihat piring ayah yang sudah ludes tak tersisa walau sedikitpun sama seperti punya Rani.
Ayah mengangguk, bunda memasukkan ikan dan juga nasi ke dalam piring ayah, kami semua bercengkrama dan saling bercanda.
Keluarga Qieansyah makan dalam lahap hingga ikan-ikan serta ayam bakar ludes tak tersisa walau sedikitpun.
"Enak gak Rani?" tanya Alisa melirik Rani yang sedang meminum jus jeruk.
"Enak bingit" jawab Rani.
Kami terkekeh melihat bocah cilik itu sangat lahap dalam memakan ikan-ikan dan ayam bakar dengan bumbu rahasia yang bunda miliki.
"Kapan-kapan kita makan-makan kayak gini lagi" kata bunda.
"Iya, sekarang nanti ajak bapak sama ibu dan om kalian juga, biar tambah rame" kata ayah.
"Ayo kita bersihin ini dulu" ajak ayah.
Kami semua memberesakan segalanya, mulai dari mencuci piring, mengelap meja dan meletakkan kembali meja dan kursi ke tempatnya.
Setelah itu baru kami masuk ke dalam kamar masing-masing untuk beristirahat.
Pagi pun tiba.
Setelah selesai sarapan kami berangkat ke sekolah.
Sampai di sekolah.
Alisa dengan langkah santai masuk ke dalam kelasnya.
"Loh kok tumben tuh bocah, kok gak ada" batin Alisa yang tak melihat Dava di tempatnya.
Biasanya Dava datang lebih awal dari dirinya.
Senyum jahil terukir di wajah pemuda yang kini berdiri di belakang Alisa yang kebingungan mencari dirinya dan-
"Door" teriaknya.
"Arrgghhh, ish sialan" pekik Alisa terkaget dengan ulah Dava yang hampir saja membuat jantungnya copot.
Dia langsung memukul Dava dengan sangat keras.
Dava terkekeh melihat wajah Alisa yang sudah kesal di buatnya.
"Nyariin aku ya?" tanya Dava dengan mencubit hidung Alisa dengan sangat gemas.
Alisa menepis tangan Dava.
"Ish sapa juga yang nyariin pd amat" jawab Alisa bohong.
Alisa tak mau pemuda itu tau jika dia mencarinya, bisa-bisa rasa percaya diri Dava meningkat.
Dava menarik nafas panjang.
"Puas-puasin aja liat aku sekarang karena nanti aku bakal pergi" kata Dava pelan.
Alisa tak yakin kala mendengar hal itu.
Alisa mengerutkan alis.
"Pergi? pergi kemana?" tanya Alisa.
"Eeaa kepo nih yee" kata Dava.
Alisa menghela nafas, sungguh pemuda di depannya ini benar-benar membuatnya kesal pagi-pagi.
"Auah bodo amat" kata Alisa lalu duduk di tempatnya.
Dava juga duduk di samping gadis yang tengah ngambek karena dirinya.
"Jangan ngambek, aku beneran akan pergi setelah ini" kata Dava dengan suara serius.
"Pergi kemana?" tanya Alisa mengulangi pertanyaannya, ia menatap mata Dava dengan penuh tanda tanya.
"Aku mau ngelanjutin studi di luar negeri, sebenarnya aku gak mau, tapi ya gini, setuju tidak setuju aku harus ikut" jawab Dava.
Keluarga Salfanza ingin menjauh dari keluarga Pakerlimo, mereka trauma dengan segala yang sudah terjadi
Wajah Alisa menjadi suram kembali kala mendengar hal itu.
Entah kenapa tanpa si manusia aneh ini semuanya tak akan asyik seperti saat bersamannya, sungguh setelah ini Alisa akan kesepian jika tak ada lagi orang yang akan membuatnya kesal di dalam kelas.
"Hmm gitu kapan berangkannya?" tanya Alisa.
"Besok aku akan berangkat, hari ini adalah hari terakhir aku sekolah di sini" jawab Dava.
Dava tak menyangka jika pertemuannya dengan Alisa akan sangat singkat kini ia di pisahkan oleh jarak yang begitu jauh.
"Kamu akan netap di sana?" tanya Alisa.
"Enggak tau, setelah aku dewasa aku bakalan lamar kamu" jawab Dava.
Dava yakin jika ia akan mencari gadis ini setelah ia dewasa dan itu semua atas seizin yang di atas, jika yang di atas merestui, mereka juga akan bersatu dengan pertemuan yang tak bisa mereka bayangkan.
Alisa tak menganggap serius perkataan Dava.